Opini post author Kiwi 31 Agustus 2026

Ikhtiar di Bawah Langit Kelabu: Antara Doa, Ilmu, dan Kearifan Lokal

Photo of Ikhtiar di Bawah Langit Kelabu: Antara Doa, Ilmu, dan Kearifan Lokal

By: Ahmad Jais / Dosen Studi Agama-Agama Fakultas Ushuluddin dan Adab IAIN Pontianak, Kaimantan Barat, Founder & Master Trainer : Mind Healing Technique of Indonesia. www.mhtindonesia.com


"Bertawakallah kepada Allah, namun tetap ikatlah unta kalian terlebih dahulu." (HR. Tirmidzi)

Ketika langit Kalimantan berubah kelabu oleh kabut asap, ada satu pertanyaan yang mengusik hati banyak orang yang menengadah menatap langit yang tak lagi bersahabat itu: masihkah ada harapan di tengah udara yang kian sesak ini?

Jawabannya, selalu ada, asalkan kita mau menempuhnya lewat tiga jalan yang saling berpegangan tangan, tidak berjalan sendiri-sendiri: doa yang tulus, ilmu pengetahuan yang tepat guna, dan kearifan lokal yang telah teruji oleh waktu.

Doa adalah bahasa jiwa yang paling purba, bahasa yang lahir jauh sebelum manusia mengenal huruf dan angka.

Ketika manusia dihadapkan pada sesuatu yang melampaui kendalinya, seperti kekeringan panjang yang memicu kebakaran hutan dan lahan, doa menjadi ruang hening untuk kembali menyadari betapa kecilnya diri kita di hadapan alam semesta.

Namun, sebagaimana hadis Nabi saw yang mengajarkan untuk "bertawakal, namun tetap mengikat unta terlebih dahulu", doa dalam ajaran agama manapun tidak pernah dimaksudkan sebagai pengganti usaha, melainkan penyempurna ikhtiar.

Ikatan unta di sini ibarat setiap langkah nyata yang kita ambil, mengenakan masker, menjaga kesehatan, menahan diri dari membakar lahan, sementara tawakal adalah menyerahkan hasilnya sepenuhnya kepada Allah setelah semua usaha ditempuh.

Rasulullah saw sendiri, sembari berdoa memohon hujan, tetap mengajarkan umatnya untuk menjaga alam dan tidak berbuat kerusakan di muka bumi.

Maka doa yang benar adalah doa yang menggerakkan tangan untuk turut berikhtiar, bukan doa yang membuat kita berdiam diri menunggu keajaiban datang begitu saja, seolah langit akan berubah biru hanya dengan lisan yang berucap tanpa tangan yang bergerak.

Di sinilah ilmu pengetahuan mengambil perannya sebagai unta yang harus diikat itu. "Ilmu tanpa amal adalah gila, dan amal tanpa ilmu adalah sia-sia," demikian pesan Imam Al-Ghazali (1058-1111 M) yang mengajarkan bahwa pengetahuan tanpa tindakan hanyalah wacana kosong, sementara tindakan tanpa pengetahuan hanyalah keberanian yang membabi buta.

Teknologi modifikasi cuaca, misalnya, telah banyak membantu mempercepat turunnya hujan buatan di wilayah terdampak karhutla, sebuah ikhtiar ilmiah yang selaras dengan doa, bukan menggantikannya.

Ilmu kesehatan mengajarkan masyarakat cara melindungi diri dari paparan asap: mengenakan masker N95, memperbanyak cairan tubuh, dan mengenali gejala awal gangguan pernapasan agar penanganan tidak terlambat.

Ilmu lingkungan membantu memahami mengapa lahan gambut begitu mudah terbakar bagai sumbu yang telah lama menanti percikan api, sehingga langkah pencegahan jangka panjang bisa dirancang secara lebih tepat.

Ilmu bukanlah lawan dari keyakinan spiritual, melainkan salah satu bentuk nyata dari rasa syukur kita atas akal yang telah Allah karuniakan sebab menggunakan akal untuk mencari solusi adalah bagian dari ibadah itu sendiri, sebuah sujud yang dilakukan bukan dengan dahi, melainkan dengan pikiran.

Namun ada satu sumber kekuatan lain yang tak boleh dilupakan, sesuatu yang telah lama mengalir diam-diam dalam darah para leluhur: kearifan lokal.

Masyarakat Dayak di Kalimantan, misalnya, sejak lama mengenal sistem ladang berpindah yang diatur dengan aturan adat ketat, termasuk larangan membakar lahan pada musim kering ekstrem, sebuah kebijaksanaan yang lahir jauh sebelum istilah "pencegahan karhutla" dikenal secara ilmiah.

Ada pula tradisi gotong royong menjaga sumber air bersama, serta kearifan membaca tanda-tanda alam yang diwariskan turun-temurun, seolah alam sendiri berbisik kepada mereka yang mau mendengarkan.

Allah berfirman, "Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa" (QS. Al-Ma'idah: 5), sebuah ayat yang menemukan wujud nyatanya dalam gotong royong masyarakat adat ini.
Kearifan semacam ini, jika digandengkan dengan ilmu modern dan disertai doa yang tulus, bisa menjadi benteng tiga lapis yang kokoh dalam menghadapi krisis lingkungan seperti sekarang lapisan yang saling menguatkan, bukan saling meniadakan.

Ikhtiar sejati bukanlah memilih salah satu dari ketiganya, melainkan merangkul doa, ilmu, dan kearifan lokal secara bersamaan sebagaimana pohon yang kokoh membutuhkan akar yang dalam mencengkeram tanah (kearifan lokal), batang yang kuat menopang setiap terpaan angin (ilmu pengetahuan), dan daun yang senantiasa mengarah ke cahaya sekalipun langit tertutup mendung (doa dan harapan kepada Allah).

Tiga unsur ini tidak pernah berdiri sendiri-sendiri dalam kehidupan sebatang pohon, sebagaimana ia pun tidak boleh berdiri sendiri dalam kehidupan seorang hamba.

Di tengah langit yang kini kelabu, mari kita jadikan momen ini sebagai pengingat bersama: bahwa alam bukan sekadar objek yang dieksploitasi, melainkan amanah yang harus dijaga bersama, lintas agama dan lintas generasi.

Setiap masker yang dikenakan dengan penuh kepedulian, setiap penelitian yang dilakukan dengan ketulusan, setiap doa yang dipanjatkan dengan kerendahan hati, semuanya adalah bagian dari ikhtiar yang sama, seperti anak-anak sungai yang berbeda arah namun bermuara pada laut yang satu, menuju langit yang kembali biru dan udara yang kembali bisa dihirup dengan lega.

Karena pada akhirnya, harapan bukanlah sesuatu yang datang begitu saja dari langit yang kita tunggu dengan berpangku tangan, melainkan sesuatu yang kita bangun bersama, doa di hati yang menuntun arah, ilmu di tangan yang menggerakkan langkah, dan kearifan leluhur sebagai pijakan kaki agar kita tidak tersesat di jalan yang telah lama ditempuh nenek moyang kita. Wallahu a’lam. (*)

Keywords

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda