PONTIANAK, SP – Pagi itu suasana di Sekolah Tinggi Bahasa Harapan Bersama (STBH) Pontianak terasa sedikit berbeda bagi Stephanie Theoditya.
Perempuan yang akrab disapa Hani itu melangkah menuju ruang sidang skripsi dengan membawa lebih dari sekadar setumpuk lembar penelitian.
Di balik langkahnya, tersimpan perjalanan panjang tentang pendidikan, kedisiplinan, perjuangan, dan harapan yang dibangun sejak masa kecil.
Saat namanya dipanggil dan sidang dimulai, Hani berhadapan dengan tim penguji yang terdiri dari Lysa Lho, B.Ed., MTCSOL dan Heny, B.A., MTCSOL.
Di hadapan mereka, ia mempresentasikan hasil studinya setelah menempuh pendidikan Program Studi Bahasa Mandarin di STBH.
Ketegangan tentu ada. Namun bagi Hani, hari itu bukan semata-mata tentang menjawab pertanyaan penguji. Hari itu adalah puncak dari sebuah perjalanan yang telah dimulai bertahun-tahun sebelumnya.
Ketika sidang dinyatakan selesai dan hasil yang diharapkan berhasil diraih, kebahagiaan bukan hanya dirasakan dirinya. Keluarga, sahabat, dan orang-orang yang selama ini mendampingi perjalanan hidupnya turut merasakan kebanggaan yang sama.
Salah seorang yang paling berbahagia adalah Bruder Stephanus Paiman OFMCap, Ketua Forum Relawan Kemanusiaan Pontianak (FRKP), tokoh kemanusiaan Kalimantan Barat yang selama ini memiliki kedekatan khusus dengan keluarga Hani.
Bagi Bruder Stephanus, Hani bukan sekadar anak muda yang berhasil menyelesaikan pendidikan sarjana. Ia adalah bagian dari keluarga besar yang telah dikenalnya sejak lama.
"Saya mengenal mereka sejak masih kecil, bahkan sejak bayi. Karena kedekatan itu, saya menganggap mereka sebagai anak angkat saya sendiri," ujar Bruder Stephanus.
Hubungan itu terjalin bukan dalam hitungan bulan atau tahun, melainkan puluhan tahun. Ia menyaksikan sendiri bagaimana Hani tumbuh bersama kedua adiknya di lingkungan keluarga yang sederhana namun sangat menekankan pentingnya pendidikan dan karakter.
Hani merupakan putri sulung pasangan Hendry dan Lidya, warga Kompleks Tirta Ria, Jalan Adisucipto, Pontianak.
Di dalam keluarga itu, pendidikan bukan hanya sebuah kewajiban, melainkan bagian dari budaya yang ditanamkan sejak dini. Hasilnya terlihat jelas hari ini.
Hani berhasil menyelesaikan pendidikan sarjana Bahasa Mandarin. Sementara dua adiknya, Aurelia Angelique, SH., yang akrab disapa Popo dan Vivian Arielia, SH., atau Yayank, lebih dahulu menyelesaikan pendidikan di bidang hukum dan menyandang gelar sarjana hukum.
Bagi Bruder Stephanus, keberhasilan tiga bersaudari tersebut bukanlah sebuah kebetulan.
Menurutnya, pencapaian itu lahir dari kombinasi antara pendidikan yang baik, dukungan keluarga, kedisiplinan, dan kemauan untuk terus belajar.
"Mereka anak-anak yang rajin, disiplin, kreatif, dan memiliki kemauan belajar yang tinggi. Saya melihat itu sejak mereka masih kecil. Karakter seperti itulah yang membuat seseorang mampu bertahan dan berkembang," katanya.
Bruder Stephanus dikenal luas sebagai tokoh kemanusiaan yang selama puluhan tahun aktif mendampingi masyarakat, anak-anak, kelompok rentan, hingga korban berbagai bencana dan persoalan sosial di Kalimantan Barat.
Dalam berbagai kesempatan, ia selalu menyampaikan bahwa pendidikan merupakan salah satu jalan paling efektif untuk memutus rantai kemiskinan dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Baginya, pendidikan bukan hanya soal ijazah. Pendidikan adalah proses membangun manusia.
"Pendidikan membentuk cara berpikir, cara mengambil keputusan, cara menghargai orang lain, dan cara menghadapi persoalan hidup. Gelar memang penting, tetapi yang lebih penting adalah karakter yang terbentuk selama proses pendidikan itu," ujarnya.
Karena itulah ia selalu mendorong generasi muda untuk terus belajar dan tidak mudah menyerah dalam mengejar cita-cita.
Ia sering menemukan anak-anak muda yang memiliki kemampuan besar tetapi kehilangan arah karena kurang disiplin atau tidak memiliki semangat belajar yang kuat.
Sebaliknya, ia juga melihat banyak anak muda yang berasal dari keluarga sederhana justru mampu meraih kesuksesan karena memiliki kemauan belajar yang tinggi.
"Kecerdasan itu penting, tetapi ketekunan jauh lebih penting. Banyak orang pintar gagal karena tidak disiplin. Sebaliknya, banyak orang yang biasa-biasa saja justru berhasil karena mau terus belajar dan bekerja keras," katanya.
Nilai-nilai itulah yang menurutnya terlihat dalam diri Hani.
Selain dikenal sebagai mahasiswa yang tekun, Hani juga aktif menekuni olahraga karate.
Tidak sedikit mahasiswa yang kesulitan membagi waktu antara aktivitas akademik dan kegiatan non-akademik. Namun Hani mampu menjalani keduanya secara seimbang.
Di dunia karate, ia berhasil mencapai tingkat Sabuk Hitam DAN II LEMKARI, sebuah pencapaian yang membutuhkan latihan bertahun-tahun, disiplin tinggi, dan komitmen yang tidak mudah.
Setiap tingkatan sabuk yang diraih menjadi bukti bahwa keberhasilan selalu lahir dari proses panjang.
Bruder Stephanus melihat kesamaan antara dunia pendidikan dan dunia bela diri. Keduanya mengajarkan disiplin, kesabaran, penghormatan terhadap proses, dan kemampuan mengendalikan diri.
"Karate tidak hanya mengajarkan cara bertarung. Karate mengajarkan karakter. Begitu juga pendidikan. Ketika keduanya berjalan bersama, maka seseorang akan tumbuh menjadi pribadi yang kuat secara intelektual maupun mental," ujarnya.
Sementara itu, kedua adiknya juga menunjukkan jejak yang tidak kalah membanggakan. Popo dan Yayank pernah mengikuti jejak sang kakak dalam olahraga karate hingga tingkat Sabuk Hijau sebelum akhirnya lebih fokus pada pendidikan.
Kini keduanya telah menyelesaikan pendidikan hukum dan menyandang gelar sarjana. Melihat ketiga bersaudari itu tumbuh menjadi perempuan-perempuan muda yang berpendidikan membuat Bruder Stephanus merasa optimistis terhadap masa depan generasi muda Kalimantan Barat.
Menurutnya, daerah ini memiliki banyak anak-anak berbakat yang mampu bersaing dengan siapa pun apabila mendapatkan kesempatan pendidikan yang memadai.
Ia berharap kisah Hani dan kedua adiknya dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda lainnya untuk tidak berhenti bermimpi.
"Anak-anak muda harus berani punya cita-cita. Jangan takut bermimpi besar. Tetapi setelah bermimpi, harus ada kerja keras, disiplin, dan kesungguhan untuk mewujudkannya," katanya.
Bagi Bruder Stephanus, keberhasilan seseorang tidak hanya diukur dari jabatan atau kekayaan yang dimiliki. Keberhasilan sejati adalah ketika ilmu yang diperoleh mampu membawa manfaat bagi orang lain.
Karena itu, ia berharap ketiga putri angkatnya tersebut kelak tidak hanya sukses secara pribadi, tetapi juga menjadi pribadi yang mampu memberi dampak positif bagi lingkungan sekitarnya.
"Hari ini saya melihat hasil dari sebuah proses panjang. Sebagai orang yang mengikuti perjalanan mereka sejak kecil, tentu ada rasa haru dan bangga. Saya berharap mereka terus berkembang, terus belajar, dan menggunakan ilmu yang dimiliki untuk membantu sesama," tuturnya.
Di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks, kisah tiga bersaudari dari Kompleks Tirta Ria itu menjadi pengingat bahwa pendidikan masih menjadi salah satu jalan terbaik untuk membangun masa depan.
Bahwa keberhasilan tidak lahir dalam semalam. Ia tumbuh dari kebiasaan membaca, belajar, berlatih, menghormati orang tua, menghargai guru, dan menjalani proses panjang dengan penuh kesabaran.
Dan pada hari ketika Hani keluar dari ruang sidang skripsi dengan senyum lega di wajahnya, yang dirayakan sesungguhnya bukan hanya selesainya sebuah tugas akhir.
Yang dirayakan adalah kemenangan dari sebuah perjalanan panjang pendidikan, karakter, dan nilai-nilai kehidupan yang telah ditanamkan sejak masa kanak-kanak.
Sebuah perjalanan yang diyakini Bruder Stephanus akan membawa ketiga putri angkatnya menuju masa depan yang lebih cerah.
"Saya bangga kepada Hani, Popo, dan Yayank. Mereka adalah bukti bahwa pendidikan, disiplin, dan karakter yang baik akan selalu menemukan jalannya menuju kesuksesan.
Semoga Tuhan senantiasa membimbing langkah mereka dalam menggapai cita-cita dan mengabdi kepada masyarakat," pungkasnya. (mul)