Opini post author Kiwi 29 Agustus 2026

Manusia Toxic: Ketika Ego Mengalahkan Nurani

Photo of Manusia Toxic: Ketika Ego Mengalahkan Nurani

By: Ahmad Jais / Dosen Studi Agama-Agama Fakultas Ushuluddin dan Adab IAIN Pontianak, Kaimantan Barat, Founder & Master Trainer : Mind Healing Technique of Indonesia. www.mhtindonesia.com

"Ego adalah tabir tebal yang menghalangi cahaya kebenaran, sekalipun kebenaran itu berdiri tepat di hadapannya." (Jalaluddin Rumi, Masnavi, abad ke-13 M)

Dalam pergaulan sehari-hari, hampir setiap orang pernah bertemu dengan sosok yang sulit diajak berdialog sehat, merasa selalu benar meski nyata-nyata keliru, mudah menebar kata-kata yang menyakitkan, bahkan tak segan menyebarkan fitnah demi mempertahankan pendapatnya.

Kehadirannya kerap meninggalkan kelelahan batin bagi siapa saja yang berinteraksi dengannya.

Fenomena semacam ini bukanlah hal baru; sejak zaman dahulu, para nabi dan orang-orang shaleh pun kerap berhadapan dengan manusia-manusia yang keras kepala mempertahankan egonya, menolak kebenaran meski telah disampaikan dengan cara yang paling lembut sekalipun.

Rasulullah saw sendiri berulang kali dihadapkan dengan sikap keras kepala kaumnya, bahkan dari orang-orang yang sesungguhnya mengetahui kebenaran risalah beliau namun enggan mengakuinya karena gengsi dan kesombongan.

Namun beliau tidak pernah membalas kekerasan hati mereka dengan kekerasan serupa. Dalam sebuah peristiwa, seorang Arab Badui buang air kecil di masjid dan para sahabat hendak menghardiknya dengan kasar, namun Rasulullah saw justru mencegah mereka dan bersabda,

"Biarkanlah dia menyelesaikan hajatnya, dan tuangkanlah seember air di atas kencingnya. Sesungguhnya kalian diutus untuk memudahkan, bukan untuk mempersulit." (HR. Bukhari)

Hadis ini menunjukkan bahwa sikap Nabi terhadap orang yang berbuat keliru bukanlah amarah yang membalas amarah, melainkan kesabaran yang mendidik dengan bijaksana, meski di hadapan perilaku yang menjengkelkan sekalipun. Allah SWT berfirman,

"Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Penyayang itu adalah orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati, dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan." (QS. Al-Furqan: 63).

Ayat ini bagaikan payung teduh di tengah hujan deras kata-kata kasar, mengajarkan bahwa hamba-hamba Allah yang sejati akan tetap berjalan dengan kerendahan hati, bahkan ketika badai ego orang lain berusaha menerpa dan menyeret mereka ke dalam pertikaian yang tak berujung.

Kisah Ali bin Abi Thalib RA memberikan teladan indah tentang bagaimana menjaga nurani meski diperlakukan dengan buruk oleh orang yang egonya terlalu besar.

Suatu ketika seseorang mencelanya dengan kata-kata kasar di hadapan orang banyak, namun sayidina Ali hanya diam dan tersenyum. Ketika ditanya mengapa tidak membalas, ia berkata,

"Aku tidak ingin kemuliaanku turun setara dengan kehinaan lisannya. Cukuplah Allah yang akan menjadi hakim di antara kami."

Sikap ini menunjukkan bahwa menjaga nurani bukan berarti lemah, melainkan bentuk kekuatan batin yang jauh lebih tinggi daripada sekadar membalas kata dengan kata. Sebagai penguat, terdapat kata hikmah dari Umar bin Khattab RA, :

"Barangsiapa banyak berdebat, banyak pula ia keliru; barangsiapa banyak keliru, banyak pula dosanya; dan barangsiapa banyak dosanya, maka neraka lebih layak baginya."

Kata hikmah ini mengingatkan bahwa kebiasaan berdebat demi memenangkan ego, tanpa mau menerima kebenaran, sesungguhnya adalah jalan yang berbahaya bagi diri sendiri, bukan hanya bagi orang lain yang menjadi sasarannya.
Di era digital saat ini, sikap toxic ini semakin mudah tersebar melalui kolom komentar, grup percakapan, maupun perdebatan yang tak kunjung usai di media sosial, seseorang bisa dengan mudah menyebarkan fitnah, menghina pendapat orang lain, atau memaksakan kebenarannya sendiri tanpa ruang dialog yang sehat. Rasulullah saw mengingatkan,

"Tidaklah seseorang meninggalkan perdebatan meski ia berada di pihak yang benar, kecuali akan dibangunkan untuknya sebuah rumah di tepi surga." (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi)

Sebuah janji yang begitu indah bagi siapa saja yang mampu menahan diri dari perdebatan yang tak membawa kebaikan.

Waspadalah terhadap sifat fitnah (menyebar kabar untuk menjatuhkan), dengki (hasad atas kebenaran atau kebaikan orang lain), dan ujub (merasa diri selalu benar), sebab ketiganya adalah pintu masuk kerusakan hubungan sesama manusia sekaligus kerusakan hati sendiri. Sebagai solusi, Allah Swt berfirman,

"Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia." (QS. Fussilat: 34).

Jadilah seperti bumi yang tetap kokoh menopang siapa pun yang berpijak di atasnya, meski terus-menerus diinjak dan dilukai. Jadilah pula seperti air yang mengalir tenang, mencari celah untuk terus bergerak maju tanpa pernah terjebak melawan bebatuan yang menghadangnya.

Ingatlah bahwa kelak setiap kata yang menyakiti dan setiap ego yang dipertahankan akan ditimbang, sementara hati yang tetap terjaga nuraninya akan menjadi saksi kemuliaan di hadapan Allah.

Ya Allah, jagalah hati kami agar tidak dikuasai ego yang membutakan nurani, berikanlah kami kesabaran menghadapi mereka yang sulit diajak damai, dan lindungilah kami dari sifat fitnah, dengki, serta keras kepala yang merusak diri dan sesama. Amin. (*)

Keywords

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda