PONTIANAK, SP - Ketua Ikatan Cendekiawan Dayak Nasional (ICDN) Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar), Heri Saman, mengapresiasi kiprah Bruder Stephanus Paiman, OFMCap, dalam pelayanan kemanusiaan lintas budaya yang selama ini dilakukan melalui Forum Relawan Kemanusiaan Pontianak (FRKP).
Menurut Heri, konsistensi Bruder Stephanus dalam membantu masyarakat tanpa membedakan latar belakang suku, agama maupun budaya telah menghadirkan gambaran positif tentang peran Gereja Katolik di tengah kehidupan masyarakat Kalbar.
Hal tersebut disampaikan Heri saat menghadiri peluncuran buku Bruder Stephanus Paiman, OFMCap: Ketua FRKP, Aplikasi Moderasi Beragama, Humanisme Lintas Budaya Wajah Gereja Katolik, di Sekretariat FRKP, Jalan Purnama 9/1B, Pontianak, Senin (28/9/2026).
Heri hadir sebagai salah satu donatur peluncuran buku yang ditulis Dominico Savio dan Juniardi Sucinda tersebut.
Buku yang diterbitkan PT Kanisius, Yogyakarta, itu mendokumentasikan perjalanan pelayanan Bruder Stephanus, khususnya dalam kemanusiaan, moderasi beragama dan humanisme lintas budaya. Penerbit mencatat buku tersebut terbit pada 2026 dengan tebal 200 halaman.
“Kami sangat mengapresiasi karya-karya kemanusiaan yang dilakukan Bruder Stephanus bersama FRKP. Pelayanan yang dilakukan secara nyata kepada masyarakat, tanpa melihat perbedaan suku, agama dan latar belakang, tentu memberikan citra positif Gereja Katolik di tengah masyarakat,” ujar Heri.
Menurut Heri, kerja-kerja kemanusiaan seperti yang dilakukan FRKP memiliki arti penting bagi Kalimantan Barat yang dikenal sebagai daerah dengan keberagaman masyarakat.
Pelayanan yang diberikan kepada mereka yang membutuhkan, kata dia, menjadi ruang perjumpaan yang memperkuat persaudaraan dan kepedulian sosial.
“Kemanusiaan menjadi titik temu kita. Ketika seseorang hadir membantu orang lain yang sedang membutuhkan, yang dilihat bukan lagi perbedaan agama, suku atau latar belakang, tetapi kebutuhan dan martabat manusia itu sendiri,” katanya.
Buku Jadi Catatan Perjalanan Kemanusiaan
Peluncuran buku tersebut berlangsung dalam rangkaian perayaan HUT ke-64 Bruder Stephanus Paiman, OFMCap, HUT ke-21 FRKP, serta HUT ke-8 West Borneo Vespa Lovers.
Misa syukur dipimpin Mgr. Samuel Oton Sidin, OFMCap, Administrator Apostolik Keuskupan Agung Pontianak dan Uskup Sintang. Hadir pula Wakil Gubernur Kalimantan Barat Krisantus Kurniawan, para imam Kapusin, suster, bruder, keluarga Bruder Stephanus, relawan FRKP, komunitas West Borneo Vespa Lovers serta sejumlah undangan. Rangkaian perayaan dan kehadiran para tokoh tersebut juga diberitakan sejumlah media lokal.
Bagi Heri, buku tersebut memiliki arti lebih dari sekadar biografi.
Ia melihat buku itu sebagai dokumentasi perjalanan pelayanan yang dapat menjadi referensi bagi generasi berikutnya tentang bagaimana nilai-nilai kemanusiaan diwujudkan melalui tindakan nyata.
“Buku ini penting karena tidak hanya menceritakan sosok Bruder Stephanus, tetapi juga merekam perjalanan sebuah karya kemanusiaan. Ini menjadi dokumentasi bahwa persaudaraan, kepedulian dan moderasi beragama dapat diwujudkan dalam tindakan nyata,” ungkapnya.
Isi buku sendiri menempatkan pelayanan Bruder Stephanus dalam konteks masyarakat Indonesia yang plural. Melalui FRKP, nilai moderasi beragama diterjemahkan dalam pelayanan kemanusiaan, dialog, solidaritas serta penghormatan terhadap keberagaman.
Kemanusiaan Melampaui Sekat
Heri menilai, salah satu kekuatan pelayanan Bruder Stephanus adalah kemampuannya membangun hubungan dengan berbagai kelompok masyarakat.
Selama berkarya bersama FRKP, Bruder Stephanus tidak hanya berinteraksi dengan komunitas Katolik, tetapi juga dengan masyarakat dan kelompok dari berbagai latar belakang.
Bagi Heri, pola pelayanan seperti itu penting untuk terus dikembangkan karena masyarakat Kalimantan Barat membutuhkan ruang-ruang perjumpaan yang memperkuat kepercayaan dan solidaritas.
“Kita hidup dalam masyarakat yang sangat beragam. Karena itu, ruang-ruang perjumpaan seperti yang dibangun Bruder Stephanus dan FRKP harus terus dirawat. Dari sana tumbuh saling mengenal, saling menghormati dan akhirnya saling membantu,” tutur Heri.
Ia berharap semangat tersebut dapat terus dilanjutkan oleh generasi berikutnya.
Karya Baik Perlu Terus Dikawal
Sebagai Ketua ICDN Kalimantan Barat, Heri juga melihat pentingnya membangun kolaborasi lintas komunitas dalam kegiatan sosial dan kemanusiaan.
Menurutnya, masyarakat tidak bisa hanya mengandalkan satu kelompok untuk menyelesaikan persoalan sosial. Pemerintah, tokoh agama, organisasi masyarakat, komunitas, dunia usaha, akademisi dan relawan perlu mengambil bagian sesuai kapasitas masing-masing.
“Karya kemanusiaan tidak mungkin dikerjakan sendirian. Yang dibutuhkan adalah kolaborasi. Ketika banyak pihak bergerak bersama, manfaatnya akan jauh lebih besar bagi masyarakat,” katanya.
Karena itu, kehadirannya sebagai donatur dalam peluncuran buku tersebut juga disebut sebagai bentuk dukungan terhadap upaya mendokumentasikan karya kemanusiaan.
Bruder Steph: Semua Ini Karya Bersama
Sementara itu, Bruder Stephanus Paiman, OFMCap, menyampaikan rasa syukur atas perjalanan 64 tahun hidupnya sekaligus perjalanan 21 tahun FRKP.
Ia mengatakan, berbagai karya kemanusiaan yang selama ini dilakukan bukanlah hasil kerja seorang diri.
“Saya sangat bersyukur karena perjalanan ini bukan perjalanan saya seorang. Apa yang dilakukan FRKP merupakan karya bersama. Banyak tangan, banyak hati dan banyak komunitas yang telah hadir dan berkolaborasi dalam berbagai misi kemanusiaan,” ujar Bruder Stephanus.
Ia juga menyampaikan terima kasih kepada seluruh relawan, komunitas, pemerintah, tokoh agama dan masyarakat yang selama ini ikut membuka ruang kolaborasi.
“Terima kasih kepada semua sahabat, relawan, komunitas, pemerintah, tokoh agama dan semua pihak yang telah membuka ruang untuk bekerja bersama. Dalam setiap misi kemanusiaan kita belajar bahwa perbedaan bukan penghalang untuk berbuat baik,” katanya.
Bagi Bruder Stephanus, peluncuran buku tersebut menjadi kado istimewa di usia ke-64.
Namun, ia berharap buku tersebut tidak berhenti sebagai catatan masa lalu.
“Kado terbesarnya adalah persaudaraan dan kesempatan untuk terus bekerja bersama dalam misi kemanusiaan. Semoga apa yang sudah kita lakukan menjadi berkat dan terus memberi manfaat bagi semakin banyak orang,” tuturnya.
Bagi Heri Saman, perjalanan Bruder Stephanus dan FRKP menunjukkan bahwa wajah kemanusiaan dapat menjadi ruang perjumpaan berbagai identitas.
Di tengah masyarakat Kalimantan Barat yang majemuk, kerja-kerja semacam itu menjadi bagian dari upaya merawat persaudaraan sekaligus memperkuat kehidupan bersama.
Buku tersebut akhirnya bukan hanya menjadi catatan tentang perjalanan seorang Bruder, tetapi juga dokumentasi tentang bagaimana kemanusiaan dapat melampaui sekat agama, suku dan budaya, sebuah karya yang, menurut Heri Saman, turut menghadirkan citra positif Gereja Katolik melalui tindakan nyata di tengah masyarakat. (*)