By: Ahmad Jais / @ Mind Healing Center, Jalan Karya Sosial Kompleks Bali Asri 2 F 18, Kota Baru, West Kalimantan
"Penyesalan itu dimulai dengan kegilaan (amarah), dan berakhir dengan penyesalan." (Ali bin Abi Thalib, Nahjul Balaghah)
Belakangan ini, publik dunia maya kembali disuguhi sebuah peristiwa yang viral: seseorang melontarkan kata-kata keji dan penuh kebencian kepada orang lain, namun yang dihina justru membalasnya dengan ucapan lembut penuh kasih, "Terima kasih, saudaraku."
Tak lama berselang, si pelaku ujaran kebencian justru dikabarkan mengalami gejolak emosi yang tak terkendali hingga membutuhkan penanganan. Fenomena ini mengingatkan kita pada hukum alam yang berlaku sejak zaman dahulu: amarah yang tidak terkendali sering kali lebih menyakiti diri sendiri dibanding orang yang menjadi sasarannya.
Para nabi dan orang-orang shaleh pun telah lama memahami hukum ini, dan mereka memilih membalas kebencian dengan kelembutan, bukan dengan kemarahan yang sama.
Rasulullah SAW sendiri sering menjadi sasaran hinaan dan cacian dari orang-orang yang membencinya, namun beliau tidak pernah membalas dengan kekerasan serupa.
Dalam sebuah peristiwa, seorang wanita yang biasa melempari beliau dengan kotoran tiba-tiba tidak melakukannya suatu hari. Nabi SAW justru menjenguknya karena khawatir ia sakit dan wanita itu pun tersentuh hingga masuk Islam. Sikap ini sejalan dengan sabda beliau,
"Bukanlah orang yang kuat itu yang menang dalam pergulatan, tetapi orang yang kuat adalah yang mampu menguasai dirinya saat marah." (HR. Bukhari dan Muslim)
Allah SWT berfirman, "Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan." (QS. Ali 'Imran: 134). Ayat ini menegaskan bahwa menahan amarah dan memilih memaafkan bukanlah tanda kelemahan, melainkan sifat mulia yang dicintai Allah.
Kisah Ali bin Abi Thalib RA sendiri memberikan teladan yang begitu mendalam tentang hal ini. Suatu ketika, dalam sebuah pertempuran, beliau berhasil menjatuhkan musuhnya dan hendak menghabisinya.
Namun musuh tersebut meludahi wajah Ali karena marah. Seketika itu juga, Ali menyarungkan kembali pedangnya dan melepaskan musuhnya. Ketika ditanya alasannya, beliau berkata, "Aku khawatir membunuhnya karena hawa nafsuku sendiri (amarah karena diludahi), bukan lagi karena Allah semata." Kisah ini menunjukkan betapa Ali sangat berhati-hati menjaga niatnya agar setiap tindakan murni karena Allah, bukan karena dorongan emosi sesaat.
Rasulullah SAW juga bersabda, "Jangan marah, jangan marah, jangan marah." (HR. Bukhari), diulang tiga kali kepada seorang sahabat yang meminta nasihat singkat namun mendalam. Hadits ini menegaskan bahwa mengendalikan amarah adalah inti dari akhlak yang baik, sebab dari amarah yang tak terkendali lahirlah penyesalan yang tiada tara.
Di era media sosial saat ini, ujaran kebencian, hinaan, dan cacian tersebar dengan begitu mudah dan cepat, seringkali dari orang-orang yang bahkan tidak saling mengenal secara langsung.
Rasulullah SAW mengingatkan, "Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam." (HR. Bukhari dan Muslim). Peringatan ini menjadi semakin relevan ketika satu komentar penuh amarah bisa berujung penyesalan yang tak terbayangkan, baik bagi kesehatan mental maupun kehidupan sosial pelakunya.
Waspadalah terhadap amarah yang tidak terkendali (ghadab) dan kebencian membabi buta terhadap sesama, sebab keduanya adalah pintu masuk penyesalan yang sering kali datang terlambat.
Sebagai solusi, Allah SWT berfirman, "Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia." (QS. Fussilat: 34).
Jadilah seperti air yang tetap tenang mengalir meski dilempari batu, karena ia tahu batu itu hanya akan tenggelam ke dasarnya sendiri.
Jadilah pula seperti pohon yang tetap berbuah manis meski dilempari orang yang ingin memetiknya dengan kasar.
Ingatlah bahwa setiap kata kebencian yang kita ucapkan kelak akan kembali kepada diri kita sendiri, sebagaimana setiap kelembutan yang kita berikan akan menjadi cahaya di hari perhitungan.
Ya Allah, jagalah hati kami dari amarah yang menjerumuskan pada penyesalan, ajarkan kami untuk membalas kebencian dengan kasih sayang sebagaimana Rasul-Mu mengajarkannya, dan lindungilah kami dari kegilaan hawa nafsu yang berujung sesal berkepanjangan. Amin. (20082026)