By: Ahmad Jais / Dosen Studi Agama-Agama Fakultas Ushuluddin dan Adab IAIN Pontianak, Kaimantan Barat, Founder & Master Trainer : Mind Healing Technique of Indonesia. www.mhtindonesia.com
"Cinta sejati tidak pernah membongkar aib yang telah lama terkubur, sebaliknya ia menutupinya dengan jubah pengampunan." (Henri Nouwen, Imam, 1992)
Suatu masa ketika saya meneliti tentang kehidupan selibat di Seminari Tinggi St. Paulus, Yogyakarta, saya berkesempatan bertemu, berkenalan, dan berinteraksi langsung dengan para Pastor dari Kongregasi Sanata Dharma (SADAR), para Frater, dan para Suster yang mengabdikan hidupnya dalam kesunyian dan pelayanan.
Dari perjumpaan itu, ada satu pemandangan yang begitu membekas: setiap Rabu sore, saya menyaksikan para Frater duduk satu per satu bersama jemaat, siswa-siswi SMU, yang datang untuk sekadar bercerita, mencurahkan keluh kesah, bahkan mengakui kesalahan dan pergumulan batin yang tak berani mereka ceritakan kepada siapa pun, dan mereka mendengarkan dengan sabar, tanpa sedikit pun menghakimi atau membuka rahasia yang telah dipercayakan kepada mereka.
Dari sanalah saya menemukan kembali makna mendalam dari ayat yang termaktub dalam 1 Korintus 13:7, "Kasih itu menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu."
Ayat ini seolah menjelma nyata di hadapan mata saya sendiri bahwa kasih sejati bukan sekadar perasaan yang hangat, melainkan kesediaan untuk menutupi kekurangan dan kesalahan sesama, sebagaimana seorang sahabat sejati tidak akan membuka aib yang telah dipercayakan kepadanya.
Konsep "kasih yang menutupi" ini ternyata menemukan gaungnya yang begitu kuat dalam ajaran Islam, meski diungkapkan dengan bahasa dan konteks yang berbeda.
Rasulullah saw sendiri senantiasa mengajarkan umatnya untuk menutupi aib sesama, sebagaimana Allah menutupi aib hamba-hamba-Nya. Beliau bersabda, "Barangsiapa menutupi (aib) seorang muslim, maka Allah akan menutupi (aibnya) di dunia dan akhirat." (HR. Muslim)
Hadis ini bagaikan jembatan yang menghubungkan dua tepi ajaran yang tampak berbeda, Paulus menulis tentang kasih yang menutupi segala sesuatu kepada jemaat di Korintus, sementara Rasulullah saw mengajarkan hal yang sama kepada umatnya di Madinah, keduanya menegaskan bahwa cinta sejati tidak pernah bersekutu dengan keinginan untuk mempermalukan atau membongkar kekurangan sesama manusia.
Allah Swt berfirman, "Dan Dialah yang menerima taubat dari hamba-hamba-Nya dan memaafkan kesalahan-kesalahan." (QS. Asy-Syura: 25).
Ayat ini bagaikan cahaya yang menyinari dari sudut yang berbeda namun terarah pada titik yang sama dengan pesan kasih dalam surat Korintus bahwa rahmat Allah senantiasa membuka pintu pengampunan, bukan menutup pintu harapan bagi hamba-Nya yang berbuat salah, sebagaimana kasih yang sejati senantiasa "mengharapkan segala sesuatu" dan tidak pernah berputus asa terhadap perbaikan diri sesama.
Kisah Nabi Yusuf as. memberikan teladan agung tentang bagaimana kasih yang menutupi dan rahmat yang mengampuni dapat bersatu dalam satu tindakan yang begitu mulia.
Setelah bertahun-tahun dikhianati saudara-saudaranya sendiri dilempar ke dalam sumur dan dijual sebagai budak, Yusuf as, ketika akhirnya berkuasa di Mesir dan saudara-saudaranya datang memohon pertolongan tanpa mengenalinya, tidak membuka aib mereka di hadapan orang banyak.
Ia justru berkata dengan lembut, "Pada hari ini tidak ada cercaan terhadap kamu, mudah-mudahan Allah mengampuni kamu, dan Dia adalah Maha Penyayang di antara para penyayang." (QS. Yusuf: 92).
Kata-kata ini menjadi bukti nyata bahwa kasih yang menutupi kesalahan orang lain dan rahmat yang mengampuni bukanlah kelemahan, melainkan puncak kemuliaan seorang manusia yang telah menaklukkan dendam dalam hatinya.
Ibnu Athaillah As-Sakandari menegaskan dalam sebuah kata hikmahnya, "Rahmat Allah kepada hamba-Nya lebih besar daripada dosa hamba itu sendiri, sebagaimana lautan lebih luas daripada setitik air yang jatuh ke dalamnya." (Al-Hikam).
Kata hikmah ini merupakan sebuah gaung yang begitu selaras dengan penutup ayat 1 Korintus 13:8, "Kasih tidak berkesudahan," menegaskan bahwa baik dalam tradisi Kristiani maupun Islam, kasih dan rahmat sejati digambarkan sebagai sesuatu yang tak bertepi, jauh melampaui batas kesalahan manusia yang menerimanya.
Di era digital saat ini, ketika kesalahan seseorang begitu mudah diabadikan, disebarluaskan, dan diungkit kembali tanpa henti melalui tangkapan layar dan jejak digital, semangat "kasih yang menutupi" ini menjadi pengingat yang begitu relevan.
Rasulullah saw mengingatkan, "Barangsiapa membuka aib saudaranya, maka Allah akan membuka aibnya, sekalipun ia berada di dalam rumahnya sendiri." (HR. Ibnu Majah).
Hadis ini merupakan sebuah peringatan yang selaras dengan semangat para Frater di Seminari St. Paulus yang menjaga setiap curahan hati siswa-siswinya sebagai amanah yang harus dilindungi, bukan bahan pembicaraan yang tersebar.
Perlu diwaspadai agar semangat lintas iman dalam merenungi kasih dan rahmat ini tidak disalahpahami sebagai pencampuran akidah, sebab menghargai kebaikan universal dalam ajaran agama lain bukan berarti menyamakan keyakinan, melainkan mengakui bahwa Allah menitipkan benih kebenaran dan kebaikan pada setiap risalah yang diturunkan-Nya kepada para nabi.
Allah Swt berfirman, "Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh." (QS. Al-A'raf: 199).
Ayat ini menjadi penutup sempurna bagi dialog lintas iman ini, mengajak setiap manusia, dari latar belakang keyakinan mana pun, untuk memilih jalan kasih dan pengampunan daripada jalan dendam dan pembongkaran aib.
Jadilah seperti tanah yang menutupi benih di dalam gelapnya, memberi ruang baginya untuk tumbuh tanpa pernah membongkarnya sebelum waktunya berbuah.
Jadilah pula seperti malam yang menyembunyikan kelemahan siang di balik kegelapannya, memberi kesempatan bagi fajar baru untuk terbit dengan harapan yang segar.
Ingatlah bahwa kelak setiap aib yang kita pilih untuk tutupi, dan setiap kesalahan yang kita pilih untuk maafkan, akan menjadi saksi kasih yang sesungguhnya di hadapan Tuhan, melampaui sekat agama yang membatasi pemahaman manusia tentang-Nya.
Ya Allah, ajarkanlah kami untuk menutupi aib sesama sebagaimana Engkau menutupi aib kami, dan limpahkanlah rahmat pengampunan-Mu dalam setiap hubungan kami dengan sesama manusia, tanpa memandang keyakinan yang mereka anut. Jadikanlah kasih kami seluas rahmat-Mu yang tidak pernah berkesudahan. Amin. (*)