SINGKAWANG, SP - Genap sebulan, penerbangan di Bandara Singkawang tidak beroperasi dikarenakan kabut asap.
"Iya genap sebulan, hal itu dikarenakan kabut asap hingga kini masih tebal," kata Kepala Satuan Pelayanan Bandara Singkawang, Ilham Hafizi, Jumat (18/9).
Sementara itu, Pemerintah Kota Singkawang menggelar rapat kerja bersama BMKG, UPBU Singkawang serta perwakilan Maskapai penerbangan di Ruang Rapat Wali Kota Singkawang.
Pertemuan tersebut membahas kondisi penerbangan di Kota Singkawang di tengah kondisi kabut asap yang masih belum stabil.
Berdasarkan informasi BMKG, jarak pandang di wilayah Bandara Singkawang masih menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan penerbangan, sehingga aspek keselamatan tetap menjadi pertimbangan utama.
Sementara Wali Kota Singkawang, Tjhai Chui Mie mendorong pihak maskapai untuk mempertimbangkan jadwal penerbangan pada pagi hari.
Hal ini mengingat kondisi jarak pandang pada pagi hari relatif lebih baik dibandingkan sore hari yang cenderung mengalami penurunan akibat kabut asap.
Dia berharap langkah tersebut dapat menjadi salah satu alternatif agar aktivitas penerbangan di Kota Singkawang tetap dapat berjalan dengan memperhatikan ketentuan dan aspek keselamatan penerbangan.
"Upaya ini juga dinilai penting untuk menjaga mobilitas masyarakat serta mendukung keberlangsungan aktivitas ekonomi di sekitar kawasan Bandara Singkawang yang turut terdampak akibat berkurangnya aktivitas penerbangan selama beberapa waktu," ujarnya.
Pemerintah Kota Singkawang akan terus berkoordinasi dengan BMKG, bandara, Lanud Supadio dan maskapai untuk melihat peluang pengaturan jadwal penerbangan yang menyesuaikan kondisi jarak pandang.
"Langkah tersebut diharapkan dapat menjaga konektivitas udara Kota Singkawang sekaligus membantu menggerakkan kembali roda perekonomian masyarakat, khususnya para pelaku usaha, pedagang, pengemudi, dan sektor-sektor ekonomi yang berada di sekitar kawasan bandara," ungkapnya.
Perwakilan Maskapai Trans Nusa, Adji Jallu Wicaksono mengatakan, akan terus berkoordinasi dengan BMKG terkait kondisi udara dan pastinya Trans Nusa juga akan memberikan hak-hak penumpang apabila jadwal penerbangan dibatalkan.
"Kami memberikan tenggat waktu penggantian selama 7 hari kedepan kepada penumpang yang terdampak," katanya.
Terkait usulan Wali Kota Singkawang untuk dilakukan penerbangan pada pagi hari, pihaknya akan melakukan koordinasi ke pusat terlebih dahulu, apakah memungkinkan untuk dilakukan penerbangan pada pagi hari.
"Karena memang, jika dilihat dari kondisi udara pada pagi hari untuk di Singkawang lebih memungkinkan," ujarnya.
Dia juga mengimbau kepada travel-travel yang menjual tiket pesawat, jika memang dari Trans Nusa sudah menutup jawal penerbangan, jangan memberikan harapan (PHP) kepada penumpang sehingga terjadi Miss Komunikasi.
Hal serupa juga diungkapkan perwakilan dari Super Air Jet, Bartolomeus yang menyatakan untuk lebih mengutamakan keselamatan penumpang.
"Jika memang penerbangan tidak bisa dilakukan, kita memberitahukan kepada penumpang pada H-1 dan kita juga memberikan opsi penggantian secara penuh di Bandara Singkawang," katanya.
Untuk usulan penerbangan pada pagi hari, pihaknya juga akan berkomunkasi dengan pusat.
"Jadi kita tinggal menunggu konfirmasi dari pusat saja," ujarnya. (rud)