By: Ahmad Jais @ Mind Healing Center. Jalan Karya Sosial Kompleks Bali Asri 2 F 18, Pontianak, Kalimantan Barat. www.mhtindonesia.com
"Berhala zaman dahulu terbuat dari batu yang disembah dengan sujud. Berhala zaman ini terbuat dari kursi yang disembah dengan ambisi." (Ali bin Abi Thalib, Nahjul Balaghah)
Dalam kehidupan bermasyarakat, kita kerap menyaksikan fenomena yang menyayat nurani, orang-orang berbondong mendekat ketika seseorang baru dilantik menduduki jabatan, entah sebagai rektor, dekan, ketua organisasi, atau pejabat pemerintahan.
Sapaan hangat, senyum ramah, bahkan sebutan "saudara" dan "sahabat karib" tiba-tiba mengalir deras. Namun ketika masa jabatan itu berakhir, satu per satu wajah-wajah itu pun menghilang, seolah kursi itulah yang selama ini mereka cintai, bukan pribadi yang mendudukinya.
Para nabi dan orang-orang shaleh pun tidak asing dengan fenomena ini, sebab dunia dan kedudukan memang senantiasa menjadi ujian sejak zaman dahulu, menguji siapa yang benar-benar tulus dan siapa yang sekadar mengejar bayang-bayang kekuasaan.
Rasulullah SAW sendiri, meski memiliki kedudukan sebagai pemimpin umat dan kepala negara di Madinah, tidak pernah membiarkan kekuasaan itu menjadi berhala dalam hatinya.
Ketika ditawari kekayaan, kedudukan, dan berbagai kenikmatan dunia oleh kaum Quraisy agar berhenti berdakwah, beliau menjawab dengan tegas,
"Demi Allah, wahai pamanku, seandainya mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku agar aku meninggalkan urusan ini, aku tidak akan meninggalkannya."
Beliau juga bersabda, "Sesungguhnya dunia ini manis dan hijau (menggiurkan), dan sesungguhnya Allah menjadikan kalian sebagai khalifah di atasnya, lalu Dia melihat bagaimana kalian berbuat." (HR. Muslim).
Hadis ini menegaskan bahwa kedudukan dan kekuasaan hanyalah ujian sementara, bukan tujuan akhir yang layak disembah dalam hati.
Allah SWT berfirman, "Katakanlah, 'Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki.'" (QS. Ali 'Imran: 26).
Ayat ini bagaikan cermin yang memantulkan hakikat kekuasaan, ia hanyalah pinjaman yang berpindah dari satu tangan ke tangan lain, sebagaimana daun yang hijau di musim semi namun pasti gugur ketika musimnya berlalu, tidak pernah benar-benar menjadi milik siapa pun secara abadi.
Kisah Khalifah Umar bin Abdul Aziz memberikan teladan yang menggetarkan hati. Setelah dilantik menjadi khalifah, ia justru menangis dan berkata kepada istrinya, Fatimah, "Wahai Fatimah, aku telah diuji dengan urusan umat Muhammad yang begitu besar ini.
Aku teringat orang fakir yang kelaparan, orang sakit yang terlantar, dan orang tertindas yang tak berdaya, sementara aku akan ditanya tentang mereka di hadapan Allah."
Ia tidak larut dalam gemerlap sanjungan yang mengelilinginya, melainkan segera menyadari beratnya amanah yang dipikul, sebab ia paham betul bahwa jabatan bukanlah berhala untuk dibanggakan, melainkan beban yang akan dipertanggungjawabkan. Sebagai penguat, terdapat kata hikmah dari Hasan Al-Bashri yang masyhur di kalangan ulama,
"Barangsiapa mencintai kedudukan karena kedudukan itu sendiri, maka ia telah menjadikan kedudukan itu sebagai tuhannya, meski lisannya tetap mengucap syahadat."
Kata hikmah ini menegaskan bahwa syirik tidak selalu berbentuk patung yang disembah, namun bisa pula berupa cinta berlebihan pada kekuasaan yang menguasai hati dan menggeser kecintaan kepada Allah.
Di era digital saat ini, fenomena "mencari muka" kepada pejabat baru bahkan semakin kentara, unggahan foto bersama, ucapan selamat berlebihan di media sosial, hingga sanjungan yang tiba-tiba menghilang begitu jabatan itu berakhir dan digantikan sanjungan baru kepada pejabat berikutnya. Rasulullah saw mengingatkan,
“Sejelek-jelek manusia di sisi Allah pada hari kiamat adalah orang yang bermuka dua: ia mendatangi suatu kaum dengan satu wajah, dan mendatangi kaum lainnya dengan wajah yang berbeda." (HR. Bukhari dan Muslim).
Waspadalah terhadap sifat munafik dalam bermuamalah (nifaq mu'amalah) dan cinta dunia yang berlebihan (hubbud dunya), sebab keduanya dapat menjerumuskan seseorang pada kepalsuan relasi yang hanya bergantung pada kepentingan, bukan ketulusan hati. Sebagai solusi, Allah SWT berfirman,
"Katakanlah, 'Kesenangan di dunia ini hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertakwa.'" (QS. An-Nisa: 77).
Jadilah seperti akar pohon yang tetap kokoh menghunjam bumi meski dahannya tak lagi dipuji orang karena rindangnya telah menghilang. Jadilah pula seperti mata air yang terus mengalir jernih, tidak peduli apakah ada yang datang untuk meminumnya atau tidak.
Ingatlah bahwa kelak setiap kursi yang pernah diduduki, setiap sanjungan yang pernah diterima, dan setiap kedekatan yang pernah dijalin akan dipertanggungjawabkan, apakah ia lahir dari ketulusan, ataukah sekadar penyembahan terselubung kepada kekuasaan yang fana.
Ya Allah, jauhkanlah hati kami dari menjadikan kedudukan dan jabatan sebagai berhala yang menggeser kecintaan kepada-Mu, berikanlah kami keikhlasan dalam menjalin relasi tanpa terikat kepentingan duniawi, dan anugerahkanlah kami kerendahan hati baik saat berkuasa maupun saat kekuasaan itu berlalu. Amin. (*)