Opini post author Kiwi 05 September 2026

Disimpan di Hati: Pelajaran dari Seorang Bhikkhu di Vihara Karuna

Photo of Disimpan di Hati: Pelajaran dari Seorang Bhikkhu di Vihara Karuna

By: Ahmad Jais / Dosen Studi Agama-Agama Fakultas Ushuluddin dan Adab IAIN Pontianak, Kaimantan Barat, Founder & Master Trainer : Mind Healing Technique of Indonesia. www.mhtindonesia.com

"segala sesuatu yang berkondisi tidak kekal; ketika ketidakkekalan itu dilihat dengan kebijaksanaan, seseorang mulai melepaskan diri dari penderitaan." (Dhammapada, syair 277)

Beberapa tahun silam, saya mendapat undangan istimewa untuk hadir dalam sebuah pertemuan lintas tradisi Buddha di Vihara Karuna, Surakarta, dihadiri oleh para penganut Mahayana dan Theravada yang duduk bersama dalam satu ruang dialog.

Di tengah perbincangan yang hangat itu, seorang Bhikkhu sepuh tiba-tiba melontarkan pertanyaan sederhana kepada saya, "Jika Anda kehilangan sesuatu, apa yang Anda rasakan?"

Tanpa berpikir panjang, saya menjawab, "Saya merasa sedih, kehilangan uang banyak, sepatu baru, motor, orang yang dicintai, dan semacamnya." Beliau tersenyum tipis, lalu bertanya lagi, "Tahukah Anda mengapa Anda bersedih?"

Saya terdiam sesaat sambil berpikir untuk mencari jawaban. Dengan tenang beliau berkata, "Karena semua itu Anda simpan di hati. Selama Anda menyimpannya di hati, selama itu pula Anda tidak akan pernah benar-benar bahagia."

Kalimat itu menghunjam dalam, membekas hingga bertahun-tahun kemudian, dan mengajarkan saya bahwa kebijaksanaan tentang bahaya kemelekatan bukanlah milik satu agama saja, melainkan kebenaran universal yang digemakan oleh para nabi, para wali, dan para guru spiritual dari berbagai tradisi sepanjang sejarah manusia.

Pertanyaan sang Bhikkhu itu sesungguhnya menggemakan sebuah kebenaran yang juga diajarkan dengan tegas dalam Islam. Rasulullah saw sendiri, meski hidup dalam kesederhanaan, senantiasa mengingatkan umatnya agar tidak menautkan hati pada benda-benda dunia.

Ketika beliau melihat seorang sahabat yang begitu terpukul karena kehilangan sesuatu yang dicintainya, beliau bersabda, "Celakalah hamba dinar, dirham, dan pakaian mewah. Jika diberi, ia ridha; jika tidak diberi, ia murka." (HR. Bukhari)

Hadis ini bagaikan cermin yang dipantulkan dari arah berbeda namun memancarkan cahaya yang sama dengan nasihat sang Bhikkhu bahwa kebahagiaan dan kesedihan seseorang sesungguhnya bukan ditentukan oleh ada atau tidaknya harta, melainkan oleh seberapa dalam harta itu telah menancap dan menguasai hati.

Allah Swt berfirman, "Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak." (QS. Al-Hadid: 20).

Ayat ini bagaikan lentera yang menerangi apa yang sesungguhnya ingin disampaikan sang Bhikkhu bahwa dunia dengan segala kemilaunya hanyalah bayangan sesaat yang berlalu, dan hati yang bijak adalah hati yang mampu menggenggam dunia di tangan tanpa membiarkannya menguasai ruang batin yang paling dalam.

Ajaran serupa juga hidup dalam tradisi para sufi. Kisah Ibrahim bin Adham, seorang raja yang meninggalkan tahtanya untuk menempuh jalan zuhud, memberikan teladan yang begitu relevan dengan hikmah dari Vihara Karuna.

Ketika ditanya mengapa ia rela melepaskan kerajaan dan segala kemewahannya, Ibrahim bin Adham menjawab, "Aku tidak pernah benar-benar memiliki dunia, dunialah yang dahulu memiliki hatiku.

Ketika aku melepaskannya dari hatiku, barulah aku benar-benar merdeka, meski tanganku tak lagi menggenggam apa pun." Jawaban ini seolah menjadi jembatan yang menyatukan kebijaksanaan sang Bhikkhu di Vihara Karuna dengan kebijaksanaan seorang sufi di tanah Arab, keduanya berbicara tentang hal yang sama, kemerdekaan hati dari belenggu kemelekatan duniawi.

Sebagai penguat, terdapat kata hikmah dari Imam Al-Ghazali yang menggemakan pesan yang sama, "Barangsiapa yang hatinya bergantung pada dunia, maka ia akan merana bersama perubahan dunia itu sendiri; namun barangsiapa yang hatinya bergantung kepada Allah, ia akan tetap tenang meski dunia berubah di sekitarnya." (Ihya' Ulumuddin).

Kata hikmah ini menegaskan bahwa persoalannya bukan pada memiliki atau tidak memiliki harta, melainkan pada di mana kita menambatkan hati, pada benda yang fana, ataukah pada Sang Pencipta yang kekal.

Di era konsumerisme dan media sosial saat ini, kemelekatan itu semakin sulit disadari, validasi dari jumlah pengikut, kepuasan dari barang bermerek, hingga kecemasan kehilangan status digital, semuanya menjadi bentuk baru dari "menyimpan sesuatu di hati" yang diperingatkan sang Bhikkhu.

Rasulullah saw mengingatkan, "Bukanlah kekayaan itu dengan banyaknya harta, tetapi kekayaan yang sesungguhnya adalah kekayaan hati (jiwa yang merasa cukup)." (HR. Bukhari dan Muslim). Hadis ini merupakan sebuah peringatan yang begitu relevan bagi generasi yang tumbuh di tengah gemerlap dunia digital yang terus menuntut lebih dan lebih.

Perlu diwaspadai agar kemelekatan ini tidak berkembang menjadi sifat tamak (hirsh) dan cinta dunia yang berlebihan (hubbud dunya), sebab keduanya adalah akar dari kegelisahan batin yang tiada berujung, sebagaimana yang telah diperingatkan baik dalam ajaran Islam maupun ajaran Buddha tentang bahaya dukkha (penderitaan) yang lahir dari kemelekatan.

Sebagai solusi, Allah Swt berfirman, "Katakanlah, 'Kesenangan di dunia ini hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertakwa.'" (QS. An-Nisa: 77).

Jadilah seperti telapak tangan yang mampu menggenggam air, namun tidak pernah benar-benar memilikinya, sebab air itu akan selalu menemukan jalannya sendiri untuk mengalir pergi, dan tangan yang bijak tidak akan meraung karenanya.

Jadilah pula seperti daun yang jatuh dari pohonnya dengan tenang, tidak melawan angin yang menerbangkannya, sebab ia tahu bahwa kejatuhannya bukanlah kehilangan, melainkan bagian dari siklus kehidupan yang telah ditetapkan.

Ingatlah bahwa kelak setiap kecintaan yang kita tambatkan di hati akan ditanya, apakah ia tertuju kepada dunia yang fana, ataukah kepada Allah yang kekal dan tidak akan pernah mengecewakan hamba-Nya.

Ya Allah, lepaskanlah hati kami dari kemelekatan pada dunia yang fana, tanamkanlah dalam diri kami rasa cukup dan syukur atas apa yang Engkau titipkan, dan jadikanlah hati kami hanya bergantung kepada-Mu semata, sehingga kami tidak lagi merana karena kehilangan sesuatu yang memang bukan milik kami selamanya. Amin. (*)

Keywords

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda