Ponticity post author Kiwi 21 Agustus 2026

Bruder Stephanus Paiman OFMCap Jalani Pekan Duka, Dua Sahabat Berpulang dengan Kisah dan Pengabdian yang Membekas

Photo of Bruder Stephanus Paiman OFMCap Jalani Pekan Duka, Dua Sahabat Berpulang dengan Kisah dan Pengabdian yang Membekas

PONTIANAK, SP - Pekan ini menjadi masa penuh duka bagi Bruder Stephanus Paiman OFMCap, Ketua Forum Relawan Kemanusiaan Pontianak (FRKP).

Dalam rentang waktu berdekatan, dua sahabat yang selama ini hadir dalam perjalanan hidup, pelayanan, kemanusiaan, dan kebudayaan yang digelutinya, berpulang menghadap Sang Khalik.

Keduanya adalah Kristian Mara, seniman Dayak dan maestro Sape’ asal Jangkang, Sanggau, serta Yoh Eddy Chandra, sosok yang dikenal memiliki kepedulian tinggi terhadap sesama dan kerap membantu berbagai kegiatan kemanusiaan FRKP.

Dua sosok itu pergi dengan cerita yang berbeda. Namun, bagi Bruder Stephanus, keduanya meninggalkan kesan yang sama: pribadi baik, bersahaja, tulus membantu, dan memberikan arti bagi orang-orang di sekitarnya.

Kristian Mara, Seniman Dayak yang Menjaga Napas Tradisi

Kristian Mara berpulang pada Rabu (19/8/2026) pukul 18.22 WIB. Kepergiannya menyelimuti duka keluarga, umat Kuasi Paroki St. Petrus Canisius, komunitas seni dan budaya Dayak, serta sahabat-sahabat yang selama ini mengenal dekat perjalanan hidupnya.

Kristian dikenal sebagai seniman yang mendedikasikan hidupnya untuk menjaga dan mengembangkan musik tradisi Dayak, khususnya budaya Dayak Jangkang, Sanggau.

Ia bukan hanya piawai memainkan Sape’. Dari tangannya lahir berbagai karya musik dan alat musik tradisional. Ia menciptakan lagu, menggarap musik, sekaligus membuat sendiri instrumen seperti Sape’ dan Gong.

Kecintaannya terhadap seni juga tidak berhenti pada karya pribadi. Kristian turut memikirkan keberlanjutan tradisi dengan mengenalkan dan mengajarkan seni Sape’ kepada generasi muda, termasuk anak-anak muda yang berproses bersama FRKP.

Bagi Bruder Stephanus, Kristian adalah sosok seniman yang tidak hanya memiliki kemampuan, tetapi juga memiliki ketulusan dan kesederhanaan dalam menjalani kehidupan.

“Satu lagi sahabatku menghadap Sang Khalik... Kristian Mara, sosok yang sangat baik dan bersahaja. Seorang seniman Dayak yang tidak hanya pandai memetik Sape’, tetapi juga menciptakan instrumennya sendiri dengan penuh kasih,” kenang Bruder Stephanus.

“Selamat jalan saudaraku menuju Rumah Keabadian, bersatu dalam imanmu pada Yesus Kristus,” lanjutnya.

Kenangan mengenai Kristian juga datang dari Tien Andjioe, keponakan Bruder Stephanus yang pernah berproses bersama almarhum di Sanggar Bengkawan, Betang Sutoyo.

Tien mengenang Kristian sebagai pribadi yang berdedikasi, rendah hati, dan tidak pernah mengeluh dalam menjalani aktivitas seni.

Salah satu kenangan yang paling membekas adalah perjuangan sederhana Kristian ketika mengikuti latihan di sanggar. Ia biasa mengayuh sepeda dari rumahnya di kawasan Ayani 2 menuju tempat latihan. Tidak jarang, sepeda tersebut juga digunakan untuk membonceng istri dan anaknya.

“Sepeda itu adalah saksi bisu perjuangan beliau untuk seni,” tutur Tien.

Ada pula kisah unik yang hingga kini tetap dikenang. Pada masa awal latihan di sanggar, kawasan sekitar rumah Kristian masih berupa hutan. Suatu malam, setelah latihan menari, rombongan harus mengambil alat musik ke rumahnya dan sempat mengalami kejadian yang mereka anggap sebagai kemunculan hantu obor api.

Di tengah kepanikan, Kristian justru tetap tenang.

Menurut Tien, Kristian mengatakan bahwa kejadian seperti itu sudah biasa terjadi di sekitar tempat tinggalnya sehingga tidak perlu takut atau berlari. Sikap tenang dan mengayominya membuat suasana yang semula mencekam kembali terkendali.

Kini, seniman itu telah pergi. Namun, petikan Sape’ dan dentang Gong yang dibuat dengan tangannya akan terus menjadi bagian dari ingatan dan warisan kebudayaan yang pernah ia rawat dengan sepenuh hati.

Yoh Eddy Chandra, Sahabat yang Membantu Tanpa Pamrih

Belum lepas dari duka atas kepergian Kristian Mara, Bruder Stephanus juga harus menerima kabar berpulangnya sahabat lainnya, Yoh Eddy Chandra.

Bagi keluarga besar FRKP, Eddy bukan sosok asing. Ia dikenal memiliki jiwa sosial tinggi, peduli terhadap masyarakat kecil, dan bersedia membantu berbagai kegiatan kemanusiaan tanpa mengharapkan namanya disebut.

“Alm Eddy orang baik yang kukenal. Jiwa sosialnya tinggi, sangat perhatian pada orang kecil. Sering ikut partisipasi dalam kegiatan forum, tapi tidak mau disebutkan namanya,” ujar Bruder Stephanus.

Eddy cukup sering membantu kegiatan FRKP, terutama ketika almarhum Andel masih aktif. Eddy saat itu dikenal sebagai pengemudi Andel dan turut mendukung mobilitas berbagai kegiatan sosial dan kemanusiaan.

Salah satu kenangan terakhir Bruder Stephanus bersama Eddy terjadi ketika almarhum masih mengemudikan kendaraan yang membawa Bruder Stephanus bersama Domi, Iyon dan Acong dalam penanganan kasus Sungkio dan Aten di Polres Sanggau.

Namun, yang paling membekas bagi Bruder Stephanus adalah percakapan terakhirnya dengan Eddy, sehari sebelum sahabatnya itu berpulang.

Dalam percakapan tersebut, Eddy meminta Bruder Stephanus untuk mendoakannya.

Bruder Stephanus kemudian memberikan penguatan agar Eddy tidak menyerah dan tetap percaya kepada Tuhan.

“Mohon doanya. Selalu kubawa dalam doa. Jangan pernah menyerah, Allah akan memberikan yang terbaik untukmu. Aku pernah mengalaminya. Semoga Allah memberikan yang terbaik untuk Bro Edy Chandra, yakni kesembuhan. Amin,” demikian pesan Bruder Stephanus.

Eddy kemudian membalas dengan kalimat yang memperlihatkan keyakinannya kepada Tuhan di tengah kondisi yang sedang dihadapinya.

“Amin... saya percaya Tuhan Yesus tidak pernah meninggalkan saya walau saya sering mengecewakan Tuhan. Besar kasih setia-Nya. Terima kasih buat doanya. Tuhan memberkati,” tulis Eddy.

Percakapan itu ternyata menjadi komunikasi terakhir mereka. Tidak lama berselang, kabar duka datang. Doa yang sebelumnya dipanjatkan agar Eddy memperoleh kesembuhan kemudian berubah menjadi doa agar ia mendapat tempat terbaik di sisi Tuhan.

“Allah telah memberikan yang terbaik untukmu, Bro Eddy Chandra. Semoga Allah mengampuni kesalahanmu dan memperhitungkan iman dan perbuatan baikmu serta memberimu tempat di sisi-Nya. Amin,” tulis Bruder Stephanus.

“Selamat jalan menuju rumah keabadian, Bro Eddy,” lanjutnya.

Kabar meninggalnya Eddy disampaikan Domi kepada Bruder Stephanus pada siang hari. Setelah itu, FRKP turut membantu menjemput jenazah Eddy dari RSUD Soedarso Pontianak untuk dibawa ke kediaman keluarga di Jalan Tebu, Jeruju.

Rencananya, setelah misa requiem di kediaman almarhum sekitar pukul 09.00 WIB, jenazah Eddy diberangkatkan menuju pemakaman Katolik di Ambawang.

Dua Sahabat, Dua Kisah, Satu Kenangan

Bagi Bruder Stephanus, kepergian Kristian Mara dan Yoh Eddy Chandra dalam pekan yang sama menjadi kehilangan yang tidak mudah.

Kristian meninggalkan warisan berupa seni, Sape’, Gong, lagu, serta pengetahuan budaya yang diwariskan kepada generasi muda.

Sementara Eddy meninggalkan jejak pengabdian dalam kesunyian. Ia membantu berbagai kegiatan kemanusiaan tanpa meminta penghargaan dan bahkan tidak ingin namanya disebut.

Keduanya berbeda dalam jalan pengabdian, tetapi memiliki satu kesamaan: memberi tanpa banyak bicara dan meninggalkan kebaikan bagi orang lain.

Pekan duka itu pun menjadi ruang bagi Bruder Stephanus untuk mengenang kembali perjalanan bersama dua sahabatnya—satu melalui petikan Sape’ dan denyut kebudayaan Dayak, satu lagi melalui kemanusiaan dan kesediaan membantu mereka yang membutuhkan. Kini keduanya telah menuju Rumah Keabadian.

“Selamat jalan, Bang Mara. Seluruh karya, kebaikan, dan kenangan unik yang engkau goreskan akan senantiasa hidup dan terpatri di hati kami,” ungkap Bruder Stephanus.

Kepada Eddy, ia juga menyampaikan doa yang sama. “Selamat jalan, Bro Eddy Chandra. Semoga Tuhan mengampuni segala kesalahanmu, menerima iman dan perbuatan baikmu, serta menempatkanmu di rumah keabadian. Amin.”

Bagi Bruder Stephanus dan keluarga besar FRKP, dua sahabat itu mungkin telah pergi, tetapi kebaikan yang mereka tinggalkan tidak ikut terkubur. Ia akan tetap hidup dalam karya, pelayanan, kebudayaan, persahabatan, dan kenangan orang-orang yang pernah berjalan bersama mereka.

Selamat jalan, Kristian Mara. Selamat jalan, Yoh Eddy Chandra. Dua sahabat dengan kisah berbeda, tetapi sama-sama meninggalkan jejak kebaikan. (*)

Keywords

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda