Oleh: Ahmad Jais / Dosen IAIN Pontianak, Kalimantan Barat / Founder & Master Trainer, Mind Healing Technique of Indonesia [email protected] | www.mhtindonesia.com
"Kekayaan sejati bukanlah banyaknya harta, melainkan ketenangan hati menghadapi apa yang belum di tangan." (Ibnu Athaillah As-Sakandari, Al-Hikam, abad ke-13 M)
Setiap kali membuka aplikasi perbankan, memeriksa saldo yang menipis, atau menerima tagihan bertubi-tubi, gelombang kecemasan tak terelakkan menghantam dada, bagaimana jika penghasilan bulan depan tak cukup, bagaimana jika harga terus melambung, bagaimana jika pekerjaan yang selama ini menopang keluarga tiba-tiba tak lagi pasti.
Kecemasan semacam ini bukan sekadar perasaan berlebihan, melainkan fenomena yang telah diteliti luas: survei Stress in America dari American Psychological Association (APA) mencatat persoalan finansial pribadi (66% responden) dan inflasi (64% responden) sebagai sumber stres tertinggi warga Amerika, mengalahkan stres pekerjaan maupun hubungan personal, sementara Gallup's Global Emotions Report (2023) menemukan hampir satu dari dua orang dewasa mengalami stres harian yang signifikan.
Data ini membuktikan bahwa kecemasan finansial bukan kelemahan pribadi, melainkan beban psikologis nyata, sebagaimana para nabi dan orang-orang shaleh pun pernah mengalami kesempitan rezeki yang sama beratnya sepanjang sejarah kenabian.
Secara psikologis, kecemasan ini berdampak nyata pada tubuh, bukan berhenti di pikiran semata. APA mencatat bahwa tekanan finansial jangka panjang membuat banyak orang menunda kunjungan ke dokter hingga mengurangi dosis obat demi berhemat, menciptakan lingkaran setan di mana stres memperburuk kesehatan, dan kesehatan yang memburuk kembali memperberat tekanan finansial.
Studi di JAMA Psychiatry (2022) bahkan menemukan bahwa stres tinggi berkepanjangan menggandakan risiko sindrom metabolik yang meningkatkan bahaya penyakit jantung, sementara kualitas tidur yang memburuk akibat kecemasan finansial pada gilirannya semakin memperparah kecemasan itu sendiri, siklus yang sulit diputus tanpa intervensi yang tepat.
Islam, jauh sebelum psikologi modern mendokumentasikan fenomena ini secara statistik, telah mengajarkan pendekatan menenangkan terhadap kecemasan rezeki.
Rasulullah saw pernah mengalami paceklik yang begitu berat hingga mengganjal perutnya dengan batu karena menahan lapar, namun tak pernah menampakkan kecemasan berlebihan atau berputus asa dari rahmat Allah. Beliau bersabda, "Sesungguhnya bukanlah kekayaan itu dengan banyaknya harta, tetapi kekayaan yang sesungguhnya adalah kekayaan hati (jiwa yang merasa cukup)." (HR. Bukhari dan Muslim).
Hadis ini menegaskan bahwa kegelisahan finansial berlebihan sering kali lahir bukan dari kekurangan sesungguhnya, melainkan dari hati yang belum menemukan rasa cukup (qana'ah).
Allah SWT berfirman, "Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang menanggung rezekinya." (QS. Hud: 6). Ayat ini memberi jaminan yang menenangkan bahwa rezeki setiap makhluk telah Allah tetapkan, sehingga kecemasan berlebihan terhadap masa depan finansial sesungguhnya melampaui batas keyakinan seorang hamba kepada Rabb-nya.
Kisah Nabi Ayyub as. menjadi teladan agung menghadapi kehilangan harta dengan hati tetap tenang. Setelah kehilangan seluruh kekayaan dan kesehatannya, ia tak sedikit pun mengeluh kepada manusia, hanya bermunajat, "Sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit, dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara para penyayang." (QS. Al-Anbiya: 83).
Kesabaran yang kemudian dibalas Allah dengan mengembalikan kekayaannya berlipat ganda. Imam Al-Ghazali menegaskan pentingnya berbaik sangka kepada Sang Pemberi Rezeki melalui kata hikmahnya, "Barangsiapa yang yakin bahwa rezekinya telah ditetapkan Allah, ia akan tenang mencarinya, tidak tergesa dan tidak pula berputus asa, sebab ia tahu bahwa yang telah ditetapkan untuknya tidak akan meleset." (Ihya' Ulumuddin), bukan berarti berpangku tangan, melainkan fondasi batin yang menenangkan di tengah ikhtiar yang tetap dijalankan sungguh-sungguh.
Menariknya, temuan ilmiah modern justru menguatkan resep spiritual ini dari sudut berbeda: para peneliti menekankan pentingnya coping strategy seimbang bukan hanya kekuatan mental individu, tetapi juga koneksi sosial, aktivitas fisik teratur, dan akses layanan kesehatan mental bila diperlukan. Dalam bingkai Islam, ini identik dengan keseimbangan ikhtiar lahiriah (mencatat pengeluaran, mencari nafkah sungguh-sungguh, berbagi beban dengan keluarga) dan ikhtiar batiniah (dzikir, doa, tawakal), dua sisi mata uang yang sama-sama dibutuhkan.
Rasulullah saw mengingatkan, "Barangsiapa yang menjadikan akhirat sebagai tujuan utamanya, maka Allah akan menjadikan kekayaan ada di dalam hatinya, dan Allah akan mengumpulkan baginya urusan-urusannya yang tercerai-berai." (HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah).
Perlu diwaspadai agar kecemasan finansial yang wajar ini tidak berkembang menjadi su'uzhan kepada Allah, atau bahkan mendorong seseorang pada jalan haram demi kebutuhan mendesak, sebab keduanya justru menambah kesempitan.
Allah Swt berfirman, "Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya." (QS. At-Talaq: 3). Ayat ini menegaskan keseimbangan sempurna antara ikhtiar dan penyerahan hati kepada-Nya.
Jadilah seperti pohon yang tetap berakar kokoh meski musim kering melanda, percaya hujan akan kembali turun pada waktunya. Jadilah pula seperti burung yang terbang pergi di pagi hari dengan perut kosong, namun kembali pada petang hari dengan perut kenyang, perumpamaan tawakal yang disabdakan Rasulullah saw.
Ingatlah bahwa kelak setiap kekhawatiran tentang rezeki akan ditanya maknanya, apakah mendekatkan kita pada usaha halal dan tawakal yang tulus, ataukah menjerumuskan pada keputusasaan yang menjauhkan dari rahmat Allah.
Ya Allah, tenangkanlah hati kami di tengah kecemasan finansial yang menghimpit, kuatkanlah keyakinan kami bahwa rezeki telah Engkau tetapkan dengan adil, dan mudahkanlah setiap ikhtiar kami mencari nafkah yang halal. Jauhkanlah kami dari su'uzhan kepada-Mu dan dari jalan-jalan yang haram demi memenuhi kebutuhan dunia. Amin. (*)