Oleh: Ahmad Jais @ Mind Healing Center, Jalan Karya Sosial Kompleks Bali Asri 2 F 18, Pontianak, Kalimantan Barat
"Kelelahan seorang ibu bukanlah kelemahan, melainkan tanda betapa besar cinta yang ia curahkan hingga melampaui batas dirinya sendiri." (Virginia Satir,1988)
Ada hari ketika seorang ibu bangun sebelum matahari terbit, menyiapkan kebutuhan keluarga, mengantar anak, kemudian berangkat bekerja dengan pikiran yang sudah penuh.
Di tempat kerja ia dituntut profesional, produktif, dan menyelesaikan berbagai tanggung jawab. Setelah pulang, pekerjaan belum benar-benar selesai.
Masih ada anak yang membutuhkan perhatian, rumah yang harus diurus, pasangan yang perlu ditemani, dan berbagai persoalan keluarga yang menunggu.
Tubuh mungkin sudah sangat lelah, tetapi pikirannya masih terus bekerja. Malam tiba, namun istirahat terasa belum benar-benar hadir.
Ia tersenyum di hadapan keluarga, sementara jauh di dalam dirinya muncul pertanyaan, “Sampai kapan aku harus sekuat ini?”
Dalam perspektif psikologi, kondisi ini dikenal sebagai maternal burnout, di mana tuntutan peran ganda sebagai profesional dan pengaruh utama memicu kelelahan emosional, penurunan energi, hingga gejala psikosomatik seperti sakit kepala, nyeri punggung, dan gangguan pencernaan.
Dalam pandangan biology of belief, tubuh merekam setiap keyakinan dan perasaan tertekan menjadi respons biokimia: hormon kortisol yang terus tinggi membuat sistem imun melemah dan tubuh sulit pulih.
Sementara dari sudut pandang agama, kelelahan yang dibiarkan tanpa penyerahan diri kepada Allah dapat menumbuhkan keluh kesah berkepanjangan, menjauhkan hati dari ketenangan, dan berpotensi menimbulkan kelelahan spiritual yang memengaruhi hubungan dengan diri, keluarga, dan Sang Pencipta.
Sebagai salah satu upaya memperbaiki diri, dikenal sebuah Teknik Terapi Pikiran (Mind Healing) yang sederhana namun mendalam, untuk membantu tubuh dan jiwa kembali pada keseimbangannya yang alami.
Mulailah dengan duduk atau berbaring dengan nyaman, lalu relakskan seluruh bagian tubuh dari ujung kepala hingga ujung kaki, sambil dalam hati mengucapkan perlahan kalimat "RELAKS... TENANG... DAMAI" berulang kali hingga terasa ketegangan mengendur dan napas menjadi lebih teratur; setelah tubuh relaks, pikiran tenang, dan hati damai.
Ucapkanlah dalam hati kalimat afirmasi dan doa penuh tawakal,
"Dengan izin Allah, tubuh dan jiwaku pulih dari kelelahan ini, aku mampu menjalani peran sebagai ibu dan pekerja dengan ringan hati. Apa yang menjadi urusanku, aku serahkan sepenuhnya kepada-Nya,"
Ulangi kalimat tersebut dengan penuh penghayatan selama beberapa menit; lalu tutuplah dengan mengucap syukur.
Teknik sederhana ini bekerja dengan menenangkan sistem saraf yang tegang, mendukung tubuh kembali pada kondisi alaminya untuk beristirahat dan memulihkan diri.
Ini bukan pengganti usaha lahiriah seperti berbagi peran dengan pasangan atau mengatur waktu, melainkan ikhtiar batin yang bisa dilakukan kapan saja di sela kesibukan, sebelum tidur, atau saat rehat sejenak.
Kelelahan ini bukanlah akhir dari perjuangan. Dengan izin Allah Swt., tubuh yang letih akan kembali berenergi, hati yang gundah akan kembali tenteram, dan peran sebagai ibu sekaligus perempuan bekerja akan terasa lebih ringan dijalani.
Tetaplah bersikap optimis dan berbaik sangka kepada Allah. Jangan biarkan pikiran mengatakan bahwa semuanya akan selalu berat. Dalam sebuah hadis qudsi disebutkan bahwa Allah sesuai dengan persangkaan hamba-Nya kepada-Nya.
Karena itu, jagalah cara kita memandang diri, kehidupan, dan masa depan. You are what you think, pikiran bukanlah seluruh kenyataan, tetapi cara kita memandang kehidupan dapat memengaruhi cara kita menjalaninya.
Ya Allah, Engkau Maha Mengetahui betapa lelah hamba-Mu ini menjalani peran sebagai ibu sekaligus perempuan yang bekerja.
Kuatkanlah tubuhnya, tenangkanlah hatinya, dan angkatlah kelelahan ini menjadi keringanan dan keberkahan. Jadikan setiap langkahnya sebagai ibadah yang Engkau ridhai. Amin. (19082026)