By: Ahmad Jais / Dosen Studi Agama-Agama Fakultas Ushuluddin dan Adab IAIN Pontianak, Kaimantan Barat, Founder & Master Trainer : Mind Healing Technique of Indonesia. www.mhtindonesia.com
"Ujian yang menimpa hamba bukanlah tanda kemurkaan, melainkan panggilan agar ia kembali menengadahkan wajah kepada Sang Pemberi Udara dan Kehidupan." (Ibn 'Arabi, 1165-1240 M)
Hari-hari ini, warga Kalimantan Barat bangun pagi bukan disambut udara segar, melainkan kabut kelabu yang menggantung rendah di atas atap-atap rumah.
Anak-anak batuk di tengah malam, orang tua menahan sesak saat berjalan ke luar rumah, dan jarak pandang yang memendek membuat aktivitas sehari-hari terasa berat dilakukan.
Kualitas udara di Pontianak tercatat masuk kategori buruk dengan jarak pandang di bawah 1 kilometer, sementara rumah sakit dan puskesmas mencatat kenaikan pasien ISPA hingga 30 persen, yang didominasi anak sekolah dan lansia.
Situasi seperti ini bukanlah hal asing dalam sejarah manusia, para nabi dan orang saleh pun pernah menghadapi masa-masa ketika udara, air, dan bumi tidak lagi bersahabat, dan yang mereka lakukan pertama kali bukanlah putus asa, melainkan kembali menengadahkan tangan kepada Allah.
Rasulullah saw mengajarkan umatnya untuk senantiasa memohon perlindungan dari udara yang membawa bahaya. Dari Aisyah radhiyallahu 'anha, diriwayatkan bahwa ketika angin bertiup kencang, Nabi saw berdoa,
"Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu kebaikannya dan kebaikan yang dibawanya, dan aku berlindung kepada-Mu dari kejahatannya dan kejahatan yang dibawanya" (HR. Muslim).
Sikap ini menunjukkan bahwa Nabi tidak pernah mengabaikan perubahan alam, melainkan menjadikannya momentum untuk semakin dekat kepada Allah, sembari tetap berikhtiar menghadapinya.
"Dan Dialah yang mengirimkan angin sebagai pembawa kabar gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan)." (QS. Al-A'raf: 57).
Ayat ini bagai pengingat lembut bahwa di balik udara yang kini terasa berat untuk dihirup, Allah tetap menyimpan janji rahmat sebagaimana malam yang paling gelap sekalipun akan berakhir pada fajar yang membawa udara baru.
Dikisahkan tentang Khalifah Umar bin Khattab ra yang pernah mengalami masa Ramadah, tahun paceklik dan bencana alam yang melanda Madinah.
Ketika kondisi begitu berat hingga banyak yang mengeluh, Umar tidak hanya berdiam diri; ia turun langsung menemani rakyatnya, membagikan bantuan dengan tangannya sendiri, sembari berkata, "Demi Allah, seandainya seekor keledai tergelincir di jalan-jalan Irak karena jalan yang rusak, aku khawatir Allah akan menanyakannya kepadaku: mengapa engkau tidak meratakan jalan baginya, wahai Umar?"
Perkataan ini mengajarkan bahwa kepedulian terhadap penderitaan sesama, termasuk mereka yang sesak napas akibat asap, adalah bagian dari tanggung jawab yang akan dipertanyakan Allah kelak. Rasulullah saw bersabda,
"Barangsiapa meringankan satu kesulitan seorang mukmin di dunia, Allah akan meringankan kesulitannya di hari kiamat" (HR. Muslim).
Hadis ini menegaskan bahwa membantu saudara yang terdampak asap, baik dengan doa, masker, bantuan kesehatan, maupun sekadar menjenguk yang sakit, adalah amal yang tidak akan sia-sia di sisi Allah.
Di era digital saat ini, ketika bencana asap melanda, media sosial sering dipenuhi keluhan tanpa henti, saling menyalahkan pihak lain, bahkan menyebarkan informasi yang belum tentu benar demi menarik perhatian. Rasulullah saw mengingatkan,
"Cukuplah seseorang dianggap pendusta apabila ia menceritakan setiap apa yang ia dengar" (HR. Muslim)
Sebuah peringatan agar kita berhati-hati menyebarkan kabar yang belum pasti kebenarannya di tengah kepanikan masyarakat.
Hendaknya dijauhi sikap saling mencela dan mencari kambing hitam yang justru memperkeruh suasana, serta dijauhi pula sikap berputus asa yang mendekati buruk sangka kepada rahmat Allah, sebab keluh kesah yang berlebihan tanpa upaya nyata bukanlah sikap seorang hamba yang beriman. Allah berfirman,
"Dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir" (QS. Yusuf: 87).
Inilah sikap ideal yang diajarkan, tetap berikhtiar menjaga kesehatan, membantu sesama, sembari hati tetap yakin bahwa langit yang kini kelabu oleh asap suatu hari akan kembali biru dan bersih.
Sebagaimana hujan yang menyucikan bumi dari debu setelah kemarau panjang, begitu pula doa dan kesabaran akan menyucikan hati dari keluh kesah, hingga suatu hari udara yang segar kembali memenuhi dada setiap insan.
Kelak setiap napas yang kini terasa berat, dan setiap kesabaran menghadapinya, akan menjadi saksi di hadapan Allah tentang bagaimana seorang hamba menyikapi ujian-Nya.
Ya Allah, angkatlah kabut asap ini dari bumi Kalimantan Barat, sehatkanlah saudara-saudara kami yang tengah berjuang menahan sesak, dan turunkanlah hujan rahmat-Mu yang membersihkan udara serta hati kami. Kuatkanlah kesabaran kami dan jadikanlah ujian ini jalan mendekatkan diri kepada-Mu. Amin. (*)