Oleh : Syafaruddin DaEng Usman
JUMAT 19 Junigatsu 2601 [19 Desember 1941] Pontianak diserang sembilan pesawat pembom militer Jepang. Sejak hari itu, masyarakat mulai hidup dalam ketidakberanian atas peperangan.
Maka kemudian 28 Januari 1942 [28 Ichigatsu 2602] politik bumihangus dilakukan.
Pada 29 Januari 1942, balatentara Dai Nippon memasuki dan menduduki Pontianak. Dan sejak itu sistem pemerintahan dikendalikan militer Jepang di Kalimantan Barat.
Sejak 29 Januari 1942 pemerintahan rezim kolonial Belanda beralihtangan sepenuhnya pada Gunseibu Jepang, selanjutnya diteruskan atau digantikan Minseibu.
Pada 20 Jugatsu 2602 [20 Februari 1942] di gedung Kaigun Kaigisjo Pontianak, dilangsungkan rapat pemerintahan se-Borneo Barat, dihadiri seluruh sultan dan panembahan [Dokoh, sebutan Jepang untuk penguasa lokal ini] dan petinggi kesultanan dan kerajaan.
Belatentara Jepang mendarat pertamakali di Kalimantan Barat mulai dari wilayah Kesultanan Sambas di Pemangkat 26 Ichigatsu 2602 [26 Januari 1942], dua hari kemudian pasukan ini dari Pemangkat bergerak menduduki Pontianak seterusnya Singkawang, Sambas, Mempawah dan Landak Ngabang.
Pada 29 Januari 1942 tiba di Pontianak Opsir Nippon, Morita sebagai pimpinan sementara Dai Nippon di Kalimantan Barat, baik sipil maupun militer.
Seterusnya pertengahan Februari 1942 Morita digantikan Izumi sebagai Gunseibu. Izumi segera mengaktifkan media massa propaganda Borneo Barat Shinbun [BBS] dan merestui dibentuknya Nis Sin Kwai.
Dengan peralihan kekuasaan Kalimantan Barat dari Rikugun ke Kaigun, atau dari Angkatan Darat ke Angkatan Laut, Izumi digantikan Kuno. Kuno kemudian digantikan S Yoneda meneruskan pemerintahan selanjutnya.
Di masa Yoneda selaku Gunseibu Kalimantan Barat, selain Nis Sin Kwai [NSK] ia membolehkan terus aktif beberapa organisasi yang ada sejak rezim kolonial Belanda di masa pra-Perang Dunia II, antara lain Indo Djin Djijoe Renmei [Indian Independence League Pontianak], Serikat Dagang Indonesia Pontianak [Sadip], Sin Boku Kai [Pervindo].
Di Pontianak, Singkawang, Sambas dan Ngabang aktif Parindra, Sarikat Dagang Indonesia Sambas, Muhammadiyah dan ranting Persatuan Anak Borneo [PAB].
Pada 13 Juli 1942 [13 Shichigatsu 2602] pertamakalinya sejak dibentuk Februari 1942, rapat pengurus Nis Sin Kwai di Sositeit Medan Sepakat di Landraadweg Pontianak. Rapat dihadiri seluruh anggota, termasuk sultan dan panembahan dan kerabat mereka yang menjadi pengurus.
Rapat dibuka Ketua Nis Sin Kwai Kalimantan Barat Raden Pandji Mohamad Dzubier Notosoedjono.
Dua hari kemudian, 15 Juli 1942, pelaksana pemerintahan pendudukan militer Dai Nippon di Kalimantan Barat dialihkan dari Rikugun Gun Sei Bu kepada Kaigun Min Sei Bu.
Struktur pemerintahan diberlakukan di Kalimantan Barat sebagaimana struktur pemerintahan masa rezim kolonial Belanda sebelum Perang Dunia II.
Sebagai Min Sei Bu Shutcho diangkat Kenkichi Kuno dengan sebutan Shutchosho Cho Dai Nippon Kaigun Min Sei Bu atau Pembesar Kantor Min Sei Bu Borneo Barat. Sebelumnya, dijabat S Izumi dari Gun Sei Bu Dai Nippon Teikoku.
Izumi menjabat Desember 1941 hingga 15 Juli 1942. Bersama Izumi pimpinan pasukan Angkatan Darat atau Kepala Pasukan Bintang dikendalikan Omino. Beberapa pejabat teras lainnya Okoeda, Watanabe dan Sakano di Singkawang.
Pada 17 Agustus 1942 [17 Hachigatsu 2602] memulai jabatannya memerintah di Pontianak, S Joneda selaku Borneo Minseibu Pontianak Shibu Cho. Joneda memulai penguasaannya atas Kalimantan Barat sejak hari ini. Joneda adalah pembesar militer Jepang menggantikan Kuno, pejabat atau penguasa militer sebelumnya.
Pada 9 Kugatsu 2602 [9 September 1942], Parindra Kalimantan Barat, membubarkan diri atas tekanan pemerintah Dai Nippon.
Pembubaran didasarkan Undang Undang Nomor 23 balatentara Dai Nippon di Jakarta, serta diberlakukannya peraturan larangan berkumpul sejak 27 Juli 1942 yang sudah ditetapkan sebelumnya.
Pernyataan pembubaran ditandatagani Majelis Daerah Parindra Kalimantan Barat Ranie Soelaiman, Hidajat Ismail, Raden Pandji Mohammad Dzubier Notosoedjono, dr RMA Diponegoro dan Mohamad Tahir.
Pada 30 September 1942 diumumkan susunan pemerintahan Kalimantan Barat di Pontianak, masing-masing Sigeeda [Bidang Pemerintahan], Kuno [Keuangan], Ishida [Ekonomi] dan urusan Umum dirangkap Yoneda.
Pada hari yang sama diumumkan kepengurusan Pontianak Ishutsunyu Kumiai terdiri ketua Lim Ek Djoe anggota Yanagisawa, K Ogawa, Ng Ngiap Soen, Tjhin Tjhong Hin, Nasroen gelar Radja Soetan Pangeran, Haji Abdullah Fattah, Rohana, Sjech Abd bin Sjech Aboebakar dan Tarachand.
Selama pendudukannya, militer Jepang memberi peluang luas bagi orang Indonesia duduk dalam struktur pemerintahan. Ini terutama dikarenakan banyaknya jabatan lowong ditinggalkan pejabat Belanda serta kepentingan propagandanya sendiri sebagai pembebas bangsa Indonesia. Awalnya Jepang berusaha menyingkirkan kaum feodal lokal dari struktur pemerintahannya.
Bahkan pada hari pertama penyerbuan mereka, Jepang mendorong kelompok radikal menyerang para bangsawan yang diidentikkannya dengan kaki tangan Belanda. Namun Jepang harus realistis mengendalikan pemerintahannya.
Sekalipun para tokoh politik atau para mantan guru loyalitasnya dinilai cukup tinggi daripada para bangsawan, namun umumnya mereka tidak mempunyai kemampuan dan pengalaman birokrasi pemerintahan. Akibatnya, Jepang terpaksa merekrut kembali para ambtenaar masa kolonial Belanda menduduki jabatan lamanya.
Dalam upaya membangkitkan dan mengobarkan perasaan anti-Barat di kalangan bangsa Indonesia, Jepang mempopulerkan lagu-lagu yang syairnya membakar semangat anti-Sekutu.
Ungkapan Inggris kita linggis, Amerika kita seterika menjadi ungkapan pembangkit semangat. Sementara itu simbol kekuasaan Belanda yang dibenci disingkirkan.
Sekalipun pemerintah pendudukan mempropagandakan pesan mengenai kepemimpinan Jepang di Asia, mereka tidak berusaha mengembangkan secara paksa kebudayaan Jepang dalam skala besar.
Usaha menjepangkan kehidupan sehari-hari penduduk Indonesia terbatas pengubahan waktu Jawa menjadi waktu Tokyo, berbeda satu setengah jam, pengubahan tahun kalender Masehi menjadi tahun kalender Showa, 1942 menjadi 2602, menetapkan hari raya Jepang diperingati, seperti Tencho Setsu atau hari lahir Tenno Haika 29 April, upacara bendera wajib, terdiri penghormatan terhadap bendera Hinomaru dan saikerei, dan menetapkan bahasa Jepang sebagai bahasa utama.
Kelihatannya Jepang memercayai orang Indonesia sebagai sesama orang Asia, pada dasarnya sama dengan diri mereka sendiri namun telah tercemar akibat penjajahan Barat selama tiga abad lebih. Bagi Jepang, apa yang dibutuhkan bangsa Indonesia adalah suntikan seishin [semangat] gaya Jepang.
Selain di Jawa, keibodan dibentuk pula di Kalimantan Barat disebut sebagai Borneo Konan Hokokudan. Tidak seperti di Jawa, zona pendudukan Jepang tidak terdapat markas besar terpusat bagi barisan ini.
Sebaliknya, setiap syu memimpin langsung organisasi lokalnya. Bersamaan dengan pembentukan Keibodan, Jepang mengumpulkan pemuda berusia 14 hingga 29 tahun dalam Seinendan [Barisan Pemuda].
Barisan ini secara langsung berada di bawah pimpinan Gunseikan sebagai Dancho [komandan]. Di bawahnya, struktur kepemimpinan barisan adalah Fuku Dancho [wakil komandan], Komon [penasehat], Sanyo [anggota dewan pertimbangan], dan Kanji [administrator].
Sekalipun mendapatkan pelatihan dasar kemiliteran, namun anggota Seinendan tidak menggunakan senjata sebenarnya. Tugasnya adalah sebagai barisan cadangan mengamankan garis belakang.
Seindendan memiliki cabang di setiap tingkatan wilayah administratif, dari tingkat Si hingga Shu. Selain itu, di pabrik-pabrik dibentuk Seinendan Kojo, di perkebunan dibentuk Seindendan Jigyogo.
Seinendan juga memiliki cabang beranggotakan kaum wanita disebut Josyi Seindendan [Seindendan Putri].
Di setiap sekolah lanjutan dibentuk Gakkutotai [Barisan Pelajar]. Berkaitan hal ini, setiap sekolah lanjutan dijadikan markas Chutai [kompi] sementara tiap kelas merupakan Shotai [seksi]. Setiap Shotai dibagi lagi menjadi Butai [regu].
Perkembangan kemudian tentara pendudukan militer Jepang melakukan pembantaian masal di Kalimantan Barat terhadap kalangan pemerintah lokal, cerdik pandai, ambtenar, politisi, tokoh masyarakat, tokoh agama, hingga rakyat jelata, dari berbagai etnik, suku maupun agama.
Borneo Sinbun suratkabar resmi Pemerintah Balatentara Jepang, Sabtu 1 Sitigatu 2604 atau 1 Juli 1944 halaman pertama menurunkan berita utama [head line] dalam versinya yang bertajuk Komplotan Besar yang Mendurhaka untuk Melawan Dai Nippon Sudah Dibongkar Sampai ke Akar-akarnya.
Judul kecil [kicker] di bawahnya berbunyi "Kepala-kepala Komplotan serta Lain-lainnya Ditembak mati. Keamanan di Borneo Barat Tenang Kembali dengan Sempurna". Di bawah judul itu—dalam tanda kurung—tertulis Pengumuman Pasukan di Daerah Ini pada Tanggal 1 Juli 1944.
Koran Borneo Sinbun cukup dikenal di Kalimantan Barat masa itu, penerbitannya menginjak tahun kedua. Ukuran halamannya sebesar kertas folio, 5 kolom, terdiri dari 4 halaman, terbit tiga kali seminggu. Pada 1 Juli 1944, tiga halaman pertama koran habis dimakan berita tersebut.
Dalam tubuh berita [body text] antara lain tertulis "... Oleh sebab itu baru-baru ini dalam Sidang Majelis Pengadilan Hukum Ketentaraan Angkatan Laut, kepala-kepala komplotan serta lain-lainnya telah dijatuhkan hukum mati, maka pada tanggal 28 Rokugatu [28 Juni 1944] mereka pun telah ditembak mati ..."
Setidaknya ada 48 nama korban yang dimuat Borneo Sinbun hari itu, lengkap dengan keterangan umur, suku, jabatan atau pekerjaan. Tuduhan terhadap para korban itu, diungkapkan pula oleh Borneo Sinbun: "... Apa yang diidamkan oleh mereka ialah sambil mempergunakan kekalutan keamanan sewaktu Bala Tentara Dai Nippon memasuki daerah ini, melaksanakan kemerdekaan Borneo Barat dengan sekaligus ..."
Dari surat kabar Borneo Shinbun ini disebutkan sejumlah nama, di antaranya Syarif Muhammad Alkadrie, 74 tahun, (Sultan Pontianak), Pangeran Adipati, 26 tahun (putra Sultan Pontianak), Pangeran Agung, 26 tahun, (adik Pangeran Adipati), JE Patiasina, 51 tahun, Ng Nyiap Sun, 40 tahun, Lumban Pea, 43 tahun.
Raden Muslimun Nalaprana, 42 tahun, Kei Liang Kei, 54 tahun, Ng Nyiap Khan, 35 tahun, Panangian Harahap gelar Mangaraja Gunung Tua, 48 tahun, Raden Pandji Mohamad Zubier Notosoedjono, 42 tahun, FJL Loway Faath, 44 tahun, CW Octavians Lucas, 42 tahun, Ong Tjoe Kie, 52 tahun.
Uray Aliudin, 33 tahun, Gusti Muhammad Saunan, 44 tahun, Penembahan Ketapang, Muhammad Ibrahim Mulya Tsafiudin, 40 tahun, Sultan Sambas, Sawon Wongso Utomo, 45 tahun, dr. Soenaryo Martowardoyo, 33 tahun, Muhammad Yatim, 33 tahun, Raden Mas Soedijono, 31 tahun.
Bagindo Nazarudin, 35 tahun, Soedarmadi, 30 tahun, Tambunan, 29 tahun, Tji Boen Kie, 42 tahun, Wartawan, Nasrun Sutan Pangeran gelar Sutan Rumah Tinggi, 31 tahun, E. Londok Kawengsian, 44 tahun, W.E.F. Tewu, 51 tahun, Wagimin Wongsosemito, 27 tahun, Ng Lung Khoi, 45 tahun, Theng Swa Teng, 47 tahun.
dr RM Achmad Diponegoro, 40 tahun, dr. Ismail, 34 tahun, Achmad Maidin, 40 tahun, Nurlela Panangian Harahap, 45 tahun, Tengku Idris, 50 tahun, Panembahan Sukadana, Gusti Mesir, 43 tahun, Panembahan Simpang, Syarif Saleh Alaydrus, 63 tahun, Tuan Kubu.
Gusti Abdul Hamid, 42 tahun, Panembahan Landak Ngabang, Ade Muhammad Arief, 43 tahun, Panembahan Sanggau, Gusti Muhammad Keliep, 40 tahun, Panembahan Sekadau, Gusti Muhammad Taufik Akamaddin, 63 tahun, Panembahan Mempawah, ATP Lantang, 43 tahun, Gusti Ja’far, 42 tahun.
Panembahan Tayan, Raden Abdul Bahry Daru Perdana, 44 tahun, Panembahan Sintang, dr. Rubini, 39 tahun, Kepala Rumah Sakit Umum Pontianak, Amalia Rubini, 37 tahun.
Dalam pada itu terdapat pula korban lainnya di antaranya Raden Mas Saleman Sastrolukito, Gusti Sulung Lelanang, Tio Pia Cheng, Lim Bak Yong, HM Rais H Abdurahman, Ambo Pasir, Syarifah Maimunah Ratu Kesumayudha, dan tak sedikit tokoh lainnya.
Diungkapkan pula, penangkapan secara besar-besaran pertama kali dilakukan tentara Jepang subuh 23 Zyugatu [23 Oktober 1943], disusul penangkapan gelombang kedua subuh 24 Itigatu [24 Januari 1944]. Sekitar tiga tahun mendaulat Kalimantan Barat, tentara pendudukan Jepang telah membantai 21 ribu lebih warga versi Pemerintah Propinsi Kalimantan Barat 1977.
Berapa pun jumlah angka korban, yang pasti Jepang telah membantai dan menghilangkan satu generasi terbaik Indonesia di Kalimantan Barat di masa Perang Dunia ke dua. (*)