Ponticity post author Kiwi 18 September 2026

Usai Melayani Pascagempa NTT, JPIC Provinsi Kalbar Bergerak Salurkan Air Bersih ke Graha Werdha Marie Joseph

Photo of Usai Melayani Pascagempa NTT, JPIC Provinsi Kalbar Bergerak Salurkan Air Bersih ke Graha Werdha Marie Joseph

PONTIANAK, SP – Perjalanan pelayanan belum benar-benar usai. Setelah baru kembali dari Nusa Tenggara Timur (NTT), tempat mereka ikut melayani masyarakat pascagempa, JPIC Provinsi Kalimantan Barat kembali mengayunkan langkah. Kali ini, perhatian diarahkan kepada warga di Kota Pontianak yang membutuhkan air bersih.

Bukan di tempat yang jauh. Bukan pula dalam sebuah kegiatan besar yang penuh seremoni. Mereka datang ke Graha Werdha Marie Joseph (Panti Werdha Marie Joseph) di Siantan Hulu, Kecamatan Pontianak Utara, Kota Pontianak, untuk memastikan kebutuhan air bersih bagi para penghuni panti tetap terpenuhi.

Di tempat yang berdekatan dengan akses Jalan 28 Oktober dan Jalan Budi Utomo itu, air bersih menjadi sesuatu yang sederhana tetapi sangat berarti.

Ketua JPIC Provinsi Kalbar, Bruder Willem Banenok OFMCap, bersama Bruder Bernard T, turun langsung dalam aksi tersebut. Keduanya tidak sekadar berada di balik koordinasi, tetapi ikut memastikan proses penyaluran air bersih sampai kepada para penghuni panti.

“Kami JPIC baru pulang melayani pascagempa di NTT. Nah, sekarang coba berbuat untuk warga Kalbar, khususnya Kota Pontianak. Kami tidak dapat melayani semua warga kota, tetapi setidaknya kami ada berbuat untuk warga Kalbar yang tercinta ini,” ujar Bruder Willem.

Kalimat itu terdengar sederhana. Namun di baliknya ada sebuah pesan bahwa pelayanan tidak mengenal batas tempat. Setelah membantu masyarakat di daerah yang jauh, kepedulian itu kemudian kembali diarahkan kepada lingkungan terdekat, kepada mereka yang mungkin luput dari perhatian.

Menurut Bruder Willem, kemampuan untuk membantu memang memiliki batas. JPIC Provinsi Kalbar tidak mungkin menjangkau seluruh warga yang membutuhkan. Tetapi keterbatasan itu bukan alasan untuk berhenti berbuat.

Setidaknya, ada tangan yang bisa diulurkan. Ada kebutuhan yang bisa dibantu. Dan ada kepedulian yang bisa diwujudkan dalam bentuk paling sederhana: air bersih.

Dari Rumah Pelangi

Dalam aksi tersebut, Bruder Stephanus Paiman OFMCap, anggota JPIC yang juga Ketua Forum Relawan Kemanusiaan Pontianak (FRKP), turut mengambil bagian.

Bersama Mardi Utomo, yang akrab disapa Mas Tomo, driver FRKP, Bruder Stephanus segera bergerak menuju Rumah Pelangi untuk mengambil air bersih.

Air itu kemudian diangkut menuju Graha Werdha Marie Joseph di Siantan Hulu, untuk selanjutnya disalurkan kepada para penghuni panti.

Gerakan itu berlangsung sederhana. Tidak ada jarak yang terlalu jauh untuk sebuah kebutuhan yang mendasar. Dari sumber air di Rumah Pelangi, kendaraan FRKP meluncur membawa bantuan menuju panti werdha.

Bagi Bruder Stephanus, keterlibatan dalam aksi tersebut merupakan bagian dari upaya menjalankan pelayanan sesuai kemampuan yang ada.

“Saya sebagai anggota JPIC hanya berupaya berbuat yang terbaik sesuai rencana,” ujar Bruder Stephanus, diselingi senyum.

Kalimat pendek itu seolah menjadi gambaran dari cara mereka bekerja. Tidak banyak bicara, tetapi bergerak ketika ada kebutuhan.

Sebagai Ketua FRKP, Bruder Stephanus memang selama ini dikenal aktif dalam berbagai kegiatan kemanusiaan. Bersama para relawan, FRKP berupaya hadir ketika masyarakat membutuhkan bantuan, mulai dari pelayanan sosial hingga respons terhadap berbagai kondisi kemanusiaan.

Kali ini, kebutuhan tersebut datang dalam bentuk air bersih untuk para penghuni panti werdha.

Air yang Mengandung Kepedulian

Bagi sebagian orang, beberapa jeriken atau tangki air mungkin bukan sesuatu yang istimewa. Namun bagi mereka yang membutuhkan, air bersih adalah kebutuhan yang tidak bisa ditunda.

Apalagi di sebuah panti werdha, tempat para lanjut usia menjalani hari-hari dalam suasana yang membutuhkan perhatian dan kepedulian lebih.

Karena itu, bantuan air bersih yang disalurkan JPIC Provinsi Kalbar bersama FRKP bukan sekadar memindahkan air dari satu tempat ke tempat lain. Di dalamnya ada kepedulian, perhatian dan keinginan untuk memastikan kebutuhan dasar tetap tersedia.

Bruder Willem mengatakan, apa yang dilakukan JPIC Provinsi Kalbar merupakan bentuk sederhana dari upaya mereka untuk hadir di tengah masyarakat.

“Kami tidak dapat melayani semua warga. Tetapi setidaknya kami ada berbuat untuk warga Kalbar yang tercinta ini,” katanya.

Dan memang, tidak semua persoalan harus diselesaikan dengan sesuatu yang besar.

Kadang, kepedulian justru dimulai dari hal sederhana. Dari seseorang yang mau mengemudikan kendaraan. Dari mereka yang mau mengangkat dan mengantarkan air. Dari tangan-tangan yang bekerja tanpa banyak suara.

Dari Rumah Pelangi, air bersih itu kemudian tiba di Graha Werdha Marie Joseph, Siantan Hulu, Pontianak Utara.

Di sana, air bukan lagi sekadar air.

Ia menjadi tanda bahwa di tengah kesibukan kota, masih ada mereka yang memilih berhenti sejenak, melihat kebutuhan sesama, kemudian bergerak.

Setelah perjalanan pelayanan dari NTT, JPIC Provinsi Kalbar kembali menjejak tanah Kalimantan Barat. Kali ini bukan membawa cerita tentang gempa dan daerah terdampak, melainkan membawa sesuatu yang jauh lebih sederhana—air bersih untuk para penghuni panti werdha.

Sebab bagi mereka, pelayanan tidak selalu tentang seberapa besar yang dapat diberikan.

Tetapi tentang seberapa tulus seseorang mau berbuat, ketika melihat sesama membutuhkan. (*)

Keywords

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda