Ponticity post author Kiwi 18 September 2026

UPGRI Pontianak dan UNISMA Perkuat Moderasi Beragama Berbasis Kearifan Lokal

Photo of UPGRI Pontianak dan UNISMA Perkuat Moderasi Beragama Berbasis Kearifan Lokal Seminar nasional UPGRI Pontianak, UNISMA, dan Pemkot Pontianak membahas penguatan moderasi beragama serta pendidikan multikultural berbasis kearifan lokal.

PONTIANAK, SP - Universitas PGRI Pontianak (UPGRI Pontianak) bersama Universitas Islam Malang (UNISMA) dan Pemerintah Kota Pontianak menggelar Seminar Nasional bertajuk Penguatan Moderasi Beragama dan Pendidikan Multikultural Berbasis Kearifan Lokal.

Seminar nasional tersebut berlangsung di Aula Sultan Syarif Abdurrahman, Kantor Wali Kota Pontianak, Rabu (16/9/2026).

Kegiatan ini menjadi ruang dialektika akademik sekaligus upaya memperkuat kebijakan dan memberikan pembekalan praktis bagi pendidik, pimpinan lembaga keagamaan, serta organisasi kemasyarakatan dalam merawat kehidupan sosial yang harmonis di tengah keberagaman.

Seminar dihadiri Wali Kota Pontianak, jajaran rektor perguruan tinggi se-Pontianak dan Kubu Raya, Kepala Kanwil Kemenag Kalbar, Kepala Kanwil Haji, pengurus PGRI, badan otonom (Banom) NU, Muhammadiyah, organisasi kepemudaan, guru Pendidikan Agama Islam (PAI) se-Pontianak dan Kubu Raya, serta mahasiswa.

Dalam forum tersebut ditegaskan bahwa pendidikan multikultural yang dipadukan dengan kearifan lokal dapat menjadi fondasi dalam menjaga harmoni sosial. Nilai-nilai inklusivitas dinilai akan lebih mudah dipahami ketika diajarkan dengan mengakar pada budaya yang hidup dan berkembang di tengah masyarakat.

Dengan pendekatan tersebut, moderasi beragama tidak hanya menjadi konsep yang dibahas di ruang akademik, tetapi dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari sesuai karakter masyarakat setempat.

Seminar menghadirkan tiga pakar sebagai narasumber utama. Prof. H. M. Mas’ud Said dari UNISMA Malang menekankan pentingnya penguatan sektor ekonomi dan budaya di tengah masyarakat sebagai bagian dari solusi nyata dalam menciptakan kehidupan yang damai dan harmonis di lingkungan multikultural.

Sementara itu, Prof. Dr. H. Imam Suprayogo dari UNISMA Malang menyampaikan bahwa langkah awal membangun moderasi beragama perlu dimulai dari penguatan kualitas diri manusia. Hal tersebut mencakup penguatan secara fisik sekaligus upaya membersihkan hati agar melahirkan sikap hidup yang harmonis.

Adapun Prof. Dr. H. Wajidi Sayadi, Rektor IAIN Pontianak, memaparkan kekayaan tradisi dan kebudayaan lokal Kalimantan Barat yang selama ini telah mencerminkan nilai-nilai moderasi beragama dan pendidikan multikultural.

Ia mencontohkan budaya gotong royong dan tradisi saprahan yang telah diwariskan secara turun-temurun. Tradisi tersebut tidak hanya menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat, tetapi juga mengandung nilai kebersamaan, penghormatan, dan kehidupan berdampingan.

Kolaborasi perguruan tinggi dan pemerintah daerah melalui forum akademik ini diharapkan dapat memperkuat toleransi dan merawat kebhinekaan di Kalimantan Barat.

Selain menjadi ruang pertukaran gagasan, seminar tersebut diharapkan menghasilkan pemikiran yang aplikatif bagi pendidik, lembaga keagamaan, organisasi kemasyarakatan, dan pemerintah dalam membangun kehidupan masyarakat yang harmonis di tengah keberagaman.(din)

Keywords

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda