SINGKAWANG, SP - Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kota Singkawang menjadi narasumber utama dalam kegiatan Penguatan Kemitraan Strategis OPD Non Dinkes, Swasta/CSR dan Dana Desa untuk Pencegahan dan Pengendalian AIDS, TBC dan Malaria (ATM) yang diselenggarakan Asosiasi Dinas Kesehatan (ADINKES) di Dayang Resort Singkawang, Selasa (29/9).
Kegiatan ini dihadiri Kepala Dinas Kesehatan se-Kalbar, Kepala Puskesmas dan mitra kesehatan dan dibuka langsung oleh Wakil Wali Kota Singkawang, Muhammadin.
Dalam sambutannya, Muhammadin menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada BAZNAS Kota Singkawang yang telah menjadi mitra strategis Pemerintah Kota dalam mengentaskan kemiskinan ekstrem di Kota Singkawang.
"BAZNAS adalah organisasi yang dibentuk pemerintah yang telah terbukti menjadi kunci keberhasilan Pemkot Singkawang dalam pengentasan kemiskinan ekstrem, mulai dari RTLH hingga bantuan modal usaha dhuafa. Kolaborasi dengan Dinkes untuk TBC ini adalah langkah maju," kata Muhammadin.
Pada sesi paparan, Wakil Ketua IV BAZNAS Kota Singkawang, Malik Moh Said, mempresentasikan kontribusi nyata BAZNAS dalam penanggulangan penyakit ATM khususnya TBC.
"Kami tidak hanya menyalurkan bantuan konsumtif. BAZNAS Kota Singkawang telah berkontribusi melalui penyaluran bantuan sembako dan nutrisi berupa beras, telur, susu, vitamin kepada penderita TBC, penanggulangan stunting, serta bantuan pengadaan jamban sehat kepada keluarga tidak mampu untuk pencegahan dini penularan TBC," kata Malik.
Ia menegaskan program tersebut memiliki payung hukum yang kuat, yakni UU Nomor 23 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Zakat, PP Nomor 14 Tahun 2014, dan PerBAZNAS Nomor 3 Tahun 2018 tentang Pendistribusian dan Pendayagunaan Zakat yang memperbolehkan zakat untuk bidang kesehatan.
Dalam workshop tersebut, BAZNAS Kota Singkawang memperkenalkan inovasi baru Fiqih Zakat Untuk Kesehatan.
"Selama ini zakat identik dengan bantuan ekonomi. Kami kembangkan konsep Fiqih Zakat Untuk Kesehatan berbasis Maqashid Syariah Hifzhun Nafs (menjaga jiwa). Pasien TBC dari keluarga fakir miskin yang butuh nutrisi untuk kepatuhan minum OAT (Obat Anti Tuberkulosis) selama 6 bulan adalah mustahik. Keluarga tanpa jamban sehat yang berisiko menularkan TBC juga mustahik. Ini kami kaitkan dengan 8 asnaf, terutama fakir, miskin, gharimin, dan fisabilillah untuk kader kesehatan," papar Malik.
Inovasi tersebut mendapat sambutan positif dari peserta ADINKES. Model kolaborasi by name by address antara Dinkes/Puskesmas sebagai penyedia data pasien dan BAZNAS sebagai verifikator asnaf dan eksekutor bantuan dinilai menjadi model yang bisa direplikasi secara nasional.
Kedepan, lanjut Malik, BAZNAS Kota Singkawang merencanakan scaling up program PMT TBC untuk 50-100 pasien per tahun, program Rumah Sehat dengan perbaikan sirkulasi udara dan pembangunan 30 jamban sehat serta integrasi data SIMBA BAZNAS dengan e-TB Dinkes.
"Kegiatan ini diharapkan melahirkan MoU resmi antara BAZNAS, Dinkes Kota Singkawang dan ADINKES Wilayah Kalimantan Barat untuk mewujudkan Singkawang Bebas TBC 2028," tutupnya. (rud)