Oleh: Pastor Immanuel Chandra OFMCAP / Kandidat Master Study di Roma, Italia
AKU terus terang tidak terlalu sependapat kalau setiap kali terjadi kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan, masyarakat adat yang melakukan ladang berpindah kemudian menjadi salah satu pihak yang paling cepat dituding. Memang benar, dalam praktik ladang berpindah, masyarakat menggunakan api untuk membuka lahan.
Aku tidak mau menyangkal itu. Tetapi menurutku kita juga perlu melihat bagaimana sebenarnya cara mereka melakukannya. Praktik seperti ini sudah dilakukan oleh masyarakat adat selama banyak generasi. Mereka bukan baru kemarin menemukan cara membuka lahan dengan membakar.
Dalam banyak masyarakat adat, pembakaran juga tidak dilakukan sembarangan. Ada aturan adat, ada batas lahan yang dibuka, ada waktu tertentu, ada cara untuk menjaga agar api tidak menyebar, dan biasanya dilakukan bersama-sama.
Jadi menurutku pertanyaannya jangan berhenti pada, "Apakah masyarakat adat membakar?" Ya, sebagian memang membakar. Tetapi pertanyaan yang menurutku jauh lebih penting adalah: mengapa api yang dahulu bisa dikendalikan sekarang bisa berubah menjadi kebakaran yang begitu besar dan sulit dihentikan? Menurutku di situlah kita perlu melihat persoalannya lebih jauh.
Aku tidak mengatakan bahwa ladang berpindah sama sekali tidak punya risiko. Tentu ada. Api dari pembukaan lahan bisa menjadi salah satu sumber kebakaran. Tetapi menurutku sangat tidak adil kalau kemudian kebiasaan itu dijadikan alasan utama untuk menjelaskan kebakaran besar yang terjadi di Kalimantan sekarang.
Kita harus membedakan antara api yang digunakan secara terbatas untuk membuka ladang dengan kebakaran besar yang terjadi di wilayah yang sudah mengalami banyak perubahan. Hutan sudah banyak dibuka. Lahan gambut dikeringkan.
Saluran air dibuat ke berbagai tempat. Hutan menjadi terpecah-pecah. Perkebunan jadi semakin luas. Pertambangan masuk. Jalan dibangun. Permukiman bertambah. Dan berbagai kegiatan manusia lainnya juga semakin banyak.
Gambut menurutku adalah contoh yang paling jelas. Gambut itu sebenarnya banyak menyimpan air. Kalau kondisinya masih baik dan tetap basah, gambut tidak mudah terbakar.
Masalahnya muncul ketika air di dalam gambut terus dikeluarkan dan tanah gambut menjadi kering. Ketika gambut sudah kering, keadaannya berubah. Sedikit saja ada api, kebakaran bisa menjadi jauh lebih sulit dikendalikan. Api bukan hanya membakar daun, rumput, atau pohon yang ada di atas tanah. Api juga bisa masuk ke dalam gambut dan membakar bagian tanah yang sebenarnya sudah terbentuk selama ribuan tahun.
Penelitian ilmiah sudah banyak menunjukkan bahwa gambut yang dikeringkan dan rusak menjadi jauh lebih mudah terbakar. Penelitian di Kalimantan Barat juga menunjukkan adanya hubungan antara perubahan lahan, pengeringan gambut, dan kebakaran yang berulang.
Jadi kalau aku melihat satu titik kebakaran lalu langsung mengatakan, "Ini karena masyarakat membuka ladang dengan membakar," menurutku kita hanya melihat bagian paling ujung dari persoalannya. Api memang penting. Tetapi menurutku kita juga harus melihat mengapa wilayah itu sekarang menjadi begitu mudah terbakar.
Aku membayangkan alam seperti tubuh manusia. Tubuh manusia sebenarnya punya kemampuan untuk memperbaiki dirinya sendiri. Kalau kita terluka, tubuh berusaha menyembuhkan luka itu. Kalau kita kurang tidur satu atau dua hari, tubuh masih bisa memulihkan diri.
Alam juga begitu. Hutan yang rusak sebenarnya masih bisa tumbuh kembali. Tanah masih bisa memulihkan kesuburannya. Air hujan sebenarnya masih bisa masuk kembali ke tanah. Jadi tumbuhan masih bisa tumbuh. Hewan masih bisa berkembangbiak untuk mempertahankan jenisnya. Alam sebenarnya punya kemampuan untuk memperbaiki dirinya sendiri. Tetapi kemampuan itu tentu ada batasnya.
Kalau kita merusak sedikit, alam masih punya waktu untuk memperbaiki diri. Tetapi kalau kita merusak lebih cepat daripada kemampuan alam untuk pulih, lama-lama alam tidak mampu mengejar kerusakan yang kita buat. Aku lebih suka menyebutnya bukan alam kehilangan kemampuan untuk memperbaiki diri.
Tetapi kemampuan alam untuk pulih saat ini ku rasa sudah kalah cepat dibandingkan kecepatan manusia merusaknya. Dan menurutku Kalimantan sedang menghadapi persoalan seperti itu. Kita membuka hutan. Kita mengeringkan gambut. Kita membuat saluran air yang mengeluarkan air dari tanah.
Kita mengubah hutan menjadi perkebunan. Kita melakukan pertambangan. Kita membangun jalan jalan beton yang menghilangkan resapan air ke tanah. Kita membuka permukiman dalam skala besar tapi berakhir dengan banyak yang tidak berpenghuni. Semua itu menurutku tidak bisa dikatakan otomatis sebagai sesuatu yang salah.
Aku sendiri tidak menolak pembangunan. Aku tidak menolak pembangunan permukiman penduduk. Aku tidak menolak perkebunan. Aku tidak menolak jalan, aspal, industri, atau kegiatan ekonomi.Kita memang membutuhkan semua itu.
Tetapi menurutku pembangunan harus tetap memperhatikan keadaan alam tempat kita membangun. Karena alam juga punya batas.
Dan di sinilah menurutku pemerintah mempunyai tanggung jawab yang sangat besar. Aku kadang merasa kita terlalu sering membicarakan siapa yang membakar, tetapi terlalu sedikit membicarakan siapa yang membiarkan kondisi lingkungan menjadi semakin mudah terbakar.
Pemerintah punya kewenangan untuk memberikan izin. Pemerintah punya kewenangan untuk mengawasi. Pemerintah punya kewenangan untuk menindak yang mereka tidak sesuai. Pemerintah juga punya kewenangan untuk menghentikan kegiatan yang terbukti merusak lingkungan.
Karena itu menurutku pemerintah tidak boleh hanya hadir ketika kebakaran sudah terjadi. Pemerintah harus hadir ketika izin pembukaan lahan diberikan. Harus hadir ketika hutan mulai dibuka. Harus hadir ketika perkebunan semakin luas. Harus hadir ketika pertambangan berjalan. Harus hadir ketika saluran air dibuat di daerah gambut. Dan harus hadir ketika ada laporan bahwa lingkungan mulai rusak.
Aku tentu tidak mengatakan bahwa semua izin pembukaan lahan itu salah. Tentu tidak. Pembangunan memang kita perlukan. Tetapi menurutku kita harus berani bertanya: apakah setiap izin yang diberikan sudah benar-benar memperhitungkan keadaan lingkungan? Apakah pemerintah sudah melihat apakah tanah gambut di tempat itu aman untuk dibuka?
Apakah pemerintah memastikan air di dalam tanah tetap terjaga? Apakah pemerintah benar-benar mengawasi perusahaan yang sudah mendapatkan izin? Apakah pertambangan ilegal benar-benar ditindak? Apakah pembukaan lahan yang melanggar aturan benar-benar dihentikan? Atau jangan-jangan kita terlalu sering membiarkan sesuatu terjadi sampai akhirnya menjadi bencana, baru setelah itu semua orang sibuk bergerak? Ini yang menurutku perlu dipertanyakan.
Karena kalau pemerintah sudah tahu bahwa gambut yang kering jauh lebih mudah terbakar, maka menjaga agar gambut tetap basah seharusnya menjadi salah satu cara utama mencegah kebakaran. Bukan hanya memadamkan api setelah semuanya terbakar.
Penelitian juga menunjukkan bahwa mengembalikan air ke tanah gambut, termasuk dengan menutup atau memperbaiki saluran-saluran yang membuat air keluar, dapat membantu mengurangi risiko kebakaran.
Jadi menurutku kalau kita benar-benar serius ingin mencegah kebakaran, jangan hanya bertanya: "Siapa yang membakar?" Kita juga harus bertanya: "Mengapa tanahnya menjadi begitu kering?" , "Mengapa airnya bisa hilang?" , "Siapa yang membuat saluran airnya?" , "Bagaimana hutan di sekitarnya berubah?" , "Siapa yang memberikan izin?" dan, "Bagaimana pengawasannya?" Menurutku ini jauh lebih penting.
Ini bukan berarti aku sedang menyalahkan pemerintah atas semua kebakaran. Bukan begitu maksudku. Aku hanya ingin mengatakan bahwa pemerintah mempunyai tanggung jawab yang lebih besar karena pemerintah mempunyai kewenangan.
Kalau masyarakat biasa membuang puntung rokok sembarangan, tentu itu salah. Kalau orang membakar sampah lalu apinya menyebar, tentu itu juga salah. Kalau ada orang sengaja membakar lahan, tentu harus ditindak. Kalau ada petani yang menggunakan api tetapi tidak mampu mengendalikan apinya, tentu juga perlu dibina.
Tetapi kalau pada saat yang sama ada pembukaan lahan dalam jumlah besar, hutan yang terus berkurang, tanah gambut yang dikeringkan, pertambangan ilegal, pelanggaran izin, dan pengawasan yang lemah, menurutku tidak adil kalau perhatian kita hanya diarahkan kepada masyarakat adat yang melakukan ladang berpindah. Masalahnya sudah jauh lebih besar daripada satu kebiasaan masyarakat.
ku juga tidak mau sembarangan mengatakan bahwa kebakaran ini pasti dilakukan oleh orang-orang tertentu. Kita harus hati-hati. Kalau memang ada orang yang sengaja membakar, cari dan tindak.
Kalau ada perusahaan yang melanggar aturan, tentu harus ditindak. Kalau ada pejabat yang lalai, segera evaluasi. Kalau ada masyarakat yang melanggar, tetap harus bertanggung jawab. Tetapi jangan sampai hukum hanya keras kepada orang yang lemah sementara orang yang mempunyai kekuasaan dan modal justru sulit disentuh.
Menurutku semua harus diperiksa dengan cara yang sama. Dan ketika terjadi kebakaran, seharusnya bukan hanya sumber apinya yang dicari. Kita juga harus melihat siapa yang mengelola lahannya, bagaimana kondisi lahan sebelum terbakar, apakah ada izin, apakah ada pembukaan lahan sebelumnya, apakah ada saluran air, dan apakah ada tanda-tanda bahwa kebakaran tersebut memang sengaja dilakukan. Kalau memang sengaja dibakar, ya ungkap. Kalau tidak sengaja, cari tahu mengapa api bisa menyebar begitu luas. Jangan langsung mencari kambing hitam.
Aku juga ingin mengatakan sesuatu yang mungkin agak sensitif. Ketika bencana sudah terjadi, biasanya pemerintah mulai turun. Ada pemadaman, patroli, bantuan, rapat, konferensi pers, dan berbagai kegiatan lainnya. Aku tentu menghargai kalau pemerintah benar-benar bekerja untuk memadamkan kebakaran.
Tetapi menurutku masyarakat juga berhak bertanya: Mengapa kita sering melihat pemerintah begitu sibuk setelah bencana terjadi, tetapi tidak selalu melihat tindakan yang sama kuatnya sebelum bencana terjadi? Mengapa pengawasan tidak seketat ketika kebakaran sudah menjadi berita besar?
Mengapa tindakan tidak terasa sebelum hutan rusak? Sebelum gambut menjadi kering? Sebelum pertambangan ilegal semakin luas? Sebelum lahan dibuka? Sebelum masalah menjadi besar? Menurutku pemerintah yang baik bukan hanya pemerintah yang terlihat ketika bencana sudah terjadi.
Pemerintah yang baik justru adalah pemerintah yang bekerja sebelum bencana terjadi. Mencegah, mengawasi, menjaga, bertindak dan memperbaiki segera setelah mengetahui ada yang tidak beres. Aku juga berpikir kita perlu berhati-hati dengan masalah anggaran. Aku tidak mengatakan bahwa setiap penanganan kebakaran pasti ada korupsinya. Tidak.
Kalau mau mengatakan ada korupsi, tentu harus ada bukti. Tetapi menurutku setiap kali ada bencana dan kemudian ada banyak uang yang dikeluarkan untuk pemadaman, bantuan, pembelian alat, pemulihan, dan berbagai kegiatan lainnya, masyarakat berhak meminta keterbukaan. Uangnya dari mana? Dipakai untuk apa? Siapa yang mengelola? Siapa yang mendapatkan proyek? Dan apakah benar-benar sampai kepada masyarakat?
Jangan sampai bencana yang seharusnya menjadi alasan untuk memperbaiki keadaan justru menjadi kesempatan bagi orang-orang tertentu untuk mencari keuntungan. Begitu juga dengan pencitraan dan menggiring opini publik untuk mencari nama baik semata.
Aku tidak mau menuduh bahwa pejabat tertentu sengaja menunggu bencana untuk mencari nama baik. Tetapi menurutku masyarakat berhak bertanya kalau pemerintah baru terlihat sangat aktif setelah masalahnya menjadi besar dan mendapat perhatian publik. Karena menurutku, mencegah kebakaran jauh lebih penting daripada terlihat hebat ketika sedang memadamkan kebakaran.
Sekarang lihat saja keadaan Kalimantan Barat. Sampai Agustus 2026, luas lahan yang terbakar sudah mencapai lebih dari 38 ribu hektare menurut data BPBD Kalimantan Barat. Beberapa wilayah mengalami kebakaran dalam jumlah yang sangat besar dan kabut asap juga mulai mengganggu jarak pandang di sejumlah tempat.
Kalau sudah begini, yang terkena dampaknya bukan hanya hutan. Masyarakat juga terkena dampaknya. Ada banyak anak-anak yang menghirup asap hasil kebakaran hutan. Orang tua yang mungkin tidak lagi mampu menghirup asap.
Orang yang punya penyakit pernapasan bisa semakin terganggu. Sekolah bisa terganggu bahkan terpaksa di banyak tempat diliburkan. Pekerjaan terganggu. Perjalanan terganggu. Dan bukan tidak mungkin gangguan kesehatan seperti ISPA meningkat ketika masyarakat terus-menerus menghirup udara yang tercemar asap.
Jadi ini bukan lagi sekadar masalah "hutan terbakar". Ini sudah menjadi masalah kehidupan manusia. Karena itu menurutku kita harus berhenti melihat kebakaran hanya sebagai masalah api. Ada masalah lingkungan. Ada masalah kesehatan. Ada masalah ekonomi. Ada masalah pemerintah. Ada masalah hukum. Dan ada pula masalah bagaimana kita memperlakukan alam selama ini.
Aku juga tidak ingin masyarakat adat dianggap sebagai kelompok yang selalu benar. Sama sekali bukan begitu maksudku. Kalau ada masyarakat yang membakar sembarangan dan menyebabkan kebakaran, tentu mereka harus bertanggung jawab.
Tetapi menurutku masyarakat adat juga jangan langsung dianggap sebagai perusak lingkungan hanya karena mereka punya kebiasaan membuka ladang dengan api. Ada banyak masyarakat adat yang selama bertahun-tahun hidup berdampingan dengan hutan dan mempunyai aturan sendiri dalam menggunakan lahan dan api.
Pengetahuan mereka juga jangan langsung kita anggap kuno. Justru menurutku pengetahuan masyarakat yang sudah hidup di sana selama beberapa generasi bisa menjadi salah satu bagian dari solusi. Ilmu pengetahuan modern dan pengetahuan masyarakat adat tidak harus saling bertentangan. Keduanya bisa dipakai bersama - sama.
Kita bisa belajar bagaimana masyarakat adat mengatur pembakaran. Kita bisa menggunakan teknologi untuk melihat titik panas. Kita bisa memperbaiki cara menjaga tanah gambut tetap basah. Kita bisa memperkuat pengawasan. Kita bisa menindak orang yang sengaja membakar. Dan kita bisa tetap melakukan pembangunan.
Menurutku tidak perlu memilih antara pembangunan atau lingkungan. Kita bisa mempunyai keduanya di saat bersamaan tanpa harus menegasi salah satu. Kita bisa punya perkebunan. Kita bisa punya jalan. Kita bisa punya rumah. Kita bisa punya industri.
Tetapi semuanya harus dilakukan dengan cara yang masih memberikan kesempatan kepada alam untuk bertahan dan memperbaiki dirinya. Karena menurutku alam bukan mesin yang bisa terus kita paksa bekerja tanpa batas. Kalau kita mengambil lebih cepat daripada alam mampu memulihkan dirinya, lama-lama yang tersisa adalah kerusakan.
Dan akhirnya kerusakan itu kembali kepada kita. Air bersih semakin sulit didapat. Udara menjadi semakin buruk untuk dihirup. Tanah semakin rusak. Banjir bisa semakin sering. Kebakaran semakin mudah terjadi. Dan kesehatan masyarakat ikut terganggu.
Jadi menurutku persoalan kebakaran Kalimantan tidak boleh disederhanakan menjadi: "Masyarakat adat membakar lahan." Kalimat itu terlalu sederhana untuk menjelaskan persoalan yang begitu besar. Aku lebih ingin kita bertanya: Mengapa Kalimantan sekarang menjadi begitu mudah terbakar? Apa yang sudah kita lakukan terhadap hutannya?
Apa yang sudah kita lakukan terhadap tanah gambutnya? Ke mana airnya? Siapa yang membuka lahannya? Siapa yang memberikan izinnya? Bagaimana pemerintah mengawasinya? Apakah semua pelanggaran benar-benar ditindak? Dan apakah pembangunan yang kita lakukan masih memberikan kesempatan kepada alam untuk memperbaiki dirinya?
Karena aku beropini di sini tidak sedang menolak pembangunan. Aku hanya ingin pembangunan dilakukan dengan akal sehat. Aku ingin kita membangun, tetapi tidak membangun dengan cara menghancurkan tempat kita sendiri untuk hidup. Aku ingin perkebunan berkembang, tetapi tidak dengan membuat tanah menjadi kering dan mudah terbakar.
Aku ingin jalan dibangun, tetapi tidak dengan menghancurkan keadaan alam yang seharusnya kita jaga. Aku ingin pertambangan berjalan kalau memang diperlukan, tetapi harus ada tanggung jawab yang jelas terhadap lingkungan. Aku ingin masyarakat mendapatkan pekerjaan dan kehidupan yang layak, tetapi jangan sampai demi mengejar keuntungan hari ini kita mewariskan kerusakan kepada anak-anak kita nanti.
Karena pada akhirnya, menurutku alam memang punya kemampuan untuk memperbaiki dirinya. Tetapi kemampuan itu ada batasnya. Kalau kita merusak lebih cepat daripada alam mampu pulih, maka suatu hari nanti kita akan merasakan sendiri akibatnya. Dan mungkin kebakaran yang kita lihat sekarang bukan hanya cerita tentang siapa yang menyalakan api.
Mungkin ini juga cerita tentang sebuah alam yang sudah terlalu lama kita paksa untuk menanggung kerusakan. Karena itu, sebelum kita menunjuk masyarakat adat dan berkata, "Merekalah penyebabnya," menurutku kita perlu berhenti sebentar.
Lihat lebih luas. Lihat hutannya, gambutnya. Lihat airnya, perkebunannya, pertambangannya. Lihat izinnya. Lihat pengawasannya. Lihat bagaimana pemerintah bekerja. Dan lihat juga bagaimana kita semua memperlakukan lingkungan. Karena pertanyaan yang sebenarnya menurutku bukan hanya: "Siapa yang membakar?" Tetapi: "Mengapa Kalimantan sekarang menjadi jauh lebih mudah terbakar?"
Dan setelah kita menemukan jawabannya, kita harus berani bertanya lagi: "Siapa yang bertanggung jawab untuk memastikan keadaan seperti ini tidak terus terjadi?" Menurutku, kalau kita berani menjawab dua pertanyaan itu dengan jujur, barulah kita benar-benar mulai mencari jalan keluar. (*)