Opini post author Kiwi 26 Agustus 2026

Refleksi Wejangan Nenek

Photo of Refleksi Wejangan Nenek

Oleh: Syarif / Guru Besar dalam bidang Ulumul Quran dan Tafsir / Ketua PWNU Kalbar dan Mursyidu al-Majlis Nûr al-Tasbîh Kalbar

NENEKKU seorang yang buta huruf. Beliau wafat pada tahun 1995 dalam usia 92 tahun. Semasa kecil, sebelum saya sekolah, saya tinggal bersama nenek.

Dari beliau, sejak kecil saya diajari dua kalimah syahadat, lafaz shalawat, dan beberapa kisah tentang ulama yang ‘alim, di antaranya K.H. Muhammad Hasyim Asy’ari.

Setiap hari Jumat, nenek memanggil cucu-cucunya. Beliau bercerita, memberikan nasihat, dan menyampaikan kata-kata mutiara dengan bahasa yang sederhana.

Tidak ada kitab yang beliau baca, tidak ada pendidikan formal yang beliau banggakan. Tetapi setelah puluhan tahun nenek tiada, beberapa wejangan beliau justru semakin sering saya renungkan. Ternyata, di balik kalimat-kalimat sederhana itu terdapat muatan hikmah yang sangat dalam.

Ada tiga wejangan nenek yang sampai hari ini saya rasakan seperti sebuah sumpah kehidupan untuk anak-cucunya.

“Nak, selama kamu tidak menghina orang, maka orang yang menghinamu tidak akan lebih mulia darimu. Selama kamu tidak menipu orang, maka orang yang menipumu tidak akan lebih kaya darimu. Dan jika ada orang berbuat baik kepadamu, sesungguhnya itu Allah yang berbuat baik kepadamu. Maka jangan jadi bebek, walaupun bebek ditaruh di kelambu emas, ia tetap kembali ke comberan.”

Kini, setelah usia semakin bertambah, saya semakin memahami bahwa nasihat nenek tersebut sesungguhnya mempunyai hubungan yang sangat kuat dengan ajaran Islam. Pertama: Jangan Menghina Orang Lain. Nenek berkata “Selama kamu tidak menghina orang, maka orang yang menghinamu tidak akan lebih mulia darimu.” Nasihat ini mengingatkan saya kepada firman Allah:

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, boleh jadi mereka yang diperolok-olokkan lebih baik dari mereka. Dan jangan pula perempuan-perempuan mengolok-olok perempuan lain, boleh jadi perempuan yang diperolok-olokkan lebih baik dari mereka. Janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk.” (QS. al-Hujurat/49: 11)

Ayat ini menegaskan ajaran Islam tidak hanya melarang penghinaan dalam bentuk tindakan kasar, tetapi juga melarang olok-olok, celaan, pemberian julukan buruk, dan merendahkan martabat orang lain.

Bahkan Allah melarang manusia mencela sesama, karena pada hakikatnya orang yang kita hina bisa jadi justru lebih mulia di hadapan Allah daripada diri kita. Dalam ayat berikutnya Allah berfirman:“Dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain.”(Q.s. al-Hujurat/49: 12).

Karena itu, penghinaan mempunyai banyak wajah. Ada penghinaan dengan kata-kata, dengan ekspresi wajah, dengan gestur tubuh, dengan menyebarkan aib, dengan membuka kelemahan seseorang di hadapan orang lain, dengan mempermalukan, bahkan dengan memberi label-label yang merendahkan.

Kadang kita merasa hanya sedang bercanda. Tetapi orang yang menjadi objek candaan mungkin sedang terluka. Rasulullah saw bersabda “sibâbu al-muslimi fusûqun -- “Mencaci seorang Muslim adalah kefasikan.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dalam hadis lain disebutkan hal yang senada “al-muslimu man salima al-muslimûna min lisânihî wa yadihî -- Seorang Muslim adalah orang yang kaum Muslimin selamat dari lisan dan tangannya.”(HR. Bukhari dan Muslim).

Betapa dalamnya ajaran ini. Islam tidak hanya mengajarkan bagaimana kita rajin beribadah kepada Allah, tetapi juga bagaimana manusia lain aman dari lisan dan tangan kita.

Karena itu, saya teringat kembali kepada nenek. Beliau memang tidak bisa membaca dan menulis. Tetapi beliau mengajarkan sesuatu yang sangat penting “jangan menjadi manusia yang hobinya merendahkan orang lain”.

Di dalam setiap diri pada manusia terdapat kehormatan yang Allah berikan. Allah menuntun kota dalam berfirman “wa laqad karrwmnâ banî âdama -- Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam.” (Q.s. al-Isra’/17:70).

Ini artinya manusia mempunyai kehormatan karena Allah yang memuliakannya. Di sinilah saya dapat memahami pesan nenek bahwa ketika kita menghina seseorang, jangan lupa bahwa orang tersebut adalah hamba yang telah Allah muliakan.

Bukan berarti setiap penghinaan kepada manusia otomatis sama dengan menghina Allah. Itu adalah persoalan teologis yang tidak boleh kita simpulkan sembarangan.

Tetapi merendahkan orang lain berarti berhadapan dengan kehormatan yang telah Allah berikan kepada orang tersebut.

Lebih jauh lagi, kitab al-Qur’an mengajarkan betapa agungnya menjaga kehidupan manusia: “Barang siapa membunuh seseorang bukan karena orang itu membunuh orang lain, atau bukan karena berbuat kerusakan di bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh semua manusia. Dan barang siapa memelihara kehidupan seorang manusia, maka seakan-akan dia telah memelihara kehidupan semua manusia.” (Q.s. al-Ma’idah/5: 32).

Ayat ini menunjukkan betapa tinggi nilai kehidupan dan kehormatan diri pada manusia. Maka jangan mudah menghina. Kita tidak pernah tahu siapa yang lebih mulia di hadapan Allah. Orang yang kita anggap rendah mungkin justru lebih tinggi derajatnya di sisi Allah.

Kedua: Jangan Menipu Orang Lain. Wejangan nenek yang kedua sangat sederhana “Selama kamu tidak menipu orang lain, maka orang yang menipu kamu tidak akan lebih kaya darimu.”

Ini bukan sekadar nasihat ekonomi. Ini adalah nasihat moral. Nenek seolah-olah sedang mengajarkan bahwa kekayaan yang diperoleh melalui penipuan bukanlah kekayaan yang sesungguhnya.

Moral ajaran menuturkan bahwa pada syariatnya menipu orsng lain, tapi sesungguhnya diri sendiri yang tertipu. Allah Swt menggambarkan perilaku orang-orang munafik “Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu diri sendiri, sedangkan mereka tidak menyadarinya.” (Q.s. al-Baqarah/2: 9).

Teks ayat berikutnya menjelaskan perilaka seperti itu marena penyakit yang ada di dalam hati mereka,“dalam hati mereka ada penyakit, lalu Allah menambah penyakitnya itu.” (Q.s. al-Baqarah/2: 10).

Betapa menariknya ajaran al-Qur’an. Orang yang menipu mungkin mengira dirinya sedang mendapatkan keuntungan. Padahal, dalam perspektif Allah, ia sedang merusak dirinya sendiri.

Rasulullah Saw memberikan peringatan yang sangat keras “man ghasysyanâ falaisa minnâ -- Barang siapa menipu kami, maka ia bukan bagian dari golongan kami. (HR. Muslim).

Dalam hadis lain Rasulullah Saw menegaskan “man ghasysya falaisa minnî --Barang siapa melakukan penipuan, maka ia bukan termasuk golonganku.”(HR. Muslim).

Penipuan dapat terjadi di mana-mana, seperti dalam perdagangan, pekerjaan, jabatan, pendidikan, politik, organisasi, bahkan dalam hubungan persahabatan dan organisasi, tak terkecuali organisasi keagamaan.

Seseorang dapat menipu dengan uang, menipu dengan jabatan, menipu dengan janji, menipu dengan informasi palsu, bahkan orang dapat menipu dengan citra kesalehan. Tetapi tidak ada penipuan yang benar-benar menguntungkan dalam jangka panjang.

Oleh karena itu, pesan nenek menjadi sangat relevan “Jangan menjadi kaya dengan cara membuat orang lain miskin. Jangan menjadi besar dengan cara mengecilkan orang lain. Jangan memperoleh keuntungan dengan cara merugikan sesama. Rezeki yang sedikit tetapi halal jauh lebih mulia daripada kekayaan yang banyak tetapi diperoleh dengan tipu daya. Allah Swt menuntun “janganlah kamu memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil.” (QS. Al-Baqarah/2: 188).

Maka, bagi saya, kalimat nenek itu bukan hanya nasihat untuk tidak menjadi penipu. Lebih jauh, ia adalah ajaran untuk membangun kehidupan dengan kejujuran. Sebab kejujuran mungkin tidak selalu membuat kita cepat kaya, tetapi kejujuran membuat rezeki kita mempunyai keberkahan.

Ketiga “Jika Orang Berbuat Baik Kepadamu, Ingatlah Wejangan nenek yang ketiga barangkali yang paling unik “Jika ada orang berbuat baik kepadamu, sesungguhnya itu Allah yang berbuat baik.” Kemudian nenek menambahkan “Maka jangan jadi bebek. Karena bebek itu walau kamu taruh di kelambu emas, ia tetap kembali ke comberan.”

Kalimat ini adalah bahasa sederhana seorang nenek untuk menggambarkan manusia yang tidak tahu bersyukur dan tidak tahu berterima kasih kepada orang yang telah berbuat baik kepadanya.

Dalam Islam, bersyukur kepada Allah bukan hanya dengan mengucapkan alhamdulillah. Syukur juga diwujudkan dengan mengakui kebaikan yang datang melalui perantaraan manusia. Rasulullah Saw bersabda “lâ yasykurullâha man lâ yasyjurun nása --Tidak bersyukur kepada Allah orang yang tidak berterima kasih kepada manusia.”(HR. Abu Dawud dan Tirmidzi).

Hadis ini menjadi referensi yang sangat dekat dari wejangan nenek. Ketika seseorang membantu kita, memuliakan kita, mengangkat kita, menolong kita ketika susah, memberi kesempatan kepada kita, atau bahkan sekadar memberikan senyum dan perhatian, jangan merasa bahwa semua itu semata-mata karena kehebatan diri kita.

Bisa jadi Allah sedang mengirimkan pertolongan melalui tangan orang lain. Allah Swt menersngkan “wamâ bikum min ni’matin fa minallâhi -- Dan segala nikmat yang ada padamu, maka dari Allah-lah datangnya.”(QS. An-Nahl [16]: 53).

Karena itu, orang yang berbuat baik kepada kita sesungguhnya dapat menjadi wasilah datangnya karunia Allah. Maka jangan lupa berterima kasih.

Jangan pula setelah seseorang berjasa kepada kita, lalu ketika kita sudah berada di atas, kita melupakan orang yang pernah membantu kita ketika berada di bawah. Itulah yang mungkin dimaksud nenek dengan “jangan menjadi bebek”.

Jangan sampai seseorang sudah diberi kelambu emas, tetapi tabiatnya tetap kembali ke “comberan”. Dalam bahasa yang lebih luas “jangan sampai kemuliaan yang diberikan orang lain kepada kita tidak mampu mengubah akhlak kita menjadi lebih baik.”

Islam bahkan mengajarkan agar kebaikan dibalas dengan kebaikan. Allah Swt berfirman “hal jazâu al-ihsáni illá al-ihsánu -- Tidak ada balasan untuk kebaikan selain kebaikan pula”. (Q.s. Ar-Rahman/55:60).

Senada dengan ini Rasulullah Saw bersabda “man shana’a ilaikum ma’rûfan fakâfiûhu -- barang siapa berbuat baik kepada kalian, maka balaslah kebaikannya.” (HR. Abu Dawud dan an-Nasa’i).

Kalau belum mampu membalas dengan materi, balaslah dengan doa. Kalau belum mampu membalas dengan harta, balaslah dengan penghormatan. Kalau belum mampu membalas dengan sesuatu yang besar, setidaknya jangan pernah melupakan jasanya.

Tiga Wejangan, Satu Jalan Kehidupan. Setelah nenek meninggal, saya baru menyadari bahwa tiga wejangan tersebut sebenarnya membentuk satu bangunan akhlak. Jangan menghina, Jangan menipu, Jangan melupakan kebaikan orang lain. Yang pertama menjaga lisan dan kehormatan manusia.

Yang kedua menjaga kejujuran dan hak manusia. Yang ketiga menjaga syukur dan hubungan kemanusiaan. Ketiganya sesungguhnya merupakan bagian dari akhlak yang diajarkan Islam.

Islam tidak hanya berbicara tentang hubungan manusia dengan Allah (hablum minallah), tetapi juga tentang hubungan manusia dengan sesama manusia (hablum minannas).

Sebab kesalehan seseorang tidak cukup hanya terlihat dari panjangnya ibadah ritual, tetapi juga harus terlihat dari bagaimana ia memperlakukan manusia.

Rasulullah Saw pernah ditanya tentang seorang perempuan yang banyak melakukan salat, puasa, dan sedekah, tetapi ia menyakiti tetangganya dengan lisannya. Rasulullah Saw menjawab bahwa tidak ada kebaikan padanya dan ia termasuk penghuni neraka.

Sebaliknya, seorang perempuan yang ibadahnya sederhana tetapi tidak menyakiti tetangganya disebut sebagai penghuni surga. (HR. Ahmad dan al-Hakim; maknanya juga diriwayatkan dalam sejumlah hadis sahih tentang menyakiti tetangga).

Pesannya jelas: ibadah harus melahirkan akhlak. Jangan sampai kita rajin berdzikir tetapi lisan kita menyakiti. Jangan sampai kita rajin bersedekah tetapi tangan kita mengambil hak orang lain.

Jangan sampai kita rajin menghadiri majelis ilmu tetapi hati kita dipenuhi kesombongan.

Jangan sampai kita berbicara tentang kemuliaan Islam tetapi perilaku kita merendahkan manusia. Jangan sampai kita mudah berjanji tetapi mudah mengingkari. Jangan sampai kita mahu menerima kebaikan orang tetapi tidak tahu terima kasih

Wejangan Nenek dan Beratnya Timbangan Amal. Tiga nasihat itu terlihat kecil dan sederhana. Tetapi sesungguhnya perkara kecil dalam pandangan manusia bisa menjadi besar dalam timbangan Allah.

Maka sebuah kalimat bisa menjadi amal, sebuah penghinaan bisa menjadi dosa, sebuah kejujuran bisa menjadi ibadah, sebuah penipuan bisa menjadi petaka, sebuah ucapan dan tindakan terima kasih bisa menjadi bentuk syukur, dan sebuah pertolongan kecil bisa menjadi sebab datangnya rahmat Allah.

Kini nenek telah lama tiada. Tetapi ternyata manusia boleh meninggal, sementara wejangannya tetap hidup dalam dada orang yang pernah mendengarnya.

Nenek saya tidak pernah membaca kitab-kitab besar. Tetapi dari lisan seorang perempuan tua yang buta huruf, saya belajar tiga kitab kehidupan “jangan merendahkan manusia, jangan mengambil hak manusia dengan tipu daya, dan jangan pernah melupakan kebaikan manusia.

Mungkin itulah bentuk ilmu yang paling sederhana, tetapi sekaligus paling sulit diamalkan. Karena mengetahui kebaikan dan mengatakannya itu mudah. Tetapi menjadi orang baik adalah perjuangan sepanjang kehidupan.

Dengan itu, semakin tua saya, semakin saya memahami satu hal: Kadang-kadang Allah menitipkan hikmah bukan melalui orang yang berpendidikan tinggi, tetapi melalui orang sederhana yang hatinya dekat kepada Allah. Nenek saya telah pergi pada tahun 1995.

Namun suara nasihatnya masih terdengar. Seolah-olah setiap hari Jumat ia masih memanggil kami: “Nak, jangan menghina orang, Jangan menipu orang, dan jangan lupa berterima kasih kepada orang yang telah berbuat baik kepadamu.”

Semoga Allah Swt telah menerima nenek saya, mengampuni dosa-dosanya, melapangkan kuburnya, menerima amal baiknya, menerangi alam barzakhnya, dan menempatkannya di tempat yang dijanjikan kepada umat Muhammad Saw. Âmîn yâ Karîm. (*)

Keywords

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda