By: Ahmad Jais / Dosen Studi Agama-Agama Fakultas Ushuluddin dan Adab IAIN Pontianak, Kaimantan Barat, Founder & Master Trainer: Mind Healing Technique of Indonesia. www.mhtindonesia.com
"Gunung-gunung berdiri bukan untuk mengancam manusia, melainkan untuk mengingatkan betapa kecilnya manusia di hadapan Sang Pencipta." (Ibn 'Arabi, Al-Futuhat Al-Makkiyah, abad ke-13 M)
Empat gunung yang letaknya berjauhan: Ili Lewotolok di ujung timur Nusa Tenggara, Ibu di kepulauan Maluku, Semeru yang menjulang di perbatasan Lumajang dan Malang, serta Anak Krakatau yang berdiri kokoh di tengah Selat Sunda, dalam waktu yang hampir bersamaan mengeluarkan gemuruh dan abu vulkanik ke langit Nusantara.
Seolah tanpa berjanji satu sama lain, keempatnya berbicara dalam satu bahasa yang sama: bahasa kekuasaan Allah yang tidak mengenal jarak dan sekat geografis.
Tujuh bandara di Jawa dan Sumatra terpaksa ditutup, jutaan anak kembali belajar dari rumah, dan langit yang biasanya biru kini diselimuti kabut asap yang belum reda, ditambah debu vulkanik yang menambah gelapnya cakrawala. Fenomena alam yang begitu serempak ini mengingatkan kita pada kisah-kisah para nabi terdahulu, ketika alam pun turut "berbicara" mengiringi perjalanan risalah kenabian, sebagai pengingat bahwa kekuasaan Allah jauh melampaui apa yang mampu dipahami akal manusia.
Rasulullah saw sendiri mengajarkan umatnya untuk memaknai setiap goncangan alam sebagai bahasa peringatan dari Allah, bukan sekadar fenomena geologis semata.
Ketika terjadi gempa bumi pada masa pemerintahan Umar bin Khattab ra, beliau segera mengumpulkan para sahabat dan berpidato dengan tegas, mengingatkan mereka untuk introspeksi diri, sebagaimana Rasulullah saw sendiri pernah bersabda,
"Sesungguhnya Allah menangguhkan (siksaan) bagi orang yang zalim, hingga apabila Dia mengazabnya, Dia tidak akan melepaskannya." Kemudian beliau membaca ayat, "Dan begitulah azab Tuhanmu, apabila Dia mengazab penduduk negeri-negeri yang berbuat zalim. Sesungguhnya azab-Nya itu sangat pedih lagi keras." (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menegaskan bahwa setiap guncangan alam, baik gempa maupun erupsi gunung, hendaknya menjadi momentum introspeksi kolektif, bukan sekadar peristiwa yang dilewati dengan kepanikan sesaat lalu terlupakan begitu saja.
Allah Swt berfirman, "Dan gunung-gunung dipancangkan dengan teguh, untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu." (QS. An-Nazi'at: 32-33).
Ayat ini bagaikan dua sisi mata pisau yang saling melengkapi, gunung yang biasanya berdiri kokoh memberikan kesejahteraan dan sumber kehidupan bagi manusia, namun ketika Allah menghendaki, gunung yang sama dapat berubah menjadi pengingat akan kekuasaan-Nya yang tak terbantahkan, sebagaimana empat gunung yang kini serentak mengeluarkan isi perutnya ke langit Nusantara.
Kisah Nabi Musa as ketika bermunajat di Gunung Sinai memberikan pelajaran mendalam tentang bagaimana gunung dapat menjadi saksi kebesaran Allah yang menggetarkan.
Ketika Musa AS memohon untuk dapat melihat Allah secara langsung, Allah berfirman kepadanya untuk melihat gunung yang ada di hadapannya, "Maka tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikan-Nya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan." (QS. Al-A'raf: 143).
Peristiwa ini menunjukkan bahwa gunung, sekokoh apa pun ia berdiri, tetap tunduk dan rapuh di hadapan kebesaran Allah, sebuah pelajaran yang begitu relevan bagi manusia modern yang kadang merasa mampu menaklukkan alam sepenuhnya dengan teknologi dan kecanggihan zaman.
Ibnu Athaillah As-Sakandari menegaskan peristiwa di atas dalam kata hikmahnya, "Alam semesta ini adalah bayangan dari sifat-sifat Allah, maka barangsiapa yang mengenal dirinya sendiri sebagai makhluk yang lemah, ia akan mengenal Tuhannya sebagai Yang Maha Kuasa." (Al-Hikam).
Kata hikmah ini menuntun kita untuk memaknai gemuruh empat gunung ini bukan sebagai kebetulan geologis semata, melainkan sebagai bahasa yang mengajak manusia mengenali kembali kerapuhan dirinya di hadapan kebesaran Sang Pencipta.
Di era digital saat ini, ketika berita empat gunung meletus bersamaan begitu cepat tersebar dan menjadi bahan perbincangan viral, seringkali substansi spiritual dari peristiwa ini justru tenggelam oleh sensasi dan spekulasi yang tidak berdasar.
Rasulullah saw mengingatkan, "Barangsiapa yang menakut-nakuti manusia dengan sesuatu yang tidak benar, maka Allah akan menakut-nakutinya pada hari kiamat." (HR. Abu Dawud).
Hadis ini merupakan sebuah peringatan penting agar informasi seputar bencana disebarkan dengan akurat dan bijaksana, bukan untuk menciptakan kepanikan yang tidak perlu.
Perlu diwaspadai agar rentetan bencana ini tidak melahirkan sikap fatalisme yang pasrah tanpa ikhtiar, ataupun sebaliknya, sikap sombong yang menganggap teknologi mitigasi mampu sepenuhnya menaklukkan kekuatan alam, sebab keduanya adalah bentuk kelalaian dalam memahami kedudukan manusia yang sesungguhnya di hadapan Allah.
Sebagai solusi, Allah Swt berfirman, "Katakanlah, 'Tidak ada yang menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah bagi kami. Dialah pelindung kami, dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal.'" (QS. At-Taubah: 51).
Ayat ini mengajarkan keseimbangan antara ikhtiar mitigasi bencana dan penyerahan diri sepenuhnya kepada ketetapan Allah.
Jadilah seperti gunung yang meski bergemuruh dan mengeluarkan amarahnya dari dalam, pada akhirnya kembali diam dan justru menyuburkan tanah di sekelilingnya dengan abu yang telah ia semburkan.
Jadilah pula seperti langit yang meski untuk sementara tertutup kabut dan debu vulkanik dari empat penjuru negeri, tetap menyimpan cahaya matahari yang pasti kembali menyinari setelah semuanya reda.
Ingatlah bahwa kelak setiap bahasa yang disampaikan alam melalui guncangan dan gemuruhnya akan ditanya maknanya bagi kita, apakah kita mendengarkannya sebagai panggilan untuk kembali kepada Allah, ataukah sekadar membiarkannya berlalu sebagai berita yang menghilang ditelan linimasa berikutnya.
Ya Allah, Engkau yang menggenggam gunung-gunung dan seluruh isi bumi ini, lindungilah kami dari bahaya yang lebih besar akibat gemuruh empat gunung-Mu, mudahkanlah urusan saudara-saudara kami di Nusa Tenggara, Maluku, Lumajang, Malang, dan Selat Sunda yang terdampak langsung, dan bukalah hati kami untuk memahami bahasa yang Engkau sampaikan melalui alam ini sebagai jalan kembali kepada-Mu. Amin. (*)