Opini post author Kiwi 22 Agustus 2026

Feed Instagram dan Fitnah Riya' Zaman Now

Photo of Feed Instagram dan Fitnah Riya' Zaman Now

Oleh: Ahmad Jais @ Mind Healing Center, Jalan Karya Sosial Kompleks Bali Asri 2 F 18, Kota Baru, West Kalimantan. www.mhtindonesia.com

"Berhati-hatilah pada amal yang membuatmu ingin dilihat orang, sebab di situlah setan menaburkan benihnya yang paling halus." (Ali bin Abi Thalib)

Setiap kali membuka aplikasi media sosial, mata kita disuguhi berbagai unggahan: foto liburan mewah, sertifikat prestasi, gelar akademik terbaru, hingga potret tangan yang sedang menyerahkan amplop sedekah kepada anak yatim.

Tanpa disadari, sesuatu yang seharusnya menjadi urusan pribadi antara hamba dengan Allah, kini berubah menjadi konten yang dipamerkan demi pengakuan dan pujian.

Para nabi dan orang-orang shaleh pun telah lama diperingatkan tentang bahaya semacam ini, jauh sebelum manusia mengenal layar dan tombol unggah. Rasulullah SAW sangat mengkhawatirkan penyakit hati ini menimpa umatnya, hingga beliau bersabda,

"Sesungguhnya yang paling aku takutkan menimpa kalian adalah syirik kecil." Para sahabat bertanya, "Apa itu syirik kecil, wahai Rasulullah?" Beliau menjawab, "Riya' (pamer/ingin dilihat orang)." (HR. Ahmad)

Hadis ini menegaskan betapa seriusnya bahaya riya', sampai-sampai Rasulullah SAW menyejajarkannya dengan syirik, meski dalam kadar yang lebih kecil, sebab riya' menodai keikhlasan yang menjadi ruh dari setiap amal ibadah.

Allah SWT berfirman, "Maka celakalah bagi orang-orang yang salat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari salatnya, orang-orang yang berbuat riya'." (QS. Al-Ma'un: 4-6).

Ayat ini menegaskan bahwa amal ibadah sekalipun, jika dilandasi keinginan dipuji dan dilihat orang lain, justru mendatangkan kecelakaan bagi pelakunya, bukan pahala yang diharapkan.

Kisah seorang tabi'in bernama Sufyan Ats-Tsauri memberikan teladan berharga tentang kewaspadaan terhadap riya'. Suatu ketika ia berkata kepada murid-muridnya, "Tidak ada yang lebih aku takutkan dari niatku sendiri, sebab ia sering berubah-ubah tanpa aku sadari."

Ia bahkan pernah menyembunyikan amal baiknya sedemikian rupa agar tidak diketahui orang lain, karena khawatir hatinya diam-diam berharap pujian. Sikap kehati-hatian semacam ini menunjukkan betapa halusnya bisikan riya' yang bisa menyusup tanpa disadari, bahkan oleh orang-orang yang telah mendalami ilmu agama sekalipun.

Rasulullah SAW juga bersabda, "Barangsiapa memperdengarkan (amalnya kepada orang lain agar dipuji), maka Allah akan memperdengarkan (aibnya) kepada makhluk.

Dan barangsiapa memperlihatkan (amalnya agar dilihat orang), maka Allah akan memperlihatkan (aibnya)." (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadits ini mengingatkan bahwa setiap amal yang dipamerkan demi pengakuan manusia, kelak justru akan dibalas dengan terbukanya aib di hadapan makhluk-Nya.

Di era Instagram, TikTok, dan berbagai platform digital saat ini, riya' berubah wujud menjadi lebih halus: unggahan sedekah dengan alasan "menginspirasi", pamer prestasi dengan dalih "berbagi motivasi", atau memamerkan ibadah dengan tujuan mendapat pengakuan dan penilaian berupa jumlah like dan komentar pujian.

Rasulullah SAW mengingatkan, "Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa dan harta kalian, tetapi Dia melihat kepada hati dan amal kalian." (HR. Muslim).

Waspadalah terhadap riya' (pamer ibadah), sum'ah (mencari popularitas dari amal), dan ujub (bangga diri atas amal sendiri), sebab ketiganya adalah penyakit hati yang dapat menggugurkan pahala tanpa disadari pelakunya.

Sebagai solusi, Allah SWT berfirman, "Katakanlah (Muhammad), 'Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam.'" (QS. Al-An'am: 162).

Jadilah seperti akar yang bekerja diam-diam di dalam tanah, tidak pernah terlihat namun menopang seluruh kehidupan pohon di atasnya.

Jadilah pula seperti hujan yang turun tanpa suara, membasahi bumi tanpa berharap tepuk tangan dari siapa pun. Ingatlah bahwa kelak setiap amal yang tersembunyi maupun yang dipamerkan akan dibuka di hadapan Allah, dan hanya keikhlasan yang akan menyelamatkan seorang hamba pada hari itu.

Ya Allah, sucikanlah niat kami dalam setiap amal yang kami lakukan, jauhkanlah kami dari riya' dan keinginan dipuji manusia, dan jadikanlah setiap kebaikan kami murni sebagai persembahan hanya untuk-Mu semata. Amin. (10082026)

Keywords

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda