Ponticity post author Kiwi 22 Agustus 2026

Kanalisasi PT Mayawana Persada Picu Karhutla, Link-AR Borneo Desak Pemerintah Evaluasi Izin Konsesi

Photo of Kanalisasi PT Mayawana Persada Picu Karhutla, Link-AR Borneo Desak Pemerintah Evaluasi Izin Konsesi Lingkaran garis hitam: Areal konsesi PT Mayawana Persada

PONTIANAK, SP - Lembaga Lingkaran Advokasi dan Riset (Link-AR) Borneo mengungkap adanya dugaan pengrusakan ekosistem gambut dan habitat orang utan yang dilakukan oleh korporasi kehutanan PT Mayawana Persada di Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat.

Direktur Eksekutif Link-AR Borneo, Ahmad Syukri (36), menyatakan bahwa aktivitas kanalisasi yang dilakukan perusahaan di bagian selatan konsesi telah menyebabkan bentang gambut mengering secara masif, sehingga meningkatkan kerentanan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di kawasan tersebut.

"Pemerintah tetap harus mengevaluasi dampak-dampak lingkungan yang terjadi, termasuk misalnya habitat orang utan yang dirusak. Kemudian ekosistem gambut yang mereka hancurkan, terutama di selatan konsesi kawasan Kayong Utara," ujar pria yang akrab disapa Uki tersebut, Sabtu (22/8/2026).

Uki menerangkan bahwa pembuatan kanal buatan di kawasan gambut mempercepat pengeringan air tanah. Akibatnya, muncul sejumlah titik api (*hotspot*) di dalam wilayah konsesi yang bahkan membuat pihak perusahaan kewalahan dalam proses pemadaman.

"Sekarang itu kan sudah dikanal-kanal sama mereka, itu membuat gambut kering dan sekarang berpotensi Karhutla. Kita juga telah menemukan ada banyak titik api di sana, kenyataannya perusahaan juga hampir kewalahan untuk memadamkan api tersebut," jelasnya.

Ia menyoroti bahwa ancaman bencana kabut asap Karhutla lahir dari kelonggaran izin yang mengabaikan fungsi perlindungan gambut alami. Kondisi tersebut diperparah dengan fenomena iklim kering El Nino yang tengah melanda.

"Pemerintah harusnya mengerti dan menyadari bahwa sejatinya bencana asap akibat kebakaran hutan dan lahan itu akibat mereka memberikan izin pengrusakan ekosistem gambut yang sudah ada. Andaikan ekosistem gambut tetap ditutupi oleh tutupan hutan, ia akan tetap lembap di bawah dan tidak dibuat kanal. Mau api sebanyak apa pun melompat dari ladang masyarakat di luar konsesi, tidak akan terjadi kebakaran hebat. Sekarang gambutnya kering parah, api akan menyebar luas dan sangat sulit dipadamkan, ditambah situasi El Nino saat ini," pungkas Uki. (jee)

Keywords

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda