PONTIANAK, SP - Harapan Indonesia untuk merebut gelar Polytron Pontianak Indonesia Masters 2026 akhirnya harus kandas di partai final.
Ganda putra Indonesia Yeremia Erich Yoche Yacob Rambitan/Patra Harapan Rindorindo harus puas sebagai runner-up setelah kalah dramatis dari wakil Chinese Taipei Chia Yen Lin/Lin Young Sheng di GOR Terpadu Ahmad Yani Pontianak, Minggu (6/9/2026).
Bermain sejak pukul 17.44 WIB hingga pertandingan berakhir sekitar pukul 18.43 WIB, Rambitan/Rindorindo harus melewati pertarungan tiga gim sebelum akhirnya menyerah 21-11, 19-21, 20-22.
Meski gagal mengangkat trofi, perjuangan Rambitan/Rindorindo mendapatkan dukungan penuh dari ribuan penonton yang memadati GOR Terpadu Ahmad Yani.
Tribun arena yang memiliki kapasitas sekitar 4.000 hingga 5.000 penonton tampak penuh. Gemuruh suporter terdengar hampir di setiap poin yang berhasil direbut Rambitan/Rindorindo.
Atmosfer tersebut menjadi energi tambahan bagi pasangan Indonesia yang merupakan satu-satunya wakil Merah Putih di partai final Polytron Pontianak Indonesia Masters 2026.
Namun, dewi fortuna belum berpihak kepada Rambitan/Rindorindo. Rambitan/Rindorindo mengawali gim pertama dengan sangat baik. Mereka langsung unggul 3-0 sebelum Chia Yen Lin/Lin Young Sheng memperkecil ketertinggalan menjadi 3-1.
Rambitan/Rindorindo terus menjaga keunggulan. Permainan menyerang yang mereka bangun membuat pasangan Chinese Taipei kesulitan mengembangkan permainan.
Dari 7-4, pasangan Indonesia terus memperlebar jarak menjadi 9-4, 10-5 hingga 11-5. Selepas interval, Rambitan/Rindorindo masih mampu mempertahankan kendali pertandingan.
Mereka unggul 14-8 dan kemudian melesat hingga 18-9. Chia/Lin sempat mencuri dua poin, tetapi Rambitan/Rindorindo segera merespons.
Pasangan Indonesia akhirnya menutup gim pertama dengan kemenangan meyakinkan 21-11. Keunggulan tersebut membuat harapan Indonesia untuk mengamankan gelar semakin terbuka.
Namun, situasi berubah pada gim kedua. Chia/Lin mampu memberikan tekanan sejak awal dan membuat Rambitan/Rindorindo kesulitan mengembangkan permainan seperti pada gim pertama.
Pertandingan berlangsung ketat. Kedua pasangan silih berganti memimpin hingga skor 6-6. Chinese Taipei kemudian mendapatkan momentum dan unggul 10-7 sebelum Rambitan/Rindorindo berusaha mengejar.
Pasangan Indonesia berhasil menyamakan kedudukan 11-11. Setelah itu, pertandingan semakin sengit. Rambitan/Rindorindo sempat berbalik unggul 14-13, tetapi Chia/Lin kembali mengambil kendali dan memperlebar jarak hingga 18-14.
Dalam kondisi tertinggal, Rambitan/Rindorindo tidak menyerah. Mereka bangkit dan memangkas ketertinggalan menjadi 18-19. Namun, Chia/Lin berhasil mendapatkan game point 20-18.
Rambitan/Rindorindo kembali memberikan perlawanan dan memperkecil jarak menjadi 19-20. Sayangnya, satu poin berikutnya menjadi milik Chinese Taipei. Gim kedua berakhir 21-19 untuk Chia/Lin dan pertandingan pun harus ditentukan melalui gim ketiga.
Gim ketiga menjadi bagian paling menegangkan dalam pertandingan. Rambitan/Rindorindo sempat tertinggal 0-2, tetapi mampu memperkecil jarak dan terus mengejar hingga kedudukan 6-7. Chia/Lin kembali menjauh hingga 10-7.
Namun, dukungan ribuan penonton membuat Rambitan/Rindorindo terus berjuang. Mereka berhasil menyamakan kedudukan 10-10. Sayangnya, momentum tersebut kembali lepas. Chia/Lin perlahan menjauh hingga 15-11 dan kemudian 18-14.
Rambitan/Rindorindo belum menyerah. Perjuangan mereka kembali membuahkan hasil. Dari tertinggal 16-18, pasangan Indonesia mampu memangkas jarak menjadi 17-18, kemudian 18-19.
Chia/Lin kembali mendapatkan match point pada kedudukan 20-18. Tetapi Rambitan/Rindorindo menunjukkan mental juang luar biasa. Mereka mampu menyamakan kedudukan 20-20 dan membuat seluruh GOR Terpadu Ahmad Yani kembali bergemuruh.
Sayangnya, dua poin terakhir menjadi milik Chia/Lin. Chinese Taipei akhirnya menutup gim ketiga dengan skor 22-20 dan memastikan gelar juara. Rambitan/Rindorindo pun harus puas dengan posisi runner-up.
Patra Harapan Rindorindo mengaku bersyukur dapat menyelesaikan pertandingan tanpa mengalami cedera, meski hasil akhir belum sesuai harapan.
“Puji Tuhan, kita bisa menyelesaikan pertandingan ini. Walaupun masih runner-up, tapi kita dijauhkan dari cedera,” kata Rindorindo.
Menurutnya, salah satu evaluasi dari pertandingan tersebut adalah ketenangan dan fokus, terutama ketika memasuki poin-poin akhir.
“Tadi permainan kita mungkin kurang ketenangan dan fokus saja. Di poin-poin akhir tadi sayang banget, harusnya kita bisa mengambil, cuma kita kecolongan di bagian servis,” ujarnya.
Rindorindo mengakui tekanan mental terasa semakin besar pada gim ketiga.
“Tegang pasti ada. Jadi, untuk berikutnya mungkin saya bakal lebih berbagi lagi, terutama untuk fokus dan mentalnya,” katanya.
Yeremia Rambitan melihat pertandingan final berlangsung sengit karena kedua pasangan sama-sama tidak ingin memberikan kesempatan kepada lawan untuk mengembangkan serangan.
Menurutnya, Chia/Lin terus memberikan tekanan dan jarang mengangkat bola. Rambitan/Rindorindo pun mencoba menerapkan permainan serupa.
“Mungkin mereka mainnya juga maksa, maksa banget. Kelihatan banget mereka selalu menekan terus, jarang mengangkat bola. Dan kita pun sama, kita ingin menyerang juga,” ujar Rambitan.
Kondisi tersebut membuat kedua pasangan terus beradu serangan.
“Jadi, mereka tidak mau menyerah, kita juga tidak mau menyerah. Akhirnya mainnya mungkin bisa sampai seseru dan seketat itu,” katanya.
Pertandingan yang berlangsung selama tiga gim tersebut akhirnya menjadi tontonan menarik bagi publik Pontianak.
Di balik kegagalan meraih gelar, Rambitan mengaku sangat terkesan dengan dukungan masyarakat Pontianak.
Ribuan penonton yang memadati GOR Terpadu Ahmad Yani memberikan dukungan penuh sepanjang pertandingan.
“Terima kasih sudah mendukung kita sampai di final. Full, ya. Kelihatan full banget, antusias banget, ramah banget. Kita pun merasa senang, merasa bangga banget bisa didukung supporter sebanyak ini di Pontianak. Terima kasih,” ucap Rambitan.
Menurutnya, atmosfer final terasa berbeda karena hampir seluruh arena memberikan dukungan kepada pasangan Indonesia.
“Yang pasti penonton lebih mendukung full kita. Jadi, satu stadion itu benar-benar bergemuruh, berisik banget. Itu membuat kita senang, bangga, dan juga tambah semangat,” katanya.
Dukungan tersebut menjadi pengalaman tersendiri bagi Rambitan/Rindorindo yang mampu membawa Indonesia hingga partai puncak.
Hasil runner-up di Pontianak juga menjadi bahan evaluasi bagi Rambitan/Rindorindo. Keduanya telah menjalani rangkaian pertandingan selama dua pekan, termasuk tampil dalam dua turnamen yang digelar beruntun di Pontianak.
Rambitan menilai faktor stamina dan tenaga menjadi salah satu pekerjaan rumah yang perlu diperbaiki.
“Mungkin kita evaluasi lagi, ya. Mungkin dari stamina. Kita kan sudah dua minggu dan juga sampai final,” katanya.
Menurutnya, pengalaman tersebut akan menjadi modal untuk mempersiapkan diri menghadapi turnamen berikutnya.
“Mungkin dari segi tenaga dan stamina kita pasti agak kurang. Mungkin untuk turnamen berikutnya kita lebih mempersiapkan stamina dan tenaga,” ujar Rambitan.
Meski gagal membawa pulang gelar juara, Rambitan/Rindorindo tetap meninggalkan kesan kuat di Polytron Pontianak Indonesia Masters 2026.
Mereka bukan hanya menjadi satu-satunya wakil Indonesia yang bertahan hingga final, tetapi juga mampu menghadirkan pertarungan sengit selama tiga gim di hadapan tribun GOR Terpadu Ahmad Yani yang penuh.
Trofi memang akhirnya menjadi milik Chia Yen Lin/Lin Young Sheng. Namun, dukungan luar biasa publik Pontianak menjadi salah satu cerita penting dari perjalanan Rambitan/Rindorindo di turnamen Super 100 tersebut.