PONTIANAK, SP - Pangkalan TNI Angkatan Udara (Lanud) Supadio, terus memperkuat dukungan terhadap upaya penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Kalimantan Barat (Kalbar).
Seiring kejadian Karhutla di sejumlah wilayah, Lanud Supadio mengerahkan dukungan operasi pemadaman dari udara melalui water bombing serta Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) sebagai bagian dari upaya terpadu bersama pemerintah daerah dan instansi terkait.
Dukungan water bombing dilaksanakan dengan mengoperasikan helikopter untuk melakukan penyiraman langsung ke titik-titik Karhutla yang sulit dijangkau melalui jalur darat.
Selain itu, Lanud Supadio juga mendukung pelaksanaan OMC untuk membantu meningkatkan potensi pertumbuhan awan hujan dan mempercepat turunnya hujan di wilayah yang menjadi sasaran operasi.
Danlanud Supadio, Marsma TNI Sidik Setiyono, S.E., M.Han., menegaskan bahwa Lanud Supadio siap memberikan dukungan secara optimal sesuai kemampuan dan tugas yang diemban.
Water bombing dan OMC merupakan bagian dari upaya bersama untuk menekan perkembangan karhutla di Kalimantan Barat. Kecepatan, koordinasi dan sinergi menjadi kunci dalam menghadapi kondisi ini.
Dalam pelaksanaannya, Lanud Supadio terus berkoordinasi dengan berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah, BPBD, BNPB, BMKG, TNI-Polri, serta unsur pemadam kebakaran dan masyarakat.
Koordinasi tersebut dilakukan untuk menentukan prioritas penanganan, memantau perkembangan titik api, serta memastikan dukungan udara dapat diberikan secara efektif dan tepat sasaran.
Dukungan operasi udara juga menjadi bagian penting dalam menghadapi karakteristik wilayah Kalimantan Barat yang memiliki kawasan gambut dan lahan yang sulit dijangkau oleh personel maupun kendaraan pemadam dari darat.
Dengan dukungan helikopter water bombing, pemadaman dapat dilakukan langsung dari udara pada lokasi yang membutuhkan penanganan segera.
Sementara itu, OMC menjadi langkah preventif dan mitigasi untuk membantu menciptakan kondisi atmosfer yang mendukung turunnya hujan, terutama di wilayah yang mengalami kekeringan dan memiliki potensi karhutla tinggi. (*)