Opini post author Kiwi 31 Agustus 2026

Ketika Hati Tercekik Bukan Hanya oleh Asap

Photo of Ketika Hati Tercekik Bukan Hanya oleh Asap

By: Ahmad Jais / Dosen Studi Agama-Agama Fakultas Ushuluddin dan Adab IAIN Pontianak, Kaimantan Barat, Founder & Master Trainer : Mind Healing Technique of Indonesia. www.mhtindonesia.com

"Yang paling menyiksa manusia bukanlah pandangan orang lain, melainkan bayangan pandangan itu yang ia ciptakan sendiri di dalam hatinya." (Ibn 'Arabi, 1240)

Sepekan terakhir, langit Kalimantan kembali pekat oleh kabut asap karhutla. Jarak pandang menyempit, ribuan warga mengeluh sesak napas dan ISPA, sekolah pun mengundur jam masuk demi keselamatan anak-anak.

Ada rasa tercekik yang nyata di paru-paru setiap kali udara dihirup. Namun, jika direnungkan lebih dalam, ada jenis "asap" lain yang jauh lebih halus namun tak kalah menyesakkan dada, yakni kecemasan sosial, ketakutan terus-menerus akan dinilai, dihakimi, dan dianggap kurang oleh orang lain.

Ia mengaburkan pandangan seseorang terhadap dirinya sendiri, persis seperti asap mengaburkan pandangan mata dan mempersempit ruang gerak sebagaimana kabut asap tidak mengenal batas administratif.

Ketakutan akan penghakiman ini pun tidak mengenal batas agama; ia adalah pergumulan yang sama-sama pernah dihadapi manusia lintas zaman dan lintas keyakinan.

Dalam tradisi Buddha misalnya, dikisahkan dalam Samyutta Nikaya (Akkosa Sutta) seorang brahmana yang datang mencaci maki Sang Buddha habis-habisan di depan umum.

Alih-alih membalas, Buddha hanya bertanya tenang: jika seseorang menolak hadiah yang diberikan kepadanya, kepada siapa hadiah itu kembali?

Sang brahmana pun tersadar bahwa cacian yang tidak diterima hatinya akan kembali kepada pemiliknya sendiri. Kisah lintas tradisi ini menemukan gemanya dalam riwayat hidup Rasulullah saw.

Diriwayatkan bahwa seorang Arab Badui pernah menarik kasar selendang beliau hingga membekas merah di leher, sambil berkata kasar meminta harta. Namun beliau tetap tersenyum dan memenuhi permintaannya (HR. Bukhari, dari Anas bin Malik).

Dua kisah ini, dari dua tradisi berbeda, menunjukkan satu benang merah yang sama: kelapangan dada adalah jawaban paling tenang atas kerasnya penilaian manusia.

Sikap itu pula yang digambarkan Al-Qur'an tentang orang-orang beriman: "...yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela." (QS. Al-Ma'idah: 54).

Ayat ini ibarat jangkar di tengah gelombang, seorang mukmin boleh berlayar dengan tenang meski ombak celaan menerpa dari segala arah, sebab jangkarnya tertanam bukan pada penilaian manusia yang berubah-ubah, melainkan pada ridha Allah yang kokoh.

Keteguhan semacam ini pernah teruji nyata dalam kisah Julaibib, seorang sahabat Nabi yang secara fisik dipandang kurang rupawan dan berasal dari kalangan yang tak dikenal.

Ketika Rasulullah saw hendak melamarkannya kepada seorang wanita Anshar, orang tua sang gadis mula-mula enggan karena melihat rupa dan status sosialnya. Namun sang gadis justru berkata kepada ayahnya, "Jika Rasulullah ridha dengannya, maka nikahkanlah aku dengannya."

Julaibib kemudian gugur syahid dalam sebuah peperangan, dan Nabi saw memeluk jasadnya seraya bersabda, "Dia bagian dariku dan aku bagian darinya."

Kisah ini menegaskan pesan yang sama dengan sabda Nabi yang diriwayatkan dari Aisyah: "Barangsiapa mencari ridha Allah meski manusia murka, Allah akan mencukupkannya dari beban manusia.

Namun siapa mencari ridha manusia dengan membuat Allah murka, Allah akan menyerahkannya kepada manusia." (HR. Tirmidzi no. 2414). Nilai seseorang di sisi Allah, sekali lagi, tidak pernah ditentukan oleh penilaian sepintas sesama manusia.

Jika di masa Julaibib penghakiman itu datang dari sekeliling desa, kini ia datang lebih cepat dan lebih luas lewat layar, dalam bentuk komentar, likes, dan validasi digital yang menekan tanpa henti.

Menariknya, Rasulullah saw telah memberi rem yang relevan hingga hari ini: "Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam." (HR. Bukhari dan Muslim).

Prinsip sederhana ini, jika dihidupkan kembali, bisa menjadi penawar bagi budaya saling menghakimi di ruang digital sekaligus pengingat agar kita berhati-hati terhadap ghibah dan su'uzhan, dua penyakit hati yang menyuburkan lingkaran penghakiman itu, baik ketika kita menjadi pelaku maupun ketika kita terlalu takut menjadi korbannya.

Maka sikap terbaik yang ditawarkan Al-Qur'an adalah: "Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka, karena sebagian prasangka itu dosa..." (QS. Al-Hujurat: 12).

Bagai pohon yang tetap kokoh berakar meski diterpa angin kencang, hati yang berakar pada Allah tidak akan tumbang hanya karena hembusan penilaian manusia yang datang lalu berlalu bagai kabut, ditelan angin dan waktu. Kelak, setiap penilaian yang kita ucapkan kepada sesama akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.

Ya Allah, bersihkanlah hati kami dari rasa takut akan penilaian manusia yang fana. Tanamkanlah keteguhan sebagaimana Engkau teguhkan hati Julaibib dan hati Bilal, agar kami hanya gentar pada murka-Mu dan tenang dalam ridha-Mu. Amin. (*)

Keywords

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda