PONTIANAK, SP - Malam di Panti Jompo Graha Werdha Marie Joseph terasa berbeda. Di tengah kesibukan relawan yang bersiap mengakhiri kegiatan sosial, belasan suster muda justru menghadirkan suasana hangat lewat sebuah lagu.
Lantunan “Terima Kasih Seribu” spontan dinyanyikan para suster muda sebagai ungkapan syukur setelah mendapatkan bantuan air bersih.
Momen sederhana itu menjadi penutup yang mengesankan bagi Bruder Stephanus Paiman OFMCap, Ketua Forum Relawan Kemanusiaan Pontianak (FRKP), bersama timnya.
Bruder Stephanus mengisahkan, saat hendak pulang dari panti jompo yang berdampingan dengan tempat para novis Suster KFS, belasan suster muda tiba-tiba bernyanyi.
“Terima kasih Tuhanku, hanya Dikau baik hati... Kau kasihi sampai mati...”
Kemudian dilanjutkan: “Terima syukurku, Tuhan, Dikau dan kawanku...”
Nyanyian itu terdengar sederhana, tetapi bagi para relawan memiliki makna yang dalam. Setelah seharian bergerak memenuhi kebutuhan masyarakat, rasa lelah seolah terhapus oleh kegembiraan para suster.
“Rasa capek sirna,” ujar Bruder Stephanus.
Dari Graha Werdha, Bersiap Menuju Sungai Rengas
Namun, malam belum benar-benar selesai bagi para relawan. Setelah meninggalkan kawasan Graha Werdha Marie Joseph, perhatian mereka kembali tertuju pada kebutuhan air bersih warga Sungai Rengas.
Hari ini, FRKP bersiap kembali bergerak mengantarkan air kepada warga di kawasan tersebut. Sebelumnya, relawan juga telah mengambil galon air dari Sungai Rengas menggunakan ambulans.
Bagi Bruder Stephanus, perjalanan ke Sungai Rengas bukan sekadar mengantarkan air. Setiap perjalanan lapangan selalu membuka kesempatan untuk melihat langsung kondisi masyarakat.
Salah satunya adalah kondisi jalan menuju kawasan warga yang menurutnya memprihatinkan. Saat perjalanan malam sebelumnya, ia sempat berkelakar kepada salah seorang warga:
“Ini orang hamil bisa beranak di jalan sebelum sampai rumah sakit. Atau orang sakit yang darurat, bagaimana bisa cepat lewat?”
Ucapan tersebut menjadi perhatian tersendiri. Sebab, kondisi akses jalan bukan hanya menyangkut kenyamanan, tetapi juga menyangkut akses warga menuju pelayanan kesehatan, terutama dalam keadaan darurat.
Persoalan itu, kata Bruder Stephanus, akan disampaikannya kepada Bupati Kubu Raya Sujiwo.
Air yang Menghubungkan Banyak Orang
Rangkaian kegiatan ini memperlihatkan bagaimana persoalan air bersih mampu mempertemukan banyak pihak.
Dari Graha Werdha Marie Joseph, para relawan menerima ucapan terima kasih melalui nyanyian. Dari Sungai Rengas, warga menunggu datangnya pasokan air. Di antara keduanya, para relawan bergerak membawa air sekaligus mendengar persoalan yang dihadapi masyarakat.
Bagi FRKP, air bukan sekadar barang yang diangkut menggunakan kendaraan. Di dalamnya ada kebutuhan hidup, kesehatan, dan kepedulian.
Dan pagi ini, setelah malam ditutup dengan suara merdu para suster muda di Graha Werdha, para relawan kembali bersiap.
Tujuannya Sungai Rengas. Muatannya air bersih. Pesannya sederhana, ketika ada yang membutuhkan, jangan hanya menunggu, bergeraklah. (*)