Opini post author Kiwi 02 September 2026

Kecerdasan Spiritual di Balik Lima Modal Mahasiswa

Photo of Kecerdasan Spiritual di Balik Lima Modal Mahasiswa

By: Ahmad Jais / Dosen Studi Agama-Agama Fakultas Ushuluddin dan Adab IAIN Pontianak, Kaimantan Barat, Founder & Master Trainer : Mind Healing Technique of Indonesia. www.mhtindonesia.com

"Kecerdasan sejati bukanlah seberapa banyak yang engkau ketahui, melainkan seberapa dalam engkau memahami untuk apa semua itu engkau miliki." (Danah Zohar, Penggagas Konsep Kecerdasan Spiritual, 2000)

Tulisan saya sebelumnya telah mengangkat tema "PBAK dan Peta Menuju Masa Depan", di mana Prof. Dr. H. Wajidi Sayadi, M.Ag, Rektor IAIN Pontianak, menyampaikan lima modal yang harus dimiliki setiap mahasiswa: iman dan integritas, ilmu dan budaya membaca, keterampilan, jejaring, serta mental dan daya juang.

Tulisan ini hendak melangkah lebih dalam, menelusuri satu benang merah yang menyatukan kelima modal tersebut, yaitu kecerdasan spiritual, kemampuan menemukan makna dan arah hidup yang lebih tinggi di balik setiap pencapaian.

Sebab, kecerdasan intelektual tanpa kecerdasan spiritual hanya akan melahirkan manusia pintar yang kehilangan arah, dan inilah keseimbangan yang senantiasa ditekankan para nabi dan ulama terdahulu kepada generasi muda yang mereka didik.

Rasulullah saw sendiri adalah teladan sempurna dalam memadukan kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual sekaligus.

Ketika membina para sahabat muda, beliau tidak hanya mengajarkan ilmu dan keterampilan, tetapi juga menanamkan kesadaran akan tujuan hidup yang lebih besar. Kepada Ibnu Abbas ra. yang masih belia, beliau bersabda,

"Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya engkau akan mendapati-Nya di hadapanmu. Jika engkau meminta, mintalah kepada Allah. Jika engkau memohon pertolongan, mohonlah pertolongan kepada Allah." (HR. At-Tirmidzi)

Melalui hadis inilah Rasulullah saw menegaskan bahwa sebelum seseorang membangun jejaring dan keterampilan duniawi, ia terlebih dahulu perlu membangun kesadaran spiritual bahwa segala modal yang dimiliki hanyalah wasilah, sementara Allah-lah tujuan dan sandaran yang sesungguhnya.

Kesadaran inilah yang juga ditegaskan Allah Swt dalam firman-Nya, "Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku." (QS. Adz-Dzariyat: 56).

Ayat ini bagaikan akar tunggal yang menopang sebatang pohon besar betapa pun rimbun cabang keterampilan, luas jejaring, dan kokoh mental yang dimiliki seorang mahasiswa, semuanya akan layu jika tidak berakar pada kesadaran bahwa seluruh potensi diri sesungguhnya diarahkan untuk mengabdi kepada Allah.

Prinsip inilah yang tergambar indah dalam kisah Salman Al-Farisi ra, seorang pencari kebenaran yang menempuh perjalanan panjang dari Persia sebelum memeluk Islam, berpindah dari satu guru ke guru lain, mempelajari berbagai ilmu dan keterampilan hidup.

Namun ia sendiri berkata, "Aku tidak akan pernah tenang sebelum menemukan kebenaran sejati yang menjadi tujuan dari semua pencarianku."

Kegelisahan spiritualnya inilah yang akhirnya menuntunnya menemukan Islam, menunjukkan bahwa kecerdasan sejati bukan sekadar mengumpulkan ilmu dan keterampilan, melainkan kesungguhan mencari makna di balik semua yang dipelajari.

Sebagaimana diperkuat oleh Ibnu Athaillah As-Sakandari, "Bagaimana mungkin cahaya hati akan menyala, sedangkan gambar-gambar dunia masih terpantul dalam cerminnya?" (Al-Hikam).

Hal ini mengingatkan bahwa kelima modal yang disampaikan Rektor, sehebat apa pun jejaring dan setinggi apa pun daya jual seorang mahasiswa, tidak akan memancarkan cahaya yang sesungguhnya jika hati masih dipenuhi ambisi duniawi semata, tanpa kesadaran spiritual yang menjernihkannya.

Persoalan ini semakin nyata di era digital dan disrupsi seperti sekarang, ketika banyak mahasiswa berlomba membangun personal branding, mengejar sertifikasi, dan memperluas koneksi profesional, namun tak jarang melupakan pertanyaan mendasar: untuk apa semua ini sesungguhnya diperjuangkan?

Rasulullah saw mengingatkan, "Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa dan harta kalian, tetapi Dia melihat kepada hati dan amal kalian." (HR. Muslim).

Sabda Rasul SAW ini merupakan sebuah peringatan penting bahwa daya jual dan mental yang kuat tanpa kejernihan hati hanya akan melahirkan kesuksesan yang rapuh dan mudah goyah oleh godaan zaman.

Oleh karena itu, perlu diwaspadai agar semangat membangun kelima modal ini tidak tergelincir menjadi ambisi yang kehilangan ruh spiritualnya, mengejar keterampilan dan jejaring semata demi validasi sosial, tanpa pernah bertanya apakah semua itu membawa kedekatan kepada Allah atau justru menjauhkan darinya.

Sebagai solusi, Allah Swt berfirman, "Dan barangsiapa yang berjihad, maka sesungguhnya jihadnya itu adalah untuk dirinya sendiri. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam." (QS. Al-Ankabut: 6).

Ayat ini mengajarkan bahwa setiap ikhtiar dan perjuangan mahasiswa, termasuk membangun kelima modal tersebut hendaknya diniatkan sebagai bentuk jihad diri yang bermuara pada keridhaan Allah, bukan semata pengakuan manusia.

Maka jadilah seperti pelita yang tidak hanya menerangi dirinya sendiri, melainkan memancarkan cahaya bagi siapa saja yang berada di sekitarnya, sebagaimana kecerdasan spiritual seharusnya menuntun setiap ilmu dan keterampilan menjadi manfaat bagi sesama.

Jadilah pula seperti pohon yang akarnya menghunjam dalam ke bumi keimanan, sehingga dahan-dahan keterampilan dan jejaringnya mampu menjulang tinggi tanpa pernah tumbang diterpa badai zaman.

Ingatlah bahwa kelak setiap modal yang dibangun selama menempuh pendidikan akan ditanya nilainya di hadapan Allah, apakah ia lahir dari kecerdasan yang utuh antara akal dan jiwa, ataukah sekadar pencapaian yang kosong dari makna spiritual.

Ya Allah, tanamkanlah dalam diri kami kecerdasan spiritual yang menuntun setiap ilmu, keterampilan, dan jejaring yang kami bangun agar senantiasa bermuara pada keridhaan-Mu.

Jagalah hati kami dari ambisi duniawi yang kosong, dan jadikanlah kelima modal yang kami perjuangkan sebagai jalan menuju kebermanfaatan bagi diri, sesama, dan agama ini. Amin. (*)

Keywords

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda