Bengkayang post author Kiwi 29 Oktober 2026

Semangat Sumpah Pemuda 2026, SMPN 5 Teriak Tanamkan Cinta Literasi dan Kreativitas Siswa

Photo of Semangat Sumpah Pemuda 2026, SMPN 5 Teriak Tanamkan Cinta Literasi dan Kreativitas Siswa

BENGKAYANG,SP – Semangat Sumpah Pemuda tidak hanya dikenang melalui sejarah perjuangan bangsa, tetapi juga diwujudkan lewat upaya membangun generasi muda yang cerdas, kreatif, dan berkarakter. Semangat itulah yang mewarnai peringatan Bulan Bahasa dan Sumpah Pemuda (Perbasada) di SMP Negeri 5 Teriak, Kabupaten Bengkayang.

Melalui beragam perlombaan, sekolah berupaya menghadirkan ruang belajar yang menyenangkan bagi para siswa. Kegiatan ini tidak sekadar menjadi agenda perayaan tahunan, tetapi juga wahana untuk menggali potensi, menumbuhkan keberanian, serta memotivasi anak-anak agar berani tampil dan mengekspresikan kemampuan mereka.

Kepala SMPN 5 Teriak, Alamsyah, mengatakan bahwa Perbasada dirancang sebagai sarana pembelajaran sekaligus upaya membangun kepercayaan diri siswa. Menurutnya, setiap anak memiliki potensi yang perlu diberikan ruang untuk tumbuh dan berkembang.

“Melalui kegiatan ini, kami ingin memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk belajar, mengembangkan kemampuan, dan melatih keberanian mereka untuk tampil di depan orang lain. Harapannya, kegiatan ini dapat menjadi motivasi bagi siswa untuk terus belajar dan menggali potensi diri,” ujarnya.

Semangat tersebut diterjemahkan melalui sejumlah perlombaan yang melibatkan kreativitas, kemampuan berbahasa, pengetahuan, dan kecintaan terhadap seni budaya. Berbagai cabang yang dipertandingkan meliputi lomba cerdas cermat (LCT), mendongeng, membaca puisi, fashion show, pidato, hingga tari kreasi.

Setiap perlombaan menghadirkan pengalaman belajar yang berbeda. Lomba cerdas cermat mengasah pengetahuan dan ketangkasan berpikir. Mendongeng dan membaca puisi melatih kemampuan berbahasa sekaligus menghidupkan imajinasi. Sementara itu, pidato menjadi ruang bagi siswa untuk menyampaikan gagasan dan belajar berbicara dengan percaya diri.

Di sisi lain, fashion show dan tari kreasi memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengekspresikan kreativitas serta mengenal kekayaan seni dan budaya. Melalui kegiatan tersebut, sekolah ingin menunjukkan bahwa proses pendidikan tidak hanya berlangsung di ruang kelas, tetapi juga tumbuh melalui pengalaman, interaksi, dan keberanian mencoba hal-hal baru.

Mengusung tema “Pohon untuk Kehidupan, Literasi untuk Masa Depan”, kegiatan ini membawa pesan bahwa pendidikan dan literasi merupakan fondasi penting bagi kehidupan generasi mendatang.

Sebagaimana pohon yang tumbuh dari akar yang kuat, kemampuan literasi juga perlu ditanamkan sejak dini agar anak-anak memiliki dasar pengetahuan yang kokoh. Membaca, memahami informasi, menulis, dan mengomunikasikan gagasan merupakan bekal penting bagi siswa untuk menghadapi tantangan masa depan.

Tema tersebut juga mengingatkan bahwa menumbuhkan budaya literasi membutuhkan proses yang berkelanjutan. Diperlukan peran sekolah, guru, orang tua, dan lingkungan masyarakat agar membaca tidak berhenti sebagai kewajiban akademik, melainkan menjadi kebiasaan yang tumbuh dari kesadaran dan rasa ingin tahu.

Pengawas sekolah dari Dinas Pendidikan Kabupaten Bengkayang, Edi H. Sirait, menuturkan bahwa program membaca menjadi salah satu prioritas dalam pendidikan, khususnya pada jenjang sekolah dasar. Menurutnya, pembiasaan membaca sejak dini menjadi fondasi bagi perkembangan kemampuan belajar anak ketika melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya.

Ia menilai kegiatan seperti Perbasada memberikan dampak positif bagi dunia pendidikan, baik bagi siswa maupun guru. Kegiatan yang melibatkan kreativitas dan kemampuan siswa dapat menjadi pemicu untuk meningkatkan motivasi belajar sekaligus mendorong guru menghadirkan proses pembelajaran yang lebih menarik.

“Program membaca menjadi prioritas, terutama di tingkat sekolah dasar. Kegiatan seperti ini membawa dampak positif bagi sekolah, anak-anak, dan guru. Ini bisa menjadi pemicu untuk meningkatkan motivasi anak-anak dalam belajar,” tuturnya.

Bagi para siswa, kesempatan tampil di hadapan teman-teman dan guru merupakan pengalaman yang tidak selalu diperoleh melalui pembelajaran rutin. Mereka belajar mengatasi rasa gugup, mempersiapkan diri, menghargai proses, dan menerima hasil dengan lapang dada.

Pengalaman tersebut menjadi bagian penting dalam pembentukan karakter. Sebab, pendidikan tidak hanya bertujuan melahirkan anak-anak yang unggul dalam pengetahuan, tetapi juga generasi yang berani, disiplin, mampu bekerja sama, serta menghargai perbedaan.

Menghidupkan Kembali Makna Sumpah Pemuda

Peringatan Sumpah Pemuda setiap 28 Oktober mengingatkan bangsa Indonesia pada ikrar para pemuda pada 1928 tentang satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa persatuan, Indonesia. Semangat persatuan itu tetap relevan bagi generasi muda saat ini, termasuk bagi para siswa di Kabupaten Bengkayang yang tumbuh dalam lingkungan masyarakat dengan keberagaman budaya dan bahasa.

Di tengah perkembangan teknologi dan derasnya arus informasi, tantangan generasi muda tidak lagi hanya berkaitan dengan akses terhadap pendidikan. Mereka juga dituntut memiliki kemampuan membaca secara kritis, memilah informasi, menyampaikan pendapat dengan santun, serta membangun komunikasi yang menghargai perbedaan.

Dalam konteks tersebut, kegiatan literasi dan seni di sekolah menjadi salah satu cara untuk menerjemahkan semangat Sumpah Pemuda ke dalam kehidupan sehari-hari. Bahasa Indonesia menjadi jembatan komunikasi, sementara seni dan budaya menjadi ruang untuk mengenal sekaligus menghargai keragaman identitas bangsa.

Melalui Perbasada, SMPN 5 Teriak berupaya menanamkan pemahaman bahwa semangat menjadi pemuda Indonesia dapat dimulai dari langkah sederhana: rajin membaca, berani menyampaikan gagasan, menghormati teman, dan terus mengembangkan kemampuan diri.

Pada akhirnya, keberhasilan kegiatan semacam ini tidak hanya diukur dari siapa yang menjadi juara dalam perlombaan. Lebih dari itu, keberhasilan terlihat ketika siswa pulang membawa pengalaman baru, keberanian yang bertambah, dan semangat untuk terus belajar.

Di SMPN 5 Teriak, pesan Sumpah Pemuda menemukan maknanya melalui pendidikan. Jika pohon membutuhkan akar yang kuat untuk tumbuh menjulang, generasi muda membutuhkan literasi, karakter, dan semangat persatuan untuk melangkah menuju masa depan.

Sebab, membangun Indonesia tidak selalu dimulai dari langkah besar. Terkadang, masa depan bangsa justru bertumbuh dari sebuah sekolah, dari keberanian seorang anak untuk tampil, dan dari kebiasaan membaca yang ditanamkan hari ini.(nar)

Keywords

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda