PONTIANAK, SP - Citra jamu yang kerap diidentikkan dengan rasa pahit dan kesan kuno kini mulai tergeser oleh sentuhan inovasi sains.
Upaya modernisasi herbal ini ditunjukkan oleh tim akademisi Bagian Farmasi Fakultas Kedokteran Universitas Tanjungpura (UNTAN) saat menyelenggarakan pelatihan pengolahan serbuk jamu instan pegal linu bagi para siswa SMKS Bina Dharma Pontianak, Kamis (20/8/2026).
Program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) tersebut dipimpin oleh Dr. Bambang Wijianto, M.Sc., Apt., bersama Dr. Liza Pratiwi, M.Sc., Apt., Muhammad Nur Ajwad, serta apt. Fakhruddin, M.Farm, dengan melibatkan mahasiswa ilmu farmasi.
Inisiatif edukatif ini digagas secara khusus untuk menyelaraskan keanekaragaman Tanaman Obat Keluarga (TOGA) dengan ilmu farmasi modern agar lebih relevan bagi gaya hidup genersai muda.
Sesi edukasi diawali melalui pemaparan materi visual, pembagian lembaran informasi (leaflet), serta diskusi interaktif mengenai manfaat medis TOGA.
Berbagai bahan lokal seperti jahe sebagai penghangat tubuh, temulawak sebagai penambah stamina, hingga kencur sebagai pereda pegal dan letih dikupas secara mendalam.
Pada kesempatan ini, tim PKM juga turut mengenalkan metode foam mat drying (pengeringan busa) sebagai teknik inovatif untuk mengubah ekstrak cairan herbal menjadi jamu serbuk praktis dan tahan lama.
Tak berhenti pada teori, para peserta diboyong langsung ke Laboratorium Teknologi Farmasi FK UNTAN untuk mempraktikkan tahapan formulasi secara mandiri.
Memanfaatkan fasilitas laboratorium, para siswa memperagakan alur pengolahan jamu yang higienis. Antusiasme peserta memuncak saat mereka berkesempatan menyeduh dan mencicipi langsung jamu instan hasil racikan tangan sendiri.
Melalui pendekatan edukasi berbasis praktik laboratorium ini, pemahaman serta daya terima generasi muda terhadap etnomedisin diharapkan terus meningkat.
Terobosan formulasi modern tersebut menjadi langkah nyata dalam mengikis persepsi kuno tentang obat tradisional, sekaligus mendorong konsumsi jamu sebagai bagian dari tren gaya hidup sehat kekinian. (*)