By: Ahmad Jais / Dosen Studi Agama-Agama Fakultas Ushuluddin dan Adab IAIN Pontianak, Kaimantan Barat, Founder & Master Trainer : Mind Healing Technique of Indonesia. www.mhtindonesia.com
"Semua sungai bermuara pada laut yang sama, sebagaimana semua doa yang tulus bermuara pada Sang Pencipta yang sama." (Jalaluddin Rumi, 1207-1273 M)
Musim kemarau panjang telah melanda sebagian besar wilayah Kalimantan. Tanah yang biasanya lembab kini retak, sumber-sumber air menyusut, dan lahan gambut yang mengering menjadi sangat rentan tersulut api.
Dari kekeringan inilah kebakaran hutan dan lahan meluas dengan cepat, menghanguskan ribuan hektare dalam hitungan minggu. Akibatnya, langit di berbagai kota tak lagi biru, melainkan kelabu diselimuti kabut asap tebal.
Udara yang seharusnya menjadi sumber kehidupan kini berubah menjadi ancaman, anak-anak batuk di malam hari, lansia kesulitan bernapas, dan rumah sakit dipenuhi pasien infeksi saluran pernapasan akut.
Di tengah krisis semacam ini, sekat-sekat keyakinan seringkali runtuh dengan sendirinya; muslim, kristiani, hindu, buddha, dan penganut kepercayaan lokal sama-sama merasakan sesak yang sama, dan sama-sama menengadahkan harap kepada Yang Mahakuasa agar hujan segera turun.
Sejarah mencatat, hampir setiap tradisi keagamaan pernah menghadapi masa kekeringan panjang serupa, dan masing-masing meresponsnya dengan bahasa doa yang berbeda, namun tujuannya satu: memohon rahmat langit kembali membasahi bumi.
Dalam tradisi Yahudi dan Kristen, dikisahkan Nabi Elia yang berdoa memohon hujan setelah masa kekeringan panjang melanda Israel akibat penyembahan berhala, sebagaimana tercatat dalam Kitab 1 Raja-Raja pasal 18 : ia naik ke puncak Gunung Karmel, bersujud, dan berdoa dengan sungguh-sungguh hingga akhirnya hujan lebat turun membasahi tanah yang lama mengering.
Dalam tradisi Hindu, kitab-kitab Veda menyebut Dewa Varuna dan Parjanya sebagai penguasa air dan hujan, yang dimohon melalui puja dan mantra ketika kekeringan mengancam ladang-ladang dan kehidupan masyarakat agraris.
Semua ini menunjukkan bahwa sejak dahulu, manusia lintas keyakinan telah mengenal satu kebenaran yang sama: hujan bukan sekadar fenomena alam, melainkan anugerah yang harus dimohon dengan kerendahan hati di tengah keterbatasan manusia menghadapi kekeringan.
Dalam Islam sendiri, Rasulullah saw mencontohkan shalat istisqa' tatkala Madinah dilanda kekeringan panjang yang mengancam sumber air dan hasil bumi.
Dari Ibnu Abbas ra diriwayatkan bahwa Nabi saw keluar bersama umatnya dengan penuh kerendahan hati, melaksanakan shalat dua rakaat, lalu berdoa memohon hujan (HR. Bukhari dan Muslim).
Dan Kami turunkan dari langit air yang memberi berkah, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu pohon-pohon dan biji-biji tanaman yang diketam." (QS. Qaf: 9).
Ayat ini bagai nyanyian lembut yang mengingatkan bahwa setiap tetes hujan adalah benih kehidupan yang menghidupkan kembali tanah yang mengering, dan setiap kehidupan yang tumbuh adalah bukti kasih sayang Allah yang tak pernah putus, meski manusia sering lupa untuk bersyukur.
Dikisahkan tentang Umar bin Khattab ra yang ketika memimpin doa istisqa' di masa kekeringan Madinah, tidak hanya berdoa untuk umat Islam semata, melainkan menunjukkan kepedulian menyeluruh terhadap seluruh penduduk, termasuk yang berbeda keyakinan dengannya.
Ia pernah berkata kepada para sahabatnya, "Sesungguhnya bumi ini adalah amanah bagi seluruh makhluk yang hidup di atasnya, bukan hanya bagi kita." Perkataan ini mengajarkan bahwa kepedulian terhadap krisis lingkungan: mulai dari kekeringan hingga kebakaran dan kabut asap yang kini melanda Kalimantan seharusnya melampaui sekat agama dan golongan.
Rasulullah saw bersabda, "Seluruh manusia adalah keluarga Allah, dan yang paling dicintai Allah di antara mereka adalah yang paling bermanfaat bagi keluarga-Nya" (HR. Al-Baihaqi). Hadis ini menegaskan bahwa kebermanfaatan bagi sesama manusia yang tengah kesulitan bernapas akibat asap, tanpa memandang latar belakang keyakinan, adalah wujud cinta yang paling dicintai Allah.
Di era digital saat ini, krisis kekeringan dan kabut asap sering menjadi ajang saling menyalahkan antarwilayah, antarkelompok, bahkan antaragama di media sosial seolah bencana alam bisa diselesaikan dengan saling tuding.
Rasulullah saw mengingatkan, "Orang mukmin bukanlah orang yang suka mencela, melaknat, berkata keji, atau berkata kotor" (HR. Tirmidzi). Peringatan ini sangat relevan agar krisis kemanusiaan tidak justru dijadikan ladang perpecahan di dunia maya.
Hendaknya dijauhi sikap saling menghujat dan mencari kambing hitam di tengah bencana bersama, karena hal ini termasuk fitnah yang justru memperkeruh keadaan dan menjauhkan dari solidaritas yang seharusnya dibangun saat menghadapi kekeringan dan dampaknya.
Allah berfirman, "Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran." (QS. Al-Ma'idah: 2).
Inilah solusi yang diajarkan bahwa di tengah krisis lintas agama seperti kekeringan dan kabut asap ini, kolaborasi dan kepedulian bersama adalah jalan terbaik, terlepas dari perbedaan keyakinan.
Sebagaimana hujan yang tidak pernah memilih tanah mana yang boleh dibasahinya, begitu pula rahmat Allah turun tanpa memandang sekat suku, bangsa, maupun agama bagi siapa saja yang bersungguh-sungguh memohon dengan hati yang tulus di tengah tanah yang mengering.
Kelak setiap doa yang dipanjatkan lintas keyakinan demi kebaikan bersama akan menjadi saksi kepedulian yang dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.
Ya Allah, angkatlah kekeringan ini dari bumi Kalimantan, padamkanlah api yang membakar hutan dan lahan, serta angkatlah kabut asap yang menyelimuti udara kami.
Satukanlah hati kami yang berbeda keyakinan dalam kepedulian menghadapi bencana ini, sehatkanlah saudara-saudara kami yang tengah kesulitan bernapas, dan turunkanlah hujan rahmat-Mu yang membasahi bumi serta menyucikan hati kami. Amin. (*)