Opini post author Kiwi 16 Agustus 2026

Insomnia Digital

Photo of Insomnia Digital

Oleh: Ahmad Jais @Mind Healing Center, Jalan Karya Sosial Kompleks Bali Asri 2 F 18, Pontianak, Kalimantan Barat. www.mhtindonesia.com


"PIKIRAN yang tidak pernah diberi jeda akan menjadikan malam sebagai medan perang, bukan tempat peristirahatan." (Imam Al-Ghazali)

Jam sudah menunjukkan pukul dua dini hari, namun mata masih terjaga menatap layar Handphone (HP), scroll demi scroll, notifikasi demi notifikasi, hingga tanpa sadar waktu tidur yang seharusnya sudah berlalu jauh sekali.

Esok pagi harus bangun untuk bekerja, namun tubuh terasa lelah sementara pikiran justru semakin terjaga karena cahaya biru dan derasnya informasi yang tak pernah berhenti mengalir. Ini bukan sekadar kebiasaan buruk semata, melainkan kondisi yang dialami begitu banyak orang di era digital, insomnia yang lahir bukan dari kesulitan fisik, melainkan dari pikiran yang terus dipaksa bekerja hingga larut malam.

Dalam perspektif psikologi, kondisi ini dikenal sebagai gangguan tidur akibat overstimulasi kognitif, otak yang terus-menerus menerima rangsangan visual dan informasi dari HP, WAG membuat hormon melatonin (pemicu rasa kantuk) tertekan, sementara hormon kortisol (pemicu kewaspadaan) justru meningkat.

Dalam perspektif agama, kondisi ini juga dapat dipahami sebagai ketidakseimbangan antara jasad dan ruh, Allah menciptakan malam sebagai waktu istirahat dan siang sebagai waktu mencari penghidupan, namun kebiasaan modern kerap membalikkan fitrah ini. Allah SWT berfirman,

"Dan Kami jadikan tidurmu untuk istirahat, dan Kami jadikan malam sebagai pakaian." (QS. An-Naba: 9-10).

Ayat ini menegaskan bahwa tidur bukan sekadar kebutuhan biologis, melainkan anugerah yang Allah rancang sebagai bentuk kasih sayang bagi tubuh dan jiwa manusia.

Sebagai salah satu ikhtiar mengatasi keluhan ini, Teknik Terapi Pikiran (Mind Healing) dapat menjadi pendamping yang membantu menenangkan pikiran yang terlanjur terlalu aktif menjelang malam, sehingga tubuh perlahan kembali selaras dengan ritme alaminya untuk beristirahat.

Caranya, mulailah dengan meletakkan HP jauh dari jangkauan, lalu duduk atau berbaring dengan posisi senyaman mungkin. Relakskan seluruh tubuh secara perlahan, mulai dari ujung kepala hingga ujung kaki, sambil membisikkan dalam hati tiga kata penuh makna: "Relaks... Tenang... Damai..."

Ucapkan berulang kata-kata tersebut dengan lembut, rasakan setiap otot yang tegang mulai melemas, pikiran yang berkecamuk mulai melambat, dan hati yang gelisah perlahan mereda. Setelah tubuh benar-benar relaks, pikiran tenang, dan hati mulai damai, ucapkan dalam hati kalimat afirmasi penuh tawakal,

"Dengan izin Allah, malam ini aku beristirahat dengan tenang. Apa yang menjadi urusanku, aku serahkan sepenuhnya kepada-Nya."

Ulangi teknik relaksasi dan afirmasi ini selama beberapa menit, lalu tutuplah dengan mengucapkan rasa syukur, sambil merasakan perubahan positif yang mulai terjadi pada diri, napas yang lebih teratur, kelopak mata yang mulai terasa berat, atau ketenangan yang perlahan menyelimuti seluruh tubuh.

Teknik sederhana ini secara umum dapat membantu menenangkan sistem saraf yang terlanjur waspada akibat rangsangan digital, serta mendukung tubuh untuk kembali pada kondisi alami menjelang tidur. Ini adalah ikhtiar sederhana yang bisa dilakukan kapan saja pikiran mulai enggan beristirahat.

Teruslah bersikap optimis dan berbaik sangka kepada Allah, sebab sebagaimana sabda-Nya dalam hadis qudsi, "Aku sesuai dengan persangkaan hamba-Ku kepada-Ku." (HR. Bukhari dan Muslim). Pikiran yang kita tanamkan menjelang tidur : penuh kekhawatiran atau penuh ketenangan akan turut membentuk kualitas istirahat kita malam ini.

Ya Allah, relakskan tubuh kami, tenangkan pikiran kami, dan damaikan hati kami yang terlanjur terjaga. Jauhkanlah kami dari kegelisahan digital yang merampas waktu istirahat kami, dan anugerahkanlah tidur yang nyenyak sebagai bentuk kasih sayang-Mu. Amin. (15082026)

Keywords

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda