Oleh: Dr. H. Rahmat Satria, S.H., M.H / Kaprodi Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan (PSDAL) Universitas Panca Bhakti (UPB)
KALIMANTAN Barat merupakan salah satu provinsi yang memiliki kekayaan sumber daya alam sangat besar. Hutan, sungai, lahan gambut, perkebunan, pertanian, kawasan pesisir, laut, hingga berbagai sumber daya mineral menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat sekaligus menjadi modal pembangunan daerah.
Namun, kekayaan tersebut juga menghadirkan tantangan besar. Pertumbuhan penduduk, perkembangan kawasan perkotaan, ekspansi perkebunan, aktivitas pertambangan, pembangunan infrastruktur, perubahan penggunaan lahan, pencemaran, kebakaran hutan dan lahan, persoalan sampah, serta dampak perubahan iklim merupakan persoalan yang membutuhkan perhatian serius.
Dalam situasi seperti ini, kebutuhan terhadap sumber daya manusia yang memiliki kompetensi dalam pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan semakin besar. Karena itu, keberadaan Program Studi Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan (PSDAL) Universitas Panca Bhakti (UPB) menjadi sangat relevan dengan kebutuhan masyarakat Kalimantan Barat.
Menurut saya, PSDAL UPB bukan sekadar sebuah program studi yang menawarkan pilihan pendidikan tinggi. Lebih dari itu, program studi ini memiliki posisi strategis dalam menyiapkan generasi yang mampu menjawab persoalan lingkungan sekaligus mendukung pembangunan berkelanjutan di Kalimantan Barat.
Pembangunan dan Lingkungan Harus Berjalan Bersama
Pembangunan adalah kebutuhan. Masyarakat membutuhkan lapangan pekerjaan, investasi, infrastruktur, fasilitas publik, serta pertumbuhan ekonomi. Karena itu, pembangunan tidak mungkin dihentikan.
Persoalannya adalah bagaimana pembangunan tersebut dilakukan dengan memperhatikan daya dukung dan daya tampung lingkungan.
Kita tidak boleh lagi melihat pembangunan dan lingkungan sebagai dua kepentingan yang selalu bertentangan. Keduanya harus berjalan bersama. Pembangunan yang mengabaikan lingkungan pada akhirnya akan menimbulkan biaya yang jauh lebih besar bagi masyarakat.
Kerusakan sungai, pencemaran air, degradasi hutan, kebakaran lahan, abrasi, banjir, konflik pemanfaatan ruang, dan berbagai persoalan ekologis lainnya merupakan pengingat bahwa sumber daya alam memiliki batas.
Di sinilah lulusan PSDAL dibutuhkan. Mereka harus mampu memahami hubungan antara lingkungan, ekonomi, sosial, dan kebijakan. Mereka bukan hanya dituntut mengetahui teori, tetapi juga mampu mencari solusi atas persoalan nyata yang terjadi di lapangan.
Kalimantan Barat adalah Laboratorium Pembelajaran
Kalimantan Barat sesungguhnya merupakan laboratorium alam yang sangat besar bagi pengembangan ilmu pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan.
Provinsi ini memiliki karakteristik ekologis yang sangat beragam. Ada kawasan hutan, lahan gambut, daerah aliran sungai, kawasan pertanian dan perkebunan, pesisir, laut, serta kawasan perkotaan yang terus berkembang.
Berbagai persoalan tersebut dapat menjadi ruang penelitian dan pembelajaran bagi mahasiswa PSDAL.
Bagaimana mengelola lahan gambut secara berkelanjutan? Bagaimana mencegah kebakaran hutan dan lahan? Bagaimana meningkatkan kualitas air sungai? Bagaimana mengelola sampah perkotaan? Bagaimana menjaga kawasan pesisir dari abrasi? Bagaimana memastikan kegiatan ekonomi tetap berjalan tanpa merusak lingkungan?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut membutuhkan sumber daya manusia yang memiliki pengetahuan sekaligus kemampuan praktis.
Karena itu, pembelajaran di PSDAL harus terus diarahkan agar mahasiswa tidak hanya memahami teori di ruang kelas. Mereka harus mendapatkan pengalaman lapangan, melakukan penelitian, berdialog dengan masyarakat, memahami kondisi sosial-ekonomi, serta mampu merumuskan solusi yang dapat diterapkan.
Kebutuhan Dunia Kerja Semakin Besar
Kebutuhan terhadap tenaga profesional bidang lingkungan juga semakin terbuka di dunia kerja.
Berbagai sektor usaha, mulai dari perkebunan, pertambangan, kehutanan, konstruksi, manufaktur, energi, properti, hingga sektor jasa membutuhkan sumber daya manusia yang memahami aspek lingkungan.
Perusahaan membutuhkan tenaga yang mampu membantu mengelola dampak lingkungan, pengelolaan limbah, efisiensi sumber daya, pemantauan kualitas lingkungan, kepatuhan terhadap regulasi, hingga hubungan dengan masyarakat.
Perkembangan dunia usaha juga semakin memperhatikan isu keberlanjutan. Konsep Environmental, Social, and Governance atau ESG, ekonomi sirkular, efisiensi energi, pengurangan limbah, dan tanggung jawab sosial menjadi semakin penting.
Kondisi ini menunjukkan bahwa prospek lulusan PSDAL cukup luas. Mereka dapat bekerja di sektor pemerintahan, perusahaan, konsultan lingkungan, lembaga penelitian, organisasi masyarakat, maupun berbagai sektor yang membutuhkan kompetensi pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan.
Bukan Sekadar Pencari Kerja
Saya juga melihat PSDAL memiliki peluang untuk mendorong lahirnya generasi wirausaha lingkungan.
Persoalan lingkungan sebenarnya memiliki potensi ekonomi yang besar apabila dikelola dengan pendekatan yang tepat.
Sampah, misalnya, tidak harus selalu dipandang sebagai masalah. Dengan konsep ekonomi sirkular, sampah dapat diolah menjadi bahan baku atau produk yang memiliki nilai ekonomi.
Demikian pula dengan ekowisata, jasa lingkungan, rehabilitasi lahan, pengelolaan pesisir, pertanian berkelanjutan, produk ramah lingkungan, dan berbagai inovasi teknologi hijau.
Mahasiswa PSDAL perlu didorong untuk melihat persoalan lingkungan bukan hanya sebagai masalah yang harus diselesaikan, tetapi juga sebagai peluang untuk menciptakan inovasi dan lapangan pekerjaan.
Dengan demikian, lulusan tidak hanya menjadi pencari kerja, tetapi juga mampu menjadi pencipta lapangan kerja.
Masyarakat Harus Menjadi Bagian dari Solusi
Pengelolaan sumber daya alam juga tidak dapat dilakukan hanya dengan pendekatan teknis. Faktor masyarakat harus menjadi perhatian utama.
Banyak masyarakat Kalimantan Barat yang kehidupannya bergantung pada hutan, sungai, lahan pertanian, perkebunan, perikanan, dan sumber daya alam lainnya.
Karena itu, pengelolaan lingkungan harus melibatkan masyarakat sebagai subjek pembangunan.
Pengetahuan lokal dan kearifan masyarakat juga harus dihargai. Masyarakat memiliki pengalaman panjang dalam memahami kondisi hutan, sungai, lahan, musim, dan berbagai sumber daya alam di sekitarnya.
Pengetahuan tersebut dapat dipadukan dengan ilmu pengetahuan modern sehingga menghasilkan model pengelolaan lingkungan yang lebih sesuai dengan karakteristik daerah.
Di sinilah lulusan PSDAL membutuhkan kemampuan komunikasi sosial. Seorang sarjana lingkungan tidak cukup hanya mampu membaca data, tetapi juga harus mampu berkomunikasi dengan masyarakat, pemerintah, dunia usaha, dan berbagai pemangku kepentingan.
Kampus Harus Dekat dengan Persoalan Daerah
Menurut saya, kekuatan PSDAL UPB ke depan terletak pada kemampuannya membangun hubungan yang kuat dengan persoalan nyata masyarakat Kalimantan Barat.
Kampus harus menjadi pusat pengetahuan sekaligus pusat solusi.
Penelitian dosen dan mahasiswa sebaiknya semakin banyak diarahkan pada persoalan lokal. Begitu pula kegiatan pengabdian kepada masyarakat harus mampu memberikan manfaat nyata.
Kerja sama dengan pemerintah daerah, dunia usaha, komunitas, organisasi lingkungan, dan masyarakat harus diperluas.
Dengan demikian, PSDAL UPB tidak hanya menghasilkan lulusan yang memiliki kemampuan akademik, tetapi juga menghasilkan manusia yang memahami kondisi daerah dan mampu bekerja untuk menyelesaikan persoalan masyarakat.
Menyiapkan Generasi Pengelola Sumber Daya Alam
Kalimantan Barat akan terus berkembang. Investasi akan tumbuh, kawasan perkotaan berkembang, infrastruktur bertambah, dan kebutuhan masyarakat semakin kompleks.
Di tengah perkembangan tersebut, kita membutuhkan generasi yang mampu memastikan pembangunan tetap berjalan tanpa mengorbankan lingkungan.
PSDAL UPB dapat mengambil peran strategis dalam menyiapkan generasi tersebut.
Kita membutuhkan sarjana yang memahami bahwa hutan bukan sekadar sumber kayu, sungai bukan hanya saluran air, lahan bukan semata-mata tempat produksi, dan lingkungan bukan hambatan pembangunan.
Semua itu merupakan bagian dari sistem kehidupan yang saling berhubungan.
Jika satu bagian rusak, masyarakat akan menerima dampaknya.
Investasi untuk Masa Depan Kalbar
Sudah saatnya lingkungan dipandang sebagai investasi masa depan, bukan sebagai penghambat pembangunan.
Menjaga hutan berarti menjaga sumber air. Menjaga sungai berarti menjaga kehidupan masyarakat. Menjaga lahan berarti menjaga ketahanan pangan. Menjaga pesisir berarti melindungi kehidupan masyarakat pesisir.
Karena itu, investasi pada pendidikan sumber daya manusia di bidang lingkungan juga merupakan investasi untuk masa depan daerah.
Saya melihat PSDAL UPB sangat sesuai dengan kebutuhan masyarakat Kalimantan Barat. Program studi ini memiliki ruang pengembangan yang luas karena persoalan sumber daya alam dan lingkungan akan terus menjadi bagian penting dalam pembangunan daerah.
Yang dibutuhkan adalah sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah, dunia usaha, masyarakat, dan berbagai pemangku kepentingan.
Perguruan tinggi menyediakan pengetahuan dan sumber daya manusia. Pemerintah menyediakan kebijakan dan arah pembangunan. Dunia usaha menghadirkan inovasi dan investasi. Sementara masyarakat menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan.
Pada akhirnya, keberhasilan pembangunan Kalimantan Barat tidak hanya ditentukan oleh seberapa besar sumber daya alam yang dapat kita manfaatkan, tetapi juga oleh seberapa bijak kita mengelolanya.
Karena itu, keberadaan PSDAL UPB harus dilihat sebagai bagian dari kebutuhan strategis Kalimantan Barat.
Mendidik generasi pengelola sumber daya alam berarti menyiapkan generasi yang akan menjaga masa depan daerah.
Dan bagi Kalimantan Barat, menjaga masa depan berarti memastikan pembangunan berjalan seiring dengan kelestarian lingkungan dan kesejahteraan masyarakat. (*)