PONTIANAK, SP - Yudisium 2026 menjadi momentum akademik yang tidak sekadar menandai capaian pendidikan, tetapi juga memperlihatkan kontribusi penelitian terhadap persoalan nyata di bidang sumber daya alam, pertambangan, lingkungan, dan pengembangan pariwisata berkelanjutan.
Dalam satu momentum, empat karya akademik dari Tim Inti Mitra Group mendapat apresiasi atas kajian yang memiliki keterkaitan langsung dengan tantangan pembangunan di Kalimantan Barat.
Keempat penelitian tersebut mengangkat tema yang berbeda, namun memiliki satu benang merah, yakni pemanfaatan ilmu pengetahuan untuk mendorong pengelolaan sumber daya alam yang lebih bertanggung jawab, inovatif, dan berkelanjutan.
Empat Kajian dengan Perspektif Berbeda
Penelitian pertama dilakukan oleh Ir. Sigit Nugroho Wahyu Jatmiko, M.Ling. dengan judul: “Penguatan Kelembagaan Pengusahaan Tambang Emas Rakyat Ramah Lingkungan dan Berkelanjutan (Studi Kasus Desa Entibab Kecamatan Bunut Hilir Kabupaten Kapuas Hulu Kalimantan Barat).”
Kajian ini menyoroti pentingnya penguatan kelembagaan dalam pengelolaan pertambangan emas rakyat. Pendekatan akademiknya menempatkan aspek kelembagaan, lingkungan, serta keberlanjutan sebagai bagian penting dalam membangun aktivitas pertambangan yang lebih bertanggung jawab.
Penelitian kedua dilakukan oleh Agustinus Nopi, S.T., M.Ling., berjudul:
“Kajian Potensi Geowisata Berkelanjutan di Lahan Tambang Batuan (Studi Kasus di Desa Peniraman Kabupaten Mempawah Provinsi Kalimantan Barat).”
Kajian tersebut menawarkan perspektif bahwa kawasan bekas atau area pertambangan tidak semata-mata dipandang dari sisi aktivitas ekstraktif, tetapi juga memiliki kemungkinan dikembangkan menjadi bagian dari destinasi geowisata dengan memperhatikan aspek lingkungan dan potensi lokal.
Sementara itu, Iskandar Tuasamu, S.T., M.Ling. mengangkat penelitian:
“Strategi Pengembangan Geowisata Lintas Batas di Desa Temajuk, Kabupaten Sambas, Provinsi Kalimantan Barat.”
Penelitian ini memberikan perhatian terhadap potensi kawasan Temajuk sebagai wilayah yang memiliki nilai strategis dalam pengembangan pariwisata berbasis geowisata, termasuk peluang penguatan ekonomi masyarakat dan konektivitas kawasan perbatasan.
Adapun penelitian keempat dilakukan oleh Sariyanto, S.Si., M.Ling., dengan judul:
“Kajian Emisi Gas Rumah Kaca Pertambangan Bauksit PT. Cita Mineral Investindo Tbk di Kabupaten Ketapang Kalimantan Barat.”
Kajian ini mengambil fokus pada aspek lingkungan, khususnya emisi gas rumah kaca dari aktivitas pertambangan bauksit.
Penelitian tersebut memperlihatkan pentingnya pendekatan ilmiah dalam memahami dampak aktivitas pertambangan terhadap lingkungan sekaligus menjadi bagian dari diskursus mengenai pembangunan rendah emisi.
Akademik Tidak Berhenti di Ruang Kelas
Empat penelitian tersebut memperlihatkan bahwa dunia akademik memiliki ruang yang luas untuk memberikan kontribusi terhadap persoalan pembangunan daerah.
Pertambangan, misalnya, tidak hanya berbicara mengenai produksi dan investasi. Di dalamnya terdapat persoalan kelembagaan, lingkungan, masyarakat, tata kelola, hingga keberlanjutan.
Demikian pula dengan geowisata. Potensi alam dapat dikembangkan menjadi kekuatan ekonomi baru apabila dilakukan melalui perencanaan berbasis data, kajian ilmiah, perlindungan lingkungan, serta pelibatan masyarakat.
“Penelitian hari ini harus mampu memberikan solusi untuk esok.”
Prinsip tersebut menjadi relevan ketika hasil penelitian tidak berhenti sebagai dokumen akademik, tetapi dapat menjadi referensi bagi pemerintah, dunia usaha, masyarakat, maupun pemangku kepentingan dalam menyusun kebijakan dan program pembangunan.
Ilmu, Inovasi, Kolaborasi dan Keberlanjutan
Yudisium 2026 juga membawa pesan bahwa pembangunan sumber daya manusia harus berjalan beriringan dengan pembangunan yang berwawasan lingkungan.
Empat kata kunci menjadi fondasi yang dapat ditarik dari momentum tersebut: Riset berbasis data — Inovasi untuk solusi — Kolaborasi multipihak — Keberlanjutan untuk generasi.
Keempatnya menjadi semakin penting bagi Kalimantan Barat yang memiliki kekayaan sumber daya alam sekaligus menghadapi tantangan dalam menjaga keseimbangan antara kepentingan ekonomi, sosial, dan lingkungan.
Momentum Yudisium 2026 dengan demikian bukan hanya seremoni akademik. Ia menjadi ruang untuk menunjukkan bahwa karya ilmiah dapat menjadi jembatan antara pengetahuan, kebutuhan masyarakat, pengelolaan sumber daya alam, dan masa depan pembangunan daerah.
Dari ruang akademik untuk Kalimantan Barat yang lebih berilmu, inovatif, kolaboratif, dan berkelanjutan. YUDISIUM 2026-Empat Penghargaan dalam Satu Momen. (*)