Opini post author Kiwi 15 Agustus 2026

Merawat Warisan, Menjaga Marwah: Hadrah dalam Denyut Kebudayaan Melayu

Photo of Merawat Warisan, Menjaga Marwah: Hadrah dalam Denyut Kebudayaan Melayu

Penulis: Hendra Suhermanto, S.Sos / Koordinator Perlombaan Seni Hadrah Festival Budaya Melayu XIV, Pengurus MABM Kota Pontianak, dan Sekretaris Umum PP IKA FISIP UNTAN

Festival Budaya Melayu XIV bukan sekadar panggung untuk menampilkan kesenian yang indah dipandang mata. Lebih dari itu, festival ini seharusnya menjadi ruang untuk menghidupkan kembali ingatan kolektif tentang siapa kita, dari mana kita berasal, serta warisan apa yang akan kita titipkan kepada generasi penerus.

Karena itu, para pelaku seni hadrah Melayu harus mengambil tempat. Mari hadir, tampil, dan meramaikan Festival Budaya Melayu XIV. Jangan biarkan hadrah hanya menjadi kenangan yang tersimpan dalam cerita orang-orang tua kita.

Hadrah bukan sekadar tabuhan rebana dan lantunan syair. Di dalamnya terdapat nilai, adab, kebersamaan, dakwah, serta napas kebudayaan Melayu. Hadrah lahir dan tumbuh bersama masyarakat, menjadi bagian dari kehidupan sosial dan spiritual orang Melayu.

Jika hari ini suara hadrah mulai jarang terdengar, maka yang sedang kita kehilangan bukan hanya sebuah pertunjukan seni, melainkan bagian dari identitas budaya Melayu itu sendiri.

Jangan sampai festival budaya Melayu hanya ramai dengan kemasan baru, tetapi sunyi dari warisan lama.

Kita tentu tidak menolak kreativitas. Budaya memang harus berkembang mengikuti zaman. Namun, berkembang bukan berarti menggusur. Modernisasi jangan sampai membuat kesenian tradisional sekadar menjadi pajangan seremonial yang hanya muncul ketika festival digelar.

Hadrah harus tetap diberi ruang. Anak-anak muda harus diperkenalkan dan dilibatkan. Sanggar-sanggar seni harus diberdayakan. Para seniman senior harus dihormati sebagai penjaga pengetahuan dan warisan budaya. Sementara itu, panggung-panggung kebudayaan harus menjadi ruang pertemuan antara tradisi lama dengan kreativitas generasi baru.

Dalam adat Melayu terdapat petuah: “Yang lama jangan dibuang, yang baru jangan ditolak.”

Maknanya jelas: kita boleh menerima perubahan, tetapi jangan sampai kehilangan akar. Kemajuan tidak seharusnya membuat kita lupa kepada warisan yang membentuk jati diri.

Maka, Festival Budaya Melayu XIV harus menjadi momentum untuk mengatakan dengan lantang: hadrah masih hidup, hadrah masih relevan, dan hadrah adalah bagian dari wajah Melayu yang tidak boleh ditenggelamkan oleh zaman.

Kepada para seniman dan kelompok hadrah Melayu, mari datang dan tampil. Bawakan rebana, lantunkan syair, hidupkan panggung, dan tunjukkan kepada generasi muda bahwa kebudayaan Melayu bukan sekadar cerita masa lalu.

Sebab, bangsa yang besar bukanlah bangsa yang paling cepat meninggalkan masa lalunya, melainkan bangsa yang mampu membawa warisannya berjalan gagah menuju masa depan.

Festival boleh berganti tahun, zaman boleh berganti rupa, tetapi jati diri Melayu jangan sampai hilang ditelan zaman.

Hidupkan hadrah. Rawat warisan. Tegakkan marwah Melayu. (*)

Keywords

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda