Opini post author elgiants 23 Agustus 2026

Sebuah Catatan Opini tentang Sejarah, Kepahlawanan, dan Ingatan Kolektif Masyarakat Dayak, Pang Suma dan Pang Linggan: Ketika Perlawanan Dayak Diakui Kerajaan Belanda

Photo of Sebuah Catatan Opini tentang Sejarah, Kepahlawanan, dan Ingatan Kolektif Masyarakat Dayak, Pang Suma dan Pang Linggan: Ketika Perlawanan Dayak Diakui Kerajaan Belanda Teddy Velantino Direktur Pusat Studi Borneo Pengurus Dewan Adat Dayak Kota Pontianak

SEJARAH terkadang menyimpan ironi yang panjang. Ada nama-nama yang hidup begitu kuat dalam ingatan masyarakat, tetapi jejaknya nyaris tenggelam dalam dokumen negara.

Ada pula kisah perjuangan yang diwariskan dari mulut ke mulut, dari generasi ke generasi, lalu puluhan tahun kemudian justru menemukan penguatnya di dalam arsip negeri yang pernah menjadi lawannya.

Bagi saya, kisah Pang Suma dan Pang Linggan adalah salah satu di antaranya. Keduanya bukan sekadar nama dalam cerita lisan masyarakat Dayak di Meliau dan Sanggau.

Keduanya adalah bagian dari sejarah perlawanan terhadap pendudukan Jepang pada 1945. Dan yang menarik, arsip Kerajaan Belanda menunjukkan bahwa setelah keduanya gugur, nama mereka tercatat dalam sejarah penghargaan militer Belanda.

Bendera, yang dalam arsip disebut memiliki nama samaran Pang Soema dan dikenal dalam tradisi lokal sebagai Pang Suma, tercatat sebagai penerima Bronzen Leeuw atau Singa Perunggu melalui Koninklijk Besluit Nomor 75 tertanggal 27 Januari 1947.

Arsip tersebut mencatat Bendera meninggal di Meliau pada 17 Juli 1945 dan penghargaan diberikan secara anumerta atas berbagai aksi melawan Jepang di Borneo.

Nama Adjoen, yang dalam sumber lain dicatat sebagai alias Pang Linggan atau Ajun, juga tercatat sebagai penerima Bronzen Leeuw. Ia disebut sebagai warga pribumi yang terlibat dalam perlawanan bawah tanah di Hindia Belanda.

Di sinilah sejarah menjadi menarik. Kerajaan Belanda, yang kemudian kembali hadir di Indonesia setelah Jepang menyerah, justru memberikan penghargaan kepada dua tokoh Dayak yang berjuang melawan Jepang.

Lalu pertanyaannya: apa makna penghargaan tersebut bagi sejarah masyarakat Dayak? Menurut saya, jawabannya tidak sesederhana "Belanda mengakui pahlawan Dayak". Kita harus membacanya dengan lebih kritis dan lebih jernih.

Perlawanan yang Lahir dari Tanah Sendiri

Jepang menduduki Hindia Belanda sejak 1942. Di Kalimantan Barat, pendudukan tersebut meninggalkan luka yang sangat dalam. Kerja paksa, tekanan terhadap masyarakat, kekerasan militer, serta tragedi Mandor pada 1944 menjadi bagian dari ingatan kolektif yang membentuk suasana perlawanan.
Dalam konteks itulah masyarakat Dayak di wilayah Meliau dan sekitarnya bergerak.

Pang Suma muncul sebagai salah satu pemimpin penting dalam perlawanan tersebut. Bersama tokoh-tokoh lainnya, termasuk Pang Linggan, perlawanan berkembang menjadi rangkaian bentrokan bersenjata yang kemudian dikenal dalam ingatan masyarakat sebagai Perang Majang Desa atau Perang Dayak Desa.

Peristiwa penting terjadi pada Mei hingga Juli 1945. Pada 13 Mei 1945, terjadi insiden di Sekucing yang melibatkan sejumlah tokoh Dayak dan mandor Jepang bernama Osaki. Peristiwa tersebut kemudian menjadi salah satu pemicu meningkatnya perlawanan terbuka terhadap Jepang.

Pada 24 Juni 1945, pasukan Dayak di bawah pimpinan Pang Suma menyerang Meliau dan merebut instalasi serta gudang perbekalan Jepang. Pertempuran kemudian berkembang semakin besar pada akhir Juni.

Pada 17 Juli 1945, pertempuran kembali berkobar. Pang Suma akhirnya tertangkap dan dibunuh oleh pasukan Jepang. Pang Linggan juga gugur pada hari yang sama. Sejumlah sumber sejarah populer mengenai Perang Majang Desa mencatat rangkaian pertempuran tersebut dan kaitannya dengan kedua tokoh ini.

Mereka gugur hanya beberapa pekan sebelum Jepang menyerah kepada Sekutu. Bagi saya, titik ini penting untuk dicatat. Perlawanan Pang Suma dan Pang Linggan lahir dari pengalaman masyarakat mereka sendiri.

Mereka tidak berperang karena membaca peta geopolitik dunia. Mereka berperang karena tanah mereka diduduki, masyarakat mereka ditekan, dan kehidupan komunitas mereka terganggu.

Karena itu, jangan sampai sejarah mereka kemudian dibaca hanya dari perspektif siapa yang memberikan penghargaan.

Ketika Arsip Belanda Berbicara

Delapan puluh satu tahun kemudian, pencarian terhadap arsip digital membuka jendela baru untuk melihat kisah tersebut.

Dalam basis data penghargaan keberanian militer Belanda, nama Bendera tercatat sebagai penerima Bronzen Leeuw. Data tersebut menyebut wilayah aksinya sebagai Nederlands-Indië–Borneo–Meliau, dengan keterangan berbagai aksi melawan Jepang pada 1945. Status penghargaan juga tercatat anumerta.

Sementara itu, sumber dokumentasi lain mencatat Adjoen alias Pang Linggan sebagai penerima Bronzen Leeuw dan menyebut keterlibatannya dalam perlawanan bawah tanah di Hindia Belanda.

Fakta arsip ini penting. Namun kita juga harus berhati-hati. Penghargaan dari Kerajaan Belanda tidak otomatis berarti perjuangan Pang Suma dan Pang Linggan merupakan perjuangan untuk kepentingan kolonial Belanda.

Justru sebaliknya, kita perlu memisahkan dua hal: perjuangan masyarakat Dayak melawan Jepang dan kepentingan politik Belanda setelah Jepang kalah.

Keduanya berada dalam ruang sejarah yang berbeda, meskipun kemudian bertemu dalam satu dokumen penghargaan.

Pahlawan Tidak Selalu Berperang untuk Kepentingan yang Sama

Belanda dan masyarakat Dayak tentu memiliki kepentingan yang berbeda. Bagi masyarakat Dayak, perlawanan merupakan bagian dari perjuangan mempertahankan kehidupan, martabat dan ruang sosial mereka dari kekuasaan pendudukan Jepang.

Bagi Belanda, Jepang adalah musuh dalam Perang Dunia II. Setelah Jepang kalah, Belanda berusaha kembali membangun pengaruh dan kekuasaannya di Hindia Belanda.

Maka, ketika pada 1947 Kerajaan Belanda memberikan Bronzen Leeuw kepada Pang Suma dan Pang Linggan, kita harus membaca penghargaan tersebut dalam konteks politik pascaperang.

Penghargaan itu adalah pengakuan atas keberanian mereka dalam melawan Jepang, tetapi pada saat yang sama juga hadir dalam ruang kepentingan politik Belanda pada masa itu.

Keduanya tidak harus dipertentangkan. Justru di situlah kedewasaan kita dalam membaca sejarah diuji. Saya melihatnya sebagai sebuah konvergensi kepentingan dalam situasi perang dan perubahan rezim.

Perlawanan Dayak lahir dari kepentingan komunitas sendiri. Penghargaan Belanda adalah konvergensi kepentingan dalam situasi perang dan perubahan rezim, bukan bukti subordinasi perjuangan masyarakat Dayak.

Sejarah Tidak Boleh Berhenti di Arsip

Ada satu hal yang menurut saya jauh lebih penting daripada sekadar menemukan nama Pang Suma dan Pang Linggan dalam daftar penerima penghargaan.

Yakni pertanyaan: mengapa masyarakat Kalimantan Barat belum banyak mengetahui bahwa kedua tokoh tersebut tercatat dalam arsip penghargaan Kerajaan Belanda?
Selama ini, ingatan tentang Pang Suma dan Pang Linggan terutama hidup melalui cerita masyarakat, sejarah lokal, tulisan para peneliti, keluarga, serta komunitas adat.

Ketika arsip resmi kemudian memberikan penguat, seharusnya hal tersebut menjadi momentum untuk membuka kembali penelitian secara lebih serius.

Bukan untuk membesar-besarkan sejarah. Bukan pula untuk menjadikan penghargaan Belanda sebagai satu-satunya ukuran kepahlawanan. Tetapi untuk menyatukan dua sumber sejarah: arsip dan ingatan masyarakat.
Sebab sejarah yang sehat membutuhkan keduanya. Arsip dapat memberikan tanggal, nama, dokumen dan konteks administratif. Sementara ingatan masyarakat menyimpan pengalaman, makna, identitas dan cerita yang terkadang tidak pernah masuk ke dalam dokumen resmi.

Dari Meliau, Kita Belajar tentang Harga Sebuah Perlawanan

Pang Suma dan Pang Linggan gugur pada 17 Juli 1945. Hanya sekitar satu bulan kemudian, Jepang menyerah. Beberapa pekan berikutnya, Indonesia memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945.

Kalimantan Barat kemudian memasuki masa transisi kekuasaan yang penuh gejolak. Pasukan Australia tiba di Pontianak pada Oktober 1945, disusul unsur NICA. Politik lokal pun berubah dan hubungan antara berbagai kelompok masyarakat dengan kekuatan kolonial kembali mengalami dinamika.

Dalam periode 1946–1947, Belanda membangun kembali struktur pemerintahannya di Kalimantan Barat. Hubungan dengan elite lokal, termasuk sebagian tokoh Dayak, berkembang dalam situasi politik yang kompleks.

Karena itu, sejarah Pang Suma dan Pang Linggan tidak boleh dipotong hanya pada satu peristiwa. Kita harus melihatnya sebagai bagian dari perubahan besar: dari pendudukan Jepang, kekosongan kekuasaan, Proklamasi Kemerdekaan, kedatangan kembali Belanda, hingga perubahan konfigurasi politik di Kalimantan Barat.

Sudah Saatnya Negara Membuka Ruang Pengakuan

Menurut saya, temuan mengenai Bronzen Leeuw ini tidak seharusnya berhenti sebagai artikel sejarah atau bahan diskusi akademik.

Negara perlu memberikan perhatian lebih serius. Jika benar secara dokumenter bahwa Pang Suma dan Pang Linggan tercatat sebagai penerima penghargaan keberanian dari Kerajaan Belanda atas perlawanan terhadap Jepang, maka dokumen tersebut layak menjadi salah satu bahan dalam proses penelitian sejarah kepahlawanan nasional.

Bukan berarti negara harus langsung menetapkan status tertentu tanpa proses verifikasi. Justru sebaliknya, negara perlu melakukan penelitian dan verifikasi secara terbuka dan akademis.

Kita membutuhkan salinan asli Koninklijk Besluit Nomor 75 tanggal 27 Januari 1947, pemeriksaan register NIMH, penelusuran arsip militer Belanda dan Jepang, serta penggalian sejarah lisan dari keluarga dan komunitas masyarakat Dayak di Meliau.

Kita juga perlu memastikan variasi nama dalam arsip: Bendera, Pang Soema, Pang Suma, Adjoen, Ajun dan Pang Linggan.

Perbedaan nama dalam arsip kolonial bukan hal kecil. Ia bisa menentukan apakah dua catatan merujuk kepada orang yang sama atau orang yang berbeda. Karena itu, penelitian harus dilakukan dengan ketelitian.
Jangan Biarkan Nama Mereka Hilang untuk Kedua Kalinya. Ada ironi besar dalam perjalanan sejarah Pang Suma dan Pang Linggan. Mereka pernah mengangkat senjata melawan pendudukan Jepang.

Mereka gugur sebelum sempat melihat Indonesia memasuki babak baru kemerdekaan. Dua tahun kemudian, nama mereka muncul dalam keputusan penghargaan Kerajaan Belanda.

Namun puluhan tahun setelah itu, kisah tersebut belum menjadi bagian yang kuat dari pengetahuan publik. Mungkin inilah saatnya kita kembali membuka lembaran tersebut.

Bukan untuk menghidupkan kembali pertentangan masa lalu. Bukan pula untuk memilih apakah kita harus berdiri di pihak Belanda atau Jepang. Melainkan untuk menempatkan masyarakat Dayak sebagai subjek sejarahnya sendiri.

Pang Suma dan Pang Linggan harus dikenang bukan karena Belanda pernah memberi mereka penghargaan, tetapi karena mereka telah memilih melawan ketika tanah dan masyarakat mereka berada di bawah tekanan pendudukan.

Penghargaan Belanda hanyalah satu dokumen penting yang membantu kita melihat bahwa keberanian mereka bahkan tercatat dalam arsip pihak yang memiliki kepentingan politik berbeda. Dan justru karena itulah dokumen tersebut layak dibaca secara kritis.

Menggali Arsip, Merawat Memori

Saya percaya bahwa sejarah Kalimantan Barat masih menyimpan banyak cerita yang belum selesai ditulis.
Di balik nama-nama besar yang telah masuk buku sejarah, masih terdapat tokoh-tokoh lokal yang perjuangannya hidup dalam ingatan masyarakat, tetapi belum memperoleh tempat yang layak dalam narasi sejarah nasional. Pang Suma dan Pang Linggan adalah bagian dari cerita itu.

Sudah saatnya kita membuka kembali arsip, mendatangi keluarga, menyusuri lokasi pertempuran, mendokumentasikan makam dan peninggalan, serta mendengar kembali cerita para tetua.

Sebab sejarah bukan hanya tentang apa yang ditulis oleh penguasa. Sejarah juga tentang mereka yang berjuang, mereka yang gugur, dan masyarakat yang terus mengingatnya.

Harapan saya, temuan arsip mengenai Bronzen Leeuw ini dapat mendorong negara untuk melakukan penelitian dan verifikasi lebih lanjut serta, apabila seluruh bukti primer menguatkan, memberikan ruang bagi pengakuan nasional atas jasa perjuangan Pang Suma dan Pang Linggan.

Bukan untuk mengubah sejarah. Tetapi untuk meluruskan sejarah. Bukan untuk mengambil alih kisah perjuangan masyarakat Dayak. Tetapi untuk mengembalikannya kepada tempat yang semestinya.

Dan bukan semata-mata untuk mengenang dua nama. Melainkan untuk menghormati sebuah generasi yang pernah berdiri di tanah Meliau dan Sanggau, menghadapi kekuatan pendudukan dengan keberanian yang mungkin jauh lebih besar daripada yang selama ini kita bayangkan. Menggali arsip, merawat memori, menghormati para pejuang. (*)

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda