PONTIANAK, SP - Kebakaran lahan gambut tidak dapat dipandang sebagai kebakaran vegetasi biasa. Ketika gambut terbakar, terutama dalam kondisi kering dan dengan intensitas tinggi, api dapat membakar lapisan organik di bawah permukaan tanah dan menghasilkan asap dalam jumlah besar.
Asap tersebut membawa campuran partikulat halus, gas, serta berbagai senyawa organik hasil pembakaran yang dapat berdampak terhadap kesehatan manusia dan lingkungan.
Menurut Teddy Velantino, Koordinator Dewan Adat Dayak (DAD) Kota Pontianak sekaligus penyusun kajian edukasi dari Pusat Studi Borneo , Center for Borneo Studies, karakteristik kebakaran gambut membuat persoalan asap tidak boleh dianggap sepele.
“Karhutla gambut bukan sekadar persoalan api yang terlihat. Ketika gambut masih membara di bawah permukaan, emisi dapat terus berlangsung dan menghasilkan asap yang berbahaya bagi kesehatan serta lingkungan,” katanya.
PM2.5 Menjadi Salah Satu Ancaman Utama
Salah satu komponen yang paling perlu diwaspadai dalam asap karhutla adalah particulate matter (PM), khususnya PM2.5, yakni partikel dengan diameter aerodinamis hingga 2,5 mikrometer.
Partikel berukuran sangat kecil tersebut dapat masuk jauh ke dalam saluran pernapasan hingga mencapai bagian dalam paru-paru. Paparan konsentrasi tinggi dapat memperburuk gangguan pernapasan dan kardiovaskular, terutama pada kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, penderita asma, serta masyarakat dengan penyakit tertentu.
Selain PM2.5, asap kebakaran juga dapat mengandung PM10 serta jelaga atau black carbon yang terbentuk akibat pembakaran tidak sempurna.
Karena itu, informasi mengenai kualitas udara, khususnya konsentrasi PM2.5, menjadi salah satu indikator penting dalam menilai tingkat paparan asap karhutla.
Mengandung Berbagai Gas Hasil Pembakaran
Asap kebakaran gambut juga dapat mengandung berbagai gas hasil pembakaran, antara lain karbon monoksida (CO), karbon dioksida (CO?), nitrogen oksida (NOx), dan dalam kondisi tertentu sulfur dioksida (SO?).
Karbon monoksida merupakan gas yang tidak berwarna dan tidak berbau. Dalam konsentrasi tinggi, paparan CO dapat mengganggu kemampuan darah membawa oksigen dan menyebabkan gejala seperti sakit kepala, pusing, mual, kebingungan hingga kehilangan kesadaran.
Sementara itu, CO? dalam jumlah besar merupakan hasil pembakaran dan berkontribusi terhadap emisi gas rumah kaca. NOx dapat mengiritasi saluran pernapasan sekaligus berperan dalam pembentukan polutan sekunder.
Komposisi dan konsentrasi gas tersebut tidak selalu sama. Kondisinya bergantung pada jenis material yang terbakar, kadar air gambut, temperatur, ketersediaan oksigen, kondisi meteorologis, dan karakteristik lokasi kebakaran.
Ada Senyawa Organik yang Perlu Diwaspadai
Pembakaran biomassa dan bahan organik, terutama ketika berlangsung tidak sempurna, juga dapat menghasilkan berbagai volatile organic compounds (VOC) dan senyawa organik lainnya.
Beberapa senyawa yang dapat ditemukan dalam asap kebakaran biomassa antara lain formaldehida, asetaldehida, akrolein, benzena, toluena, xilena, serta berbagai polycyclic aromatic hydrocarbons (PAHs).
Sejumlah senyawa tersebut memiliki sifat iritan atau toksik, dan beberapa di antaranya diketahui memiliki sifat karsinogenik. Benzo[a]pyrene, misalnya, merupakan salah satu jenis PAH yang dikenal bersifat karsinogenik.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa masyarakat tidak cukup hanya menilai bahaya berdasarkan apakah asap terlihat pekat atau tipis.
“Asap yang terlihat tipis bukan berarti tidak mengandung polutan. Karena itu, masyarakat perlu mendapatkan informasi kualitas udara yang akurat dan tidak hanya mengandalkan pengamatan secara visual,” ujar Teddy Velantino.
Api Kecil Bukan Berarti Risikonya Kecil
Kebakaran gambut memiliki karakteristik yang berbeda dibandingkan kebakaran vegetasi di permukaan.
Api dapat menjalar secara horizontal maupun vertikal melalui lapisan organik di bawah permukaan tanah. Bahkan ketika api tidak terlihat besar, proses pembakaran dapat terus berlangsung dalam kondisi membara atau smoldering combustion dengan ketersediaan oksigen yang terbatas.
Kondisi tersebut membuat kebakaran gambut dapat menghasilkan asap dalam waktu lama dan kembali muncul di lokasi lain.
Dengan demikian, api terlihat kecil tidak selalu berarti risikonya kecil.
Tidak Ada Satu Angka yang Berlaku untuk Semua Kondisi
Informasi mengenai konsentrasi tertentu, misalnya PM2.5 atau karbon monoksida, harus dibaca dalam konteks kondisi lapangan dan standar kesehatan serta keselamatan yang berlaku.
Konsentrasi polutan dapat berubah dengan cepat akibat jarak dari sumber kebakaran, arah dan kecepatan angin, kelembapan, jenis material yang terbakar, kondisi meteorologis, topografi, serta ventilasi.
Karena itu, pengukuran menggunakan peralatan yang sesuai dan terkalibrasi serta pemantauan data kualitas udara resmi menjadi penting dalam menentukan tingkat paparan dan langkah perlindungan.
Petani, Pemadam, dan Masyarakat Berada dalam Risiko
Masyarakat yang tinggal atau bekerja di sekitar lokasi karhutla dapat mengalami berbagai gangguan kesehatan akibat paparan asap, seperti mata merah dan berair, iritasi hidung dan tenggorokan, batuk, sesak napas, sakit kepala, pusing, hingga mual.
Paparan asap berat juga dapat memperburuk kondisi kesehatan yang sudah ada.
Karena itu, gejala seperti batuk atau sesak napas setelah berada di lokasi kebakaran tidak seharusnya dianggap sebagai kondisi biasa.
Jika mengalami sesak berat, kebingungan, penurunan kesadaran, nyeri dada, atau gejala serius lainnya, masyarakat disarankan segera meninggalkan area berasap dan mencari pertolongan medis.
Perlindungan Saat Berada di Area Terdampak Asap
Masyarakat, petani, relawan, maupun petugas yang harus berada di sekitar lokasi terdampak asap perlu memperhatikan sejumlah langkah perlindungan.
• Menggunakan respirator yang sesuai, seperti N95 atau perlindungan partikulat yang setara. Masker kain biasa tidak dirancang untuk memberikan tingkat perlindungan yang sama terhadap PM2.5.
• Mengurangi waktu berada di area dengan asap pekat.
• Menghindari aktivitas fisik berat ketika kualitas udara sedang buruk karena peningkatan frekuensi pernapasan dapat meningkatkan jumlah polutan yang masuk ke paru-paru.
• Memperhatikan arah angin dan perubahan kondisi asap.
• Memantau informasi kualitas udara resmi, termasuk PM2.5, PM10, ISPU, cuaca, hotspot, dan perkembangan kondisi asap.
Untuk kegiatan pemadaman, aspek keselamatan harus menjadi prioritas. Personel tidak seharusnya memasuki area dengan konsentrasi asap tinggi atau lokasi yang berpotensi mengandung gas berbahaya tanpa perlengkapan, pelatihan, dan prosedur keselamatan yang memadai.
Karhutla Gambut Adalah Persoalan Kesehatan Publik
Persoalan karhutla tidak otomatis selesai ketika api yang terlihat telah padam. Jika lapisan gambut masih membara di bawah permukaan, proses emisi dapat terus berlangsung.
Karena itu, penanganan karhutla perlu dilakukan secara menyeluruh, mulai dari deteksi dini, pemadaman, pembasahan kembali lahan gambut, pemantauan kualitas udara, perlindungan pekerja dan masyarakat, hingga pencegahan kebakaran berulang.
Teddy Velantino menegaskan bahwa penanggulangan karhutla perlu didukung informasi dan data yang dapat dipertanggungjawabkan.
“Kita membutuhkan penanganan karhutla yang berbasis data, bukan sekadar berdasarkan apakah api terlihat atau tidak. Asap karhutla adalah persoalan kesehatan masyarakat, keselamatan kerja, lingkungan hidup, dan perlindungan masyarakat.”
Ia menambahkan, masyarakat memiliki hak untuk memperoleh informasi kualitas udara yang akurat, terbuka, mudah dipahami, dan diperbarui secara berkala selama terjadi karhutla.
“Masyarakat berhak mengetahui kondisi udara yang mereka hirup. Informasi yang terbuka dan mudah dipahami menjadi bagian penting dalam melindungi masyarakat ketika karhutla terjadi,” kata Teddy. (*)