Oleh: Eko Bahtiar / Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam IAIN Pontianak
PERGURUAN tinggi tidak hanya membutuhkan pemimpin yang memiliki jabatan, tetapi juga pemimpin yang memiliki pengalaman, rekam jejak, dan kemampuan membaca perubahan zaman. Kepemimpinan di lingkungan perguruan tinggi menuntut lebih dari sekadar kemampuan administratif.
Ia membutuhkan pengalaman akademik, kemampuan manajerial, keberanian mengambil keputusan, serta visi untuk membawa lembaga bergerak menuju masa depan.
Di tengah tuntutan transformasi pendidikan tinggi Islam, kehadiran kepemimpinan generasi baru di lingkungan FEBI IAIN Pontianak menjadi sebuah harapan. Periode 2026-2030 diharapkan tidak sekadar menjadi pergantian kepemimpinan, tetapi juga momentum untuk menghadirkan energi baru, gagasan baru, dan budaya akademik yang semakin kuat.
Perjalanan karier seorang dekan muda Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) IAIN Pontianak, Dr. Luqman, S.H.I., M.S.I Rekam jejaknya menunjukkan bahwa kepemimpinan tidak lahir secara tiba-tiba.
Ia dibangun melalui proses panjang, dimulai dari pengalaman teknis, organisasi, kepemimpinan program studi, hingga akhirnya dipercaya memimpin fakultas.
Dari Pendidikan Islam hingga Ekonomi Islam
Dr. Luqman lahir di Pontianak pada 16 Agustus 1980. Pendidikan dasarnya ditempuh di MIN Paal Lima, yang kini menjadi MIN 2 Pontianak, kemudian melanjutkan pendidikan di MTs Aswaja.
Perjalanan pendidikan berikutnya membawanya ke Jawa Timur, tepatnya di MA Darullugha Wadda'wah Bangil, Pasuruan. Lingkungan pendidikan tersebut menjadi bagian penting dalam membentuk fondasi keilmuan dan keislamannya sebelum melanjutkan pendidikan tinggi.
Pendidikan sarjananya ditempuh di Fakultas Syariah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Pendidikan ini memberikan dasar kuat dalam memahami hukum Islam, pemikiran keislaman, serta berbagai persoalan sosial-keagamaan.
Ketertarikannya terhadap persoalan ekonomi Islam kemudian semakin berkembang pada jenjang magister. Ia melanjutkan pendidikan Magister Studi Islam dengan konsentrasi Ekonomi Islam di Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta.
Perpaduan antara dasar keilmuan syariah dan ekonomi Islam menjadi modal akademik yang kemudian mewarnai perjalanan profesionalnya di lingkungan perguruan tinggi. Komitmen terhadap pengembangan keilmuan tersebut dilanjutkan hingga jenjang doktoral.
Dr. Luqman menyelesaikan pendidikan Doktor Studi Islam Konsentrasi Ekonomi Islam di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Dengan demikian, perjalanan pendidikannya memperlihatkan sebuah kesinambungan: pendidikan Islam, syariah, ekonomi Islam, hingga pengembangan keilmuan pada tingkat doktoral. Fondasi akademik tersebut menjadi bekal penting dalam menjalankan berbagai amanah kepemimpinan di FEBI IAIN Pontianak.
Berawal dari Laboratorium Bank Mini Syariah
Jejak perjalanan tersebut dimulai pada tahun 2011–2012 ketika dipercaya sebagai Kepala Laboratorium Bank Mini Syariah. Posisi ini bukan sekadar jabatan teknis.
Laboratorium menjadi ruang penting untuk mempertemukan teori yang dipelajari mahasiswa dengan praktik perbankan syariah. Pengalaman mengelola laboratorium memberikan fondasi awal tentang bagaimana pendidikan harus berjalan secara aplikatif.
Mahasiswa tidak cukup hanya memahami konsep ekonomi dan perbankan syariah melalui buku, tetapi juga perlu mendapatkan pengalaman praktik yang mendekati dunia kerja sesungguhnya.
Dari pengalaman tersebut, terlihat satu pelajaran penting. Kepemimpinan akademik yang kuat seharusnya berangkat dari pemahaman terhadap kebutuhan mahasiswa dan dunia profesi.
Perjalanan berikutnya berlanjut pada 2012–2014 sebagai Sekretaris LP2M. Pengalaman ini menjadi fase penting karena memperluas perspektif dari pengelolaan laboratorium menuju pengelolaan kelembagaan. LP2M memiliki posisi strategis dalam pengembangan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.
Berada dalam lingkungan tersebut berarti bersentuhan dengan berbagai agenda akademik, penelitian dosen, pengabdian, serta pengembangan budaya ilmiah perguruan tinggi.
Pengalaman organisasi kelembagaan semacam ini menjadi modal berharga bagi seorang akademisi ketika kelak memasuki posisi kepemimpinan yang lebih tinggi. Sebab, memimpin fakultas membutuhkan kemampuan memahami institusi secara menyeluruh, bukan hanya memahami bidang keilmuan tertentu.
Memimpin Program Studi Ekonomi Syariah
Pada tahun 2018 perjalanan kepemimpinan berlanjut dengan amanah baru sebagai Ketua Program Studi S1 Ekonomi Syariah. Menjadi ketua program studi merupakan tantangan tersendiri.
Program studi adalah jantung akademik yang berhadapan langsung dengan mahasiswa, dosen, kurikulum, akreditasi, dan kebutuhan dunia kerja. Pada tahap ini, kepemimpinan diuji bukan hanya dari kemampuan mengelola administrasi, tetapi juga dari kemampuan membangun budaya akademik, meningkatkan mutu pembelajaran, mendorong produktivitas dosen, dan memastikan lulusan memiliki kompetensi yang relevan dengan kebutuhan zaman.
Pengalaman sebagai kaprodi menjadi fase penting dalam membentuk kemampuan kepemimpinan akademik. Dari sinilah seorang calon pemimpin fakultas belajar bahwa keberhasilan perguruan tinggi pada akhirnya harus bermuara pada peningkatan mutu pendidikan dan kualitas lulusan.
Dari Kaprodi Menjadi Wakil Dekan
Setahun kemudian, pada 2019, amanah yang lebih besar datang. Ia dipercaya sebagai Wakil Dekan I FEBI IAIN Pontianak. Posisi Wakil Dekan I memiliki keterkaitan erat dengan bidang akademik.
Pengalaman ini memperluas ruang pengelolaan dari satu program studi menjadi lingkup fakultas. Di sinilah kemampuan membangun koordinasi menjadi semakin penting.
Fakultas bukanlah organisasi yang dapat berjalan dengan satu orang. Ada pimpinan, dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, program studi, dan berbagai unit pendukung yang harus bergerak dalam satu arah.
Pengalaman tersebut menjadi bekal penting untuk memahami bahwa kepemimpinan perguruan tinggi adalah kerja kolektif. Dekan tidak bekerja sendirian, tetapi menjadi orkestrator yang menyatukan berbagai potensi untuk mencapai tujuan bersama.
Memimpin Program Magister Ekonomi Syariah
Setelah pengalaman sebagai Wakil Dekan, perjalanan kepemimpinan kembali berlanjut. Pada 2022-2026, ia dipercaya sebagai Kaprodi Magister Ekonomi Syariah.
Mengelola program magister menghadirkan tantangan yang berbeda. Pada jenjang ini, orientasi akademik tidak lagi sebatas penguasaan pengetahuan, tetapi juga penguatan tradisi riset, pengembangan pemikiran, dan kontribusi ilmiah.
Pengalaman memimpin program studi magister menjadi modal penting dalam membangun perspektif yang lebih luas mengenai pengembangan akademik. Terlebih, perguruan tinggi saat ini dituntut untuk meningkatkan kualitas publikasi ilmiah, riset, kolaborasi akademik, dan kontribusi terhadap penyelesaian persoalan masyarakat.
Dengan demikian, perjalanan dari laboratorium, LP2M, Kaprodi S1, Wakil Dekan I, hingga kaprodi magister menunjukkan adanya proses bertahap dalam membangun kapasitas kepemimpinan.
Tahun 2026 Memimpin FEBI IAIN Pontianak
Tahun 2026 ini menjadi babak baru, Setelah melewati berbagai pengalaman akademik dan manajerial, amanah sebagai Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) IAIN Pontianak menjadi puncak sementara dari perjalanan tersebut.
Periode 2026-2030 akan menjadi ruang pembuktian. FEBI membutuhkan kepemimpinan yang mampu menjawab perubahan cepat di dunia ekonomi, keuangan, perbankan, teknologi digital, dan industri halal.
Dari Rekam Jejak Menuju Masa Depan
Jika perjalanan karier tersebut dibaca secara utuh, terlihat sebuah pola yang menarik. Pengalaman dibangun secara bertahap: dari ruang praktik mahasiswa, pengelolaan kelembagaan, kepemimpinan program studi, pengelolaan akademik fakultas, hingga kepemimpinan program magister. ‘
Rekam jejak tersebut tentu bukan jaminan otomatis keberhasilan. Kepemimpinan selalu membutuhkan pembuktian melalui kerja nyata. Tetapi pengalaman panjang dapat menjadi modal untuk memahami persoalan secara lebih komprehensif.
Tantangan FEBI ke depan tidak ringan. Persaingan antarperguruan tinggi semakin kuat. Tuntutan akreditasi semakin tinggi. Mahasiswa membutuhkan kompetensi yang sesuai dengan dunia kerja. Dosen dituntut semakin produktif dalam penelitian dan publikasi. Kerja sama dengan industri juga perlu diperluas. Di sisi lain, identitas keislaman harus tetap menjadi fondasi utama.
Di sinilah kepemimpinan dekan periode 2026–2030 akan diuji. FEBI membutuhkan fakultas yang bukan hanya sibuk dengan rutinitas administrasi, tetapi mampu melahirkan inovasi. Bukan hanya mengejar angka akreditasi, tetapi membangun mutu yang sesungguhnya. Bukan hanya menghasilkan lulusan dengan ijazah, tetapi menghasilkan lulusan yang memiliki kompetensi, integritas, dan daya saing.
Energi Baru, Gagasan Baru
Kepemimpinan baru selalu membawa harapan baru. Namun, harapan harus dibarengi dengan keberanian melakukan perubahan. Energi baru berarti keberanian membuka ruang kolaborasi, memperkuat budaya akademik, memberikan kesempatan kepada dosen dan mahasiswa untuk berkembang, serta membangun jejaring dengan dunia industri dan berbagai institusi.
Sementara gagasan baru berarti kemampuan melihat FEBI bukan hanya untuk kebutuhan hari ini, tetapi untuk menjawab kebutuhan sepuluh atau dua puluh tahun mendatang. Periode 2026-2030 karenanya harus menjadi momentum untuk memperkuat FEBI sebagai salah satu pusat pengembangan ekonomi dan bisnis Islam di Kalimantan Barat.
Fakultas harus mampu menjadi ruang tumbuh bagi intelektual muda, pusat riset ekonomi syariah, serta mitra strategis bagi pemerintah, industri, masyarakat, dan dunia usaha.
Pada akhirnya, jabatan adalah amanah, sedangkan jejak kepemimpinan adalah legacy. Seorang dekan tidak hanya akan dikenang karena pernah menduduki kursi pimpinan, tetapi karena perubahan apa yang berhasil ia hadirkan. (*)