SINGKAWANG, SP - Manggala Agni Kalimantan XI/Singkawang melakukan koordinasi penguatan pengendalian kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di wilayah perbatasan Kabupaten Sambas.
Kepala Daops Manggala Agni XI/Skw, Yuyu Wahyudin mengatakan, wilayah Kabupaten Sambas berbatasan langsung dengan Malaysia, memiliki hutan, lahan gambut dan lahan kering yang rawan terbakar sehingga apabila terjadi kebakaran maka asap sangat mudah melintas batas dan berdampak luas.
Menyikapi hal tersebut, pihaknya melakukan audiensi bersama Pemkab Sambas untuk membahas kesiapan dan penguatan sinergi dalam pencegahan serta penanganan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kabupaten Sambas.
"Koordinasi difokuskan pada deteksi dini, patroli wilayah rawan, kesiapan personel dan sarana prasarana, serta percepatan penanganan apabila terjadi kebakaran," kata Yuyu, Jumat (21/8).
Dia mengatakan audiensi tersebut penting untuk memastikan kesiapan bersama di tingkat lapangan,
"Kami ingin memastikan personel, sarana prasarana, dan informasi di lapangan siap. Jika ada indikasi kebakaran, kita harus bisa bergerak cepat sebelum api meluas,” ujarnya.
Dia menambahkan, Manggala Agni akan terus memperkuat patroli, pemantauan wilayah rawan, dan edukasi kepada masyarakat.
Koordinasi dengan pemerintah daerah hingga tingkat desa juga akan terus dilakukan untuk memperkuat pencegahan.
Audiensi ini sekaligus menjadi bentuk apresiasi Manggala Agni terhadap Pemerintah Kabupaten Sambas yang terus membangun koordinasi dengan berbagai stakeholder dalam penanggulangan Karhutla.
"Melalui sinergi yang terjaga, seluruh pihak diharapkan semakin siap melakukan pencegahan, deteksi dini, dan penanganan Karhutla secara cepat dan terpadu," ungkapnya.
Sementara itu, Koordinator Manggala Agni Kalimantan Barat, Sahat Irawan Manik menegaskan, bahwa pengendalian Karhutla membutuhkan keterlibatan seluruh pihak,
"Karhutla tidak bisa ditangani oleh satu instansi saja. Oleh karena itu, pemerintah daerah, Manggala Agni, TNI, Polri, dunia usaha dan masyarakat harus bergerak bersama. Koordinasi yang kuat akan mempercepat deteksi dan penanganan sehingga api tidak berkembang lebih luas,” kata Sahat. (rud)