PONTIANAK, SP - Sinergi antarpemangku kepentingan terus diperkuat untuk mempercepat transformasi ekonomi dan keuangan digital di Kalimantan Barat. Penguatan konektivitas, infrastruktur digital, serta perluasan transaksi nontunai menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem digital yang inklusif dan terintegrasi.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Barat, Doni Septadijaya, mengatakan arah transformasi tersebut sejalan dengan semangat yang diusung dalam Festival Ekonomi dan Keuangan Digital Indonesia (FEKDI) x Indonesia Fintech Summit & Expo (IFSE) 2026.
Menurut Doni, semangat “Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa” menjadi landasan dalam memperkuat sinergi transformasi ekonomi dan keuangan digital.
“Satu Nusa mengintegrasikan infrastruktur digital nasional, Satu Bangsa menyatukan ekosistem ekonomi dan keuangan digital, sementara Satu Bahasa mendorong standardisasi agar berbagai sistem dapat saling terhubung dan berinteroperabilitas,” kata Doni dalam keterangan yang diterima, Senin (28/9).
Ia menjelaskan, penguatan konektivitas digital perlu dibarengi dengan pemanfaatan data, peningkatan keamanan transaksi, pengembangan inovasi, serta penguatan talenta digital.
Hal tersebut sejalan dengan Blueprint Sistem Pembayaran Indonesia (BSPI) 2030 yang mendorong pengembangan infrastruktur, industri, inovasi, internasionalisasi, serta Rupiah Digital.
Di Kalimantan Barat, upaya memperkuat ekosistem digital juga dilakukan pemerintah daerah melalui berbagai program. Pemerintah Kota Pontianak, misalnya, memanfaatkan platform ePonti untuk pembayaran pajak dan retribusi, memperluas penetrasi penyedia layanan internet, serta memodernisasi jaringan di sejumlah titik layanan publik.
Sementara di Kota Singkawang, penguatan ruang digital dilakukan melalui pengoperasian 61 CCTV yang terintegrasi di 41 titik strategis serta penyediaan Wi-Fi gratis di sejumlah ruang publik melalui program SI MATA INDAH.
Di Kabupaten Ketapang, pemerintah daerah juga berupaya mengurangi wilayah blankspot dengan mengoperasikan dan merawat 120 menara BTS BAKTI.
Menurut Doni, penguatan infrastruktur tersebut perlu diikuti dengan peningkatan penggunaan transaksi digital oleh masyarakat dan pelaku usaha.
Di wilayah perbatasan, Bank Indonesia Kalimantan Barat turut mendorong akselerasi pembayaran digital melalui FGD LENTERA Batas Negeri 2026 di PLBN Badau dan inisiatif QRIS BETANG (Bangun Ekosistem Transaksi Antar Negara).
Program tersebut mencakup digitalisasi di tiga PLBN, yakni Entikong, Badau, dan Jagoi Babang, sekaligus mendorong keterlibatan industri perbankan melalui QRIS Racing Transaksi Antarnegara.
“Kolaborasi menjadi kunci agar digitalisasi tidak hanya membangun infrastruktur, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, dunia usaha, dan perekonomian daerah,” ujar Doni.
FEKDI x IFSE 2026 sendiri berlangsung pada 24–26 September 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC). Kegiatan tersebut mempertemukan pemerintah, regulator, industri keuangan, pelaku usaha, serta pemangku kepentingan ekonomi digital untuk membahas penguatan ekosistem digital nasional.
Rangkaian kegiatan meliputi seminar, talkshow, showcase inovasi teknologi, digital experience, hingga sesi jejaring yang diarahkan untuk memperkuat konektivitas, inovasi, talenta, dan kolaborasi dalam pengembangan ekonomi dan keuangan digital. (jee)