Opini post author Kiwi 16 September 2026

Mampukah Keberagamaan Kita Menyelamatkan Kehidupan?

Photo of Mampukah Keberagamaan Kita Menyelamatkan Kehidupan?

Oleh: Syamsul Kurniawan / Ketua Komisi Pendidikan Keagamaan, Dewan Pendidikan Provinsi Kalimantan Barat; / Dosen di Pascasarjana IAIN Pontianak

PAGI di Pontianak belakangan ini tidak lagi datang dengan cara yang biasa. Matahari tetap terbit, tetapi cahayanya seperti kehilangan keberanian untuk menembus langit.

Udara yang seharusnya menjadi ruang paling sederhana bagi kehidupan justru berubah menjadi sesuatu yang harus dicurigai.

Kita membuka pintu rumah bukan untuk menyambut kesejukan pagi, melainkan untuk memastikan apakah hari ini kita masih bisa bernapas dengan nyaman.

Kabut asap telah membuat sebuah kota belajar bahwa sesuatu yang tidak terlihat justru dapat menjadi ancaman yang paling nyata.

Sudah lebih dari satu bulan, sejak awal Agustus 2026, Pontianak dan wilayah sekitarnya hidup dalam kepungan asap akibat kebakaran hutan dan lahan.

Asap dari kawasan gambut yang terbakar bergerak mengikuti angin, melampaui batas administratif, memasuki ruang publik, ruang pendidikan, ruang kerja, bahkan ruang paling pribadi manusia: paru-paru.

Pada satu titik, kualitas udara Pontianak mencapai tingkat yang sangat mengkhawatirkan. Partikel halus PM2.5 yang berbahaya memenuhi udara, membuat langit kota seolah kehilangan warnanya.

Anak-anak tidak lagi bermain sebebas biasanya, sekolah harus menyesuaikan pembelajaran, dan masyarakat dipaksa beradaptasi dengan sesuatu yang tidak mereka pilih.

Ada sebuah ironi yang menyedihkan dalam peristiwa semacam ini. Manusia modern telah berhasil menciptakan berbagai teknologi untuk mempercepat kehidupan, tetapi sering kali gagal menjaga sesuatu yang paling mendasar: udara yang memungkinkan kehidupan itu berlangsung.

Kita mampu membangun gedung tinggi, mempercepat komunikasi, menciptakan kecerdasan buatan, dan menjangkau tempat yang jauh dalam hitungan detik. Namun, kita masih berhadapan dengan persoalan lama: bagaimana hidup tanpa menghancurkan ruang hidup itu sendiri.

Kabut asap bukan hanya persoalan lingkungan. Ia adalah pertanyaan moral. Ia menguji cara kita memahami hubungan manusia dengan alam, dengan sesama manusia, dan dengan Tuhan yang selama ini kita yakini sebagai sumber kehidupan.

Sebab ketika udara tercemar, yang terdampak bukan hanya mereka yang menyalakan api. Mereka yang tidak pernah memegang korek api pun ikut menanggung akibatnya.

Bayi, orang tua, pekerja, pelajar, pedagang kecil, dan seluruh makhluk hidup yang bergantung pada udara yang sama harus menerima konsekuensi dari tindakan yang mungkin dilakukan oleh segelintir pihak.

Di titik inilah pertanyaan besar muncul: mampukah keberagamaan kita menyelamatkan kehidupan? Pertanyaan ini bukan pertanyaan untuk meragukan agama.

Sebaliknya, pertanyaan ini lahir karena agama memiliki posisi yang sangat besar dalam membentuk cara manusia berpikir dan bertindak. Agama selama berabad-abad telah menjadi sumber nilai, orientasi moral, dan kekuatan yang mampu menggerakkan manusia melakukan sesuatu yang melampaui kepentingan dirinya sendiri.

Tetapi ketika kehidupan sedang menghadapi krisis, kita perlu bertanya secara jujur: apakah keberagamaan kita telah benar-benar hadir sebagai kekuatan penyelamat kehidupan, atau hanya berhenti pada ruang simbol dan ritual?

Agama sesungguhnya tidak pernah menjadi sesuatu yang diam. Ia hidup bersama manusia, bergerak mengikuti perubahan zaman, ruang, dan kebudayaan.

Pemahaman manusia terhadap agama selalu berlangsung dalam konteks tertentu. Sebuah ajaran yang lahir dan berkembang dalam masyarakat tertentu akan terus mengalami proses pemaknaan ketika bertemu dengan realitas baru.

Karena itu, agama, baik sebagai doktrin maupun praktik keagamaan, selalu memiliki dimensi ruang dan waktu.

Clifford Geertz dalam esainya yang terkenal, “Religion as a Cultural System” dalam buku The Interpretation of Cultures (1973), menjelaskan bahwa agama dapat dipahami sebagai sebuah sistem simbol yang membangun suasana hati (moods) dan motivasi (motivations) yang kuat serta bertahan lama dalam diri manusia.

Simbol-simbol agama memberikan manusia cara untuk memahami dunia, memberikan makna terhadap pengalaman hidup, dan membentuk keyakinan bahwa nilai-nilai tertentu memiliki dasar yang nyata.

Dalam pandangan Geertz, agama bukan hanya kumpulan aturan atau ritual yang dilakukan secara mekanis. Ia adalah sebuah jaringan makna yang membuat manusia mampu melihat dunia melalui kerangka tertentu.

Simbol-simbol agama—baik berupa tindakan, benda, peristiwa, maupun konsep—menjadi jembatan yang menghubungkan manusia dengan pemahaman tentang realitas yang lebih luas. Melalui simbol tersebut, manusia tidak hanya mengetahui apa yang harus dilakukan, tetapi juga mengapa sesuatu harus dilakukan.

Namun, simbol agama tidak pernah bekerja dalam ruang kosong. Simbol membutuhkan manusia yang mampu menerjemahkannya menjadi tindakan.

Sebuah ayat tentang menjaga bumi, sebuah doa tentang keberkahan alam, atau sebuah ajaran tentang amanah manusia terhadap ciptaan Tuhan tidak akan memiliki kekuatan perubahan apabila berhenti sebagai pengetahuan yang hanya diingat, tetapi tidak diwujudkan.

Di sinilah persoalan keberagamaan modern sering menemukan tantangannya. Kita hidup dalam masa ketika simbol agama semakin terlihat, tetapi makna yang seharusnya mengikuti simbol tersebut kadang semakin jauh.

Identitas keagamaan mudah dikenali melalui pakaian, atribut, atau ekspresi publik. Namun, ukuran keberagamaan yang lebih dalam, seperti kepedulian terhadap kehidupan, keadilan sosial, dan tanggung jawab ekologis sering kali tidak mendapatkan perhatian yang sama.

Fenomena ini mengingatkan kita pada pembahasan Yasraf Amir Piliang dalam Dunia yang Dilipat (2004). Yasraf menjelaskan bahwa perkembangan globalisasi telah membuat ruang dan waktu semakin singkat.

Dunia menjadi semakin cepat, semakin dekat, dan semakin bercampur. Identitas manusia pun mengalami perubahan. Simbol-simbol budaya tidak lagi memiliki makna tunggal karena terus mengalami perjumpaan dan pergeseran.

Dalam masyarakat Melayu, misalnya, pakaian seperti baju kurung atau selendang pernah menjadi simbol kuat identitas keislaman dan kebudayaan.

Namun, perubahan zaman membuat simbol tersebut tidak lagi menjadi satu-satunya penanda keberagamaan seseorang. Seseorang tidak dapat dinilai kedalaman imannya hanya dari apa yang tampak di permukaan.

Begitu pula sebaliknya, seseorang tidak dapat dianggap telah menjalankan nilai agama hanya karena memiliki simbol-simbol keagamaan.

Keberagamaan pada akhirnya tidak hanya berbicara tentang bagaimana manusia menunjukkan keyakinannya, tetapi bagaimana keyakinan itu mengubah cara manusia memperlakukan kehidupan.

Sebab agama yang kehilangan hubungan dengan kehidupan akan kehilangan salah satu fungsi terpentingnya: menjadi sumber orientasi moral bagi manusia.

Jauh Panggang dari Api

Ada sebuah ungkapan lama: jauh panggang dari api. Ungkapan ini menggambarkan sesuatu yang tidak sesuai antara harapan dan kenyataan.

Barangkali ungkapan inilah yang tepat untuk menggambarkan sebagian wajah keberagamaan kita hari ini. Kita memiliki banyak simbol agama, banyak ruang ibadah, banyak aktivitas keagamaan, tetapi terkadang masih jauh dari semangat agama yang seharusnya menghadirkan kasih sayang terhadap seluruh kehidupan.

Kita berbicara tentang manusia sebagai makhluk yang diberi amanah menjaga bumi, tetapi masih menyaksikan alam diperlakukan hanya sebagai objek eksploitasi.

Kita berbicara tentang nilai kasih sayang, tetapi masih membiarkan tindakan yang menyebabkan ribuan manusia kehilangan udara sehat. Kita berbicara tentang tanggung jawab kepada Tuhan, tetapi sering lupa bahwa tanggung jawab itu juga mencakup bagaimana kita memperlakukan ciptaan-Nya.

Talal Asad melalui bukunya Genealogies of Religion: Discipline and Reasons of Power in Christianity and Islam (1993) memberikan kritik penting terhadap pemahaman agama yang terlalu sederhana sebagai kumpulan simbol dan makna.

Bagi Asad, agama selalu berkaitan dengan praktik, sejarah, kekuasaan, dan bagaimana suatu nilai dibentuk serta dipertahankan dalam masyarakat. Sebuah ajaran agama tidak hanya hidup karena teksnya, tetapi juga karena bagaimana manusia menghidupkan, mengajarkan, dan mempraktikkannya.

Pemikiran Asad membantu kita memahami bahwa keberagamaan tidak otomatis menghasilkan tindakan moral. Seseorang dapat mengenal simbol agama, tetapi belum tentu membiarkan simbol tersebut membentuk perilakunya.

Ada jarak antara mengetahui nilai agama dan menjalankan nilai agama. Ada perbedaan antara berbicara tentang kebaikan dan menghadirkan kebaikan.

Dalam konteks lingkungan, jarak itu terlihat sangat jelas. Kita mungkin sering mendengar ajaran tentang kebersihan, tetapi persoalan lingkungan jauh lebih besar daripada sekadar membuang sampah pada tempatnya.

Krisis ekologis menyangkut cara manusia memandang alam. Apakah alam hanya benda yang boleh dieksploitasi, ataukah ia bagian dari kehidupan yang harus dihormati?

Jika agama benar-benar menjadi sistem simbol yang membangun motivasi sebagaimana dijelaskan Geertz, maka krisis lingkungan seharusnya menjadi ruang penting bagi aktualisasi nilai agama.

Ketika hutan terbakar, ketika udara menjadi racun, ketika sungai kehilangan kejernihannya, seharusnya ada kegelisahan moral yang muncul dalam kesadaran keberagamaan kita.

Sebab pada akhirnya, kehidupan tidak terbagi menjadi wilayah yang suci dan wilayah yang dianggap biasa. Udara yang kita hirup ketika beribadah adalah udara yang sama dengan yang kita hirup ketika bekerja.

Tanah tempat manusia membangun rumah adalah tanah yang sama yang menopang kehidupan seluruh makhluk. Alam bukan ruang di luar agama. Alam adalah bagian dari panggilan moral agama itu sendiri. (*)

Keywords

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda