Opini post author Kiwi 11 September 2026

Menemukan Kedamaian di Tengah Kesibukan

Photo of Menemukan Kedamaian di Tengah Kesibukan

By: Ahmad Jais / Dosen Studi Agama-Agama Fakultas Ushuluddin dan Adab IAIN Pontianak, Kaimantan Barat, Founder & Master Trainer : Mind Healing Technique of Indonesia. www.mhtindonesia.com

"Bukan dengan melarikan diri dari dunia engkau menemukan kedamaian, melainkan dengan menemukan Tuhan di tengah hiruk-pikuknya." (Ibn 'Athaillah As-Sakandari, Al-Hikam, abad ke-13 M)


Setiap hari, jutaan manusia berlarian mengejar deadline, menembus kemacetan, berpindah dari satu rapat ke rapat lainnya, hingga waktu terasa berlomba lebih cepat dari langkah kaki mereka sendiri.

Di tengah gemuruh notifikasi yang tak pernah berhenti dan tumpukan pekerjaan yang seolah tiada ujung, satu pertanyaan sering muncul tanpa sempat terjawab: kapan hati ini benar-benar merasa tenang?

Banyak yang mengira kedamaian hanya bisa ditemukan dengan menjauh dari kesibukan, berlibur ke tempat sunyi, mengundurkan diri dari pekerjaan, atau menunggu masa pensiun tiba.

Namun para nabi dan orang-orang shaleh justru mengajarkan sebaliknya: bahwa kedamaian sejati bukan soal seberapa sepi keadaan di sekeliling kita, melainkan seberapa dalam ketenangan yang bersemayam di dalam hati, sekalipun dunia di sekitarnya terus bergerak cepat.

Rasulullah saw sendiri menjalani kehidupan yang begitu padat, memimpin negara, mengatur strategi perang, mendidik ribuan sahabat, sekaligus melayani keluarganya dengan penuh perhatian.


Namun di tengah kesibukan yang luar biasa itu, beliau senantiasa menemukan jeda untuk kembali kepada Allah. Ketika Bilal bin Rabah ra. dikumandangkan untuk azan, Rasulullah saw pernah bersabda kepadanya, "Wahai Bilal, tenangkanlah kami dengan shalat (adzankanlah shalat)." (HR. Abu Dawud)

Ungkapan ini begitu menggugah bahwa di tengah padatnya urusan dunia, shalat bukan dianggap sebagai beban tambahan, melainkan jeda yang menenangkan, oase yang menyejukkan dahaga jiwa yang lelah berlari mengejar dunia.

Allah Swt berfirman, "(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram." (QS. Ar-Ra'd: 28).

Ayat ini bagaikan mata air yang tersembunyi di tengah padang gersang kesibukan, menunjukkan bahwa ketenangan tidak perlu dicari jauh-jauh ke tempat yang sunyi, sebab sumbernya senantiasa ada dalam jangkauan, yaitu dzikir dan mengingat Allah, yang bisa dihadirkan kapan saja, bahkan di sela kesibukan yang paling padat sekalipun.

Kisah Abdurrahman bin Auf ra. memberikan teladan yang begitu menginspirasi tentang bagaimana kesibukan berdagang yang luar biasa tidak pernah menjauhkannya dari ketenangan batin. Sebagai salah satu sahabat terkaya, ia memiliki kafilah dagang yang begitu besar hingga suara derap untanya memenuhi Kota Madinah.

Namun ketika ditanya bagaimana ia tetap menjaga ketenangan hati di tengah kesibukan bisnis yang luar biasa itu, ia menjawab dengan sederhana, "Aku tidak pernah membiarkan dunia masuk ke dalam hatiku, aku hanya membiarkannya berada di tanganku.

Apa yang di tangan bisa hilang tanpa membuat hati terguncang, namun apa yang di hati akan membuat seluruh diri ikut goyah jika ia hilang." Prinsip ini menjadi kunci penting, kesibukan boleh memenuhi tangan dan waktu kita, namun hati harus tetap dijaga agar tidak diperbudak olehnya.

Ibn 'Athaillah As-Sakandari menegaskan pentingnya menjaga hati sebagaimana terdapat dalam kata hikmahnya, "Padamkanlah dirimu dari dirimu sendiri, niscaya apa pun yang terjadi padamu tidak akan pernah mengusikmu." (Al-Hikam).

Kata hikmah ini mengajarkan bahwa kegelisahan di tengah kesibukan sering kali bukan berasal dari banyaknya pekerjaan itu sendiri, melainkan dari ego dan ambisi yang terlalu menuntut kesempurnaan, sehingga hati kehilangan kelapangannya untuk menerima proses yang sedang dijalani.

Di era digital saat ini, kesibukan bertambah rumit dengan hadirnya notifikasi yang datang tanpa henti, tuntutan untuk selalu terhubung, dan ekspektasi untuk merespons segala sesuatu secara instan. Rasulullah saw mengingatkan, "Sesungguhnya badanmu memiliki hak atas dirimu." (HR.Bukhari).

Hadis ini merupakan sebuah peringatan yang begitu relevan bagi mereka yang memaksakan diri bekerja tanpa jeda, hingga lupa bahwa tubuh dan jiwa memiliki hak untuk beristirahat, merenung, dan kembali mengingat Allah di sela rutinitas yang padat.

Perlu diwaspadai agar kesibukan yang berlebihan tidak menjerumuskan seseorang pada kelalaian (ghaflah), suatu keadaan ketika hati begitu sibuk dengan dunia hingga lupa mengingat Allah, sebab kelalaian inilah yang sesungguhnya menjadi sumber kegelisahan yang tak berkesudahan, bukan kesibukan itu sendiri.

Allah Swt berfirman, "Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu diseru untuk menunaikan shalat Jum'at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli." (QS. Al-Jumu'ah: 9). Ayat ini mengajarkan keseimbangan indah antara ikhtiar dunia dan jeda mengingat Allah, bukan memilih salah satu dan meninggalkan yang lain sepenuhnya.

Jadilah seperti pusaran air yang tetap tenang di kedalamannya meski riak-riak kecil bergejolak di permukaannya. Jadilah pula seperti pohon besar yang tetap kokoh berakar meski dahannya terus melambai diterpa angin yang datang silih berganti.

Ingatlah bahwa kelak setiap kesibukan yang kita jalani akan ditanya maknanya, apakah ia menjauhkan kita dari mengingat Allah, ataukah justru menjadi ladang untuk terus menemukan-Nya di setiap jeda yang kita ciptakan.

Ya Allah, hadirkanlah ketenangan dalam hati kami di tengah kesibukan yang tak kunjung usai, ajarkanlah kami untuk selalu menemukan jeda mengingat-Mu di sela rutinitas kami, dan jagalah hati kami agar tidak diperbudak oleh dunia yang sedang kami genggam. Amin. (*)

Keywords

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda