PONTIANAK, SP - Malam itu, ketika sebagian besar orang telah beristirahat, aktivitas kemanusiaan Forum Relawan Kemanusiaan Pontianak (FRKP) justru belum selesai.
Ketua FRKP, Bruder Stephanus Paiman OFMCap, baru saja menyelesaikan kegiatan di sebuah panti Panti Jompo Graha Werdha Marie Joseph.
Ia kemudian melanjutkan perjalanan untuk mengambil galon air di Sungai Rengas. Sekitar pukul 23.20 WIB, Bruder tiba kembali di sekretariat forum.
Namun, malam itu ada satu persoalan lain yang menunggu.
Seorang anggota PJR Polda Kalbar, Pak Oni, mengirimkan pesan lewat WhatsApp untuk meminta bantuan. Ia tengah menghadapi suasana duka setelah bibinya meninggal dunia dan jenazah hendak dibawa pulang ke Beduai, Kabupaten Sanggau.
Kebutuhannya sederhana, tetapi sangat penting bagi keluarga yang sedang berduka, peti jenazah dan ambulans untuk membawa jenazah pulang.
Bruder Stephanus kemudian membantu menyediakan peti jenazah melalui jejaring FRKP.
Untuk ambulans, persoalannya sedikit berbeda. Ambulans FRKP diperuntukkan bagi pelayanan dalam kota, sementara ambulans untuk perjalanan luar kota sedang dalam perbaikan di bengkel Tabrani Ahmad.
“Saya sampaikan bahwa ambulans untuk luar kota masih diperbaiki, sedangkan ambulans yang ada di forum digunakan untuk pelayanan dalam kota,” ujar Bruder Stephanus.
Ia kemudian menyarankan keluarga mencari alternatif ambulans melalui jejaring organisasi lain. Upaya itu membuahkan hasil. Keluarga akhirnya mendapatkan ambulans dari Gerindra untuk membawa jenazah ke Beduai.
Sementara itu, pilihan ambulans rental sebenarnya juga tersedia di sekitar kawasan parkir RSUD Soedarso, tetapi biaya sewanya belum diketahui.
Bantuan Kecil, Arti Besar bagi Keluarga Berduka
Bagi keluarga Pak Oni, bantuan peti jenazah dari FRKP memiliki arti yang sangat besar di tengah suasana kehilangan.
Atas nama keluarga besar di Beduai, Pak Oni menyampaikan terima kasih kepada Bruder Stephanus dan seluruh relawan FRKP.
“Bruder bersama FRKP sudah membantu kami dalam situasi dukacita ini dengan memberikan peti jenazah buat almarhum bibi kami,” ungkapnya.
Ia juga mendoakan agar seluruh kegiatan sosial yang dilakukan Bruder Stephanus bersama relawan FRKP senantiasa mendapat berkat.
“Semoga Tuhan selalu memberkati seluruh kegiatan sosial yang dilakukan oleh Bruder dan rekan-rekan yang tergabung dalam FRKP. Salam hormat dari keluarga besar kami di Kecamatan Beduai, Kabupaten Sanggau. Sekali lagi terima kasih. Tuhan memberkati. Amin,” katanya.
Ketika Relawan Tak Mengenal Jam
Kisah tersebut mungkin terlihat sederhana. Hanya sebuah peti jenazah yang diberikan kepada keluarga yang membutuhkan.
Namun, di baliknya ada jejaring kepedulian yang bekerja tanpa mengenal waktu.
Malam itu, Bruder Stephanus baru selesai mengurus kebutuhan di panti jompo dan mengambil air dari Sungai Rengas. Sesampainya di sekretariat FRKP, ia kembali dihadapkan pada kebutuhan kemanusiaan lain.
Tidak semua persoalan dapat diselesaikan oleh satu lembaga.
Tidak semua bantuan harus berbentuk besar. Terkadang, sebuah peti jenazah yang tersedia pada saat keluarga sedang berduka sudah menjadi pertolongan yang sangat berarti.
Bagi FRKP, kerja kemanusiaan memang bukan hanya tentang turun ketika bencana besar terjadi.
Ia juga hadir dalam persoalan-persoalan sehari-hari yang dihadapi masyarakat, termasuk ketika sebuah keluarga membutuhkan bantuan untuk mengantarkan orang yang mereka cintai kembali ke kampung halaman untuk dimakamkan.
Dari panti jompo, mengambil air, hingga membantu keluarga membawa jenazah ke Beduai, malam Bruder Stephanus menjadi pengingat bahwa kemanusiaan sering kali bekerja dalam diam, bahkan ketika jarum jam telah melewati tengah malam. (*)