PONTIANAK, SP - Transformasi sebuah perguruan tinggi tidak pernah selesai hanya dengan membangun gedung-gedung baru atau menambah jumlah mahasiswa.
Kemajuan sebuah institusi pendidikan tinggi sesungguhnya diukur dari kualitas sumber daya manusia yang dimiliki, sistem tata kelola yang berjalan, budaya akademik yang tumbuh, serta mutu layanan yang terus meningkat dari waktu ke waktu.
Kesadaran itulah yang menjadi salah satu arah utama kepemimpinan Prof. Dr. H. Syarif, S.Ag., M.A. selama memimpin Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Pontianak. Setelah memperkuat fondasi kelembagaan, mengembangkan infrastruktur kampus, dan mendorong transformasi menuju Universitas Islam Negeri (UIN), langkah berikutnya adalah membangun sesuatu yang lebih mendasar, yakni budaya mutu sebagai ruh pengembangan institusi.
Bagi Prof. Syarif, perguruan tinggi tidak cukup hanya mengejar capaian administratif ataupun prestasi sesaat. Yang jauh lebih penting adalah membangun sistem yang mampu menjaga kualitas secara berkelanjutan sehingga setiap perubahan yang dilakukan tetap memberikan manfaat dalam jangka panjang.
Prinsip itulah yang kemudian diterjemahkan ke dalam berbagai kebijakan strategis, mulai dari peningkatan kualitas dosen dan tenaga kependidikan, penguatan sistem penjaminan mutu, peningkatan akreditasi program studi dan institusi, modernisasi tata kelola, hingga perluasan jejaring kerja sama internasional.
Seluruh proses tersebut dijalankan secara bertahap dengan melibatkan seluruh unsur sivitas akademika. Budaya mutu dibangun bukan sebagai tanggung jawab satu unit kerja, melainkan menjadi komitmen bersama seluruh warga kampus.
Menguatkan SDM sebagai Pondasi Kampus Berkualitas
Langkah pertama yang dilakukan adalah memperkuat kualitas sumber daya manusia.
Prof. Syarif meyakini bahwa dosen merupakan jantung sebuah perguruan tinggi. Karena itu, peningkatan kompetensi dosen menjadi investasi paling penting dalam membangun masa depan institusi.
Program studi lanjut, percepatan jabatan akademik, peningkatan kompetensi, penguatan budaya riset, publikasi ilmiah, hingga kolaborasi internasional terus didorong secara sistematis.
Hasilnya mulai terlihat.
Hingga tahun 2026, IAIN Pontianak memiliki 18 guru besar, 76 dosen bergelar doktor (S3), serta 176 dosen bergelar magister (S2).
Penguatan kualitas SDM juga terjadi pada tenaga kependidikan. Saat ini IAIN Pontianak didukung oleh 233 tenaga administrasi, terdiri atas 2 bergelar doktor, 25 magister, 164 sarjana, 3 Diploma IV, 4 Diploma III, 2 Diploma II, 31 lulusan SMA, 1 lulusan SMP, dan 1 lulusan SD.
Seluruh sumber daya tersebut menjadi penggerak pelayanan akademik bagi 6.645 mahasiswa, dengan jumlah yang aktif 6.633 dan 12 orang mengajukan cuti.
Mereka menempuh pendidikan pada enam fakultas, termasuk Pascasarjana, dengan 25 program studi jenjang Sarjana, Magister hingga Program Doktor.
Adapun prodi dan fakultas tersebut antara lain 1. Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK), dengan prodi Tadris Matematika (TM), Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD), Pendidikan Agama Islam (PAI), Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI), Pendidikan Profesi Guru Keagamaan (PPG), Tadris Bahasa Inggris (TBI), dan Pendidikan Bahasa Arab (PBA).
2. Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI), dengan Prodi antara lain, Manajemen Bisnis Syariah (MBS), Akuntansi Syariah (AKS), Ekonomi Syariah (ES), dan Perbankan Syariah (PS).
3. Fakultas Dakwah dan Komunikasi Islam (FDKI) dengan Prodi antara lain:
Manajemen Dakwah (MD), Bimbingan Konseling Islam (BKI), Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI).
4. Fakultas Syariah dan Hukum Agama (FASHA) dengan Prodi antara lain:
Hukum Keluarga Islam(Ahwal Syakhshiyyah) (HKI), Hukum Ekonomi Syariah(Mua'malah) (HES), Hukum Tatanegara (Siyasah Syar'iyyah) (HTN)
5. Fakultas Ushuluddin dan Adab (FUSHA) dengan Prodi antara lain: Studi Agama Agama (SAA), Psikologi Islam (PI), dan Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir (IAT).
6. Pasca Sarjana, dengan Prodi antara lain: Ekonomi Syariah (MES), Studi Islam (MSI), Pendidikan Agama Islam (MPAI), Pendidikan Bahasa Arab (MPBA), dan Doktor Studi Islam (DSI).
Wakil Rektor I Bidang Akademik dan Pengembangan Lembaga, Prof. Dr. Ali Hasymi, M.Si., menilai kualitas perguruan tinggi tidak dapat dipisahkan dari kualitas dosennya.
"Dosen adalah kekuatan utama perguruan tinggi. Ketika kualitas dosen terus meningkat, maka kualitas pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat juga akan semakin kuat," ujarnya.
Menurutnya, tantangan pendidikan tinggi terus berkembang sehingga dosen dituntut tidak pernah berhenti belajar, meningkatkan kompetensi, menghasilkan karya ilmiah, sekaligus memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.

Bertambahnya Guru Besar Memperkuat Tradisi Akademik
Peningkatan kualitas sumber daya manusia juga tercermin dari semakin banyaknya guru besar di lingkungan IAIN Pontianak.
Bertambahnya profesor bukan sekadar penambahan gelar akademik, tetapi menunjukkan semakin matangnya tradisi keilmuan yang dibangun kampus.
Para profesor menjadi penggerak riset, pembimbing dosen muda, penghasil publikasi ilmiah bereputasi, sekaligus wajah akademik institusi di tingkat nasional maupun internasional.
Keberadaan 18 profesor menjadi modal penting dalam memperkuat budaya akademik sekaligus meningkatkan reputasi IAIN Pontianak sebagai perguruan tinggi Islam negeri yang terus berkembang.
Guru besar IAIN Pontianak hingga tahun 2026 di antaranya:
1. Prof. Dr, H. Syarif, S. Ag, MA.,
2. Prof. Dr. H. Saifududdin Herlambang, S. Ag, MA.
3. Prof. Dr. Dwi Surya Atmadja, MA.,
4. Prof. Dr. Rianawati, S. Ag, M.Ag.,
5. Prof. Dr. Hermansyah, S. Ag, M. Ag.,
6. Prof. Dr. Muhammad Edi Kurnanto, S. Ag, M. Pd.,
7. Prof. Dr. Muhammad Hasan, S. Ag, M.Ag.,
8. Prof. Dr. Dahliah Haliyah Ma’u S. Ag, M.H.I.
9. Prof. Dr. Ibrahim, MA.,
10. Prof. Dr. H. Wajidi Sayadi, M.Ag.
11. Prof. Dr. Zaenuddin, S.Ag., M.A.
12. Prof. Dr. Sukino, S.Ag., M.Ag
13. Prof. Dr. Sahri, M.A.
14. Prof. Dr. Faizal Amin, S.Ag., M.Ag
15. Prof. Dr. Imron Mutaqin, S.Pd.I., M.Pd.I.
16. Prof. Dr. Munawar, M.Si.
17. Prof. Dr. Erwin, S.Ag., M.Ag.
18. Prof. Dr. Samsul Hidayat, S.Ag., M.A.
Para profesor tersebut menjadi kekuatan akademik dalam memperkuat kualitas pembelajaran, pengembangan penelitian, serta peningkatan reputasi akademik institusi.
Kerja Sama Internasional Dorong Lahirnya Doktor Baru
Penguatan SDM tidak hanya dilakukan di dalam negeri.
Di bawah kepemimpinan Prof. Syarif, IAIN Pontianak menjalin kerja sama strategis dengan Universiti Malaysia Sarawak (UNIMAS) sebagai bagian dari percepatan internasionalisasi kampus.
Salah satu program paling strategis adalah pengiriman 19 dosen IAIN Pontianak untuk menempuh pendidikan doktor (Ph.D.) di UNIMAS.
Program tersebut dirancang sebagai akselerasi peningkatan kualitas dosen dengan target penyelesaian studi sekitar tiga tahun.
Untuk memastikan proses akademik berjalan optimal, kedua perguruan tinggi secara berkala menyelenggarakan Bengkel Pengukuhan Pascasiswazah, menghadirkan para profesor UNIMAS guna memberikan pendampingan dan evaluasi terhadap perkembangan studi para dosen.
Kolaborasi kedua institusi tidak berhenti pada pendidikan doktoral. Kerja sama juga dikembangkan dalam bentuk penelitian bersama, pertukaran dosen dan mahasiswa, publikasi ilmiah internasional, serta penyelenggaraan International Guest Lecture, yang semakin memperluas jejaring akademik IAIN Pontianak di tingkat global.

LPM Menanamkan Budaya Mutu
Setelah memperkuat sumber daya manusia, perhatian kemudian diarahkan pada sistem penjaminan mutu.
Peran tersebut dijalankan oleh Lembaga Penjaminan Mutu (LPM) yang menjadi motor penggerak budaya mutu di lingkungan kampus.
Ketua LPM IAIN Pontianak, Prof. Dr. Muhammad Edi Kurnanto, S.Ag., M.Pd., menegaskan bahwa mutu tidak boleh dipahami hanya sebagai persiapan menghadapi akreditasi.
"Mutu bukan hanya dipersiapkan ketika ada proses akreditasi. Mutu harus menjadi kebiasaan dalam setiap aktivitas kampus, mulai dari pembelajaran, penelitian, pelayanan akademik sampai tata kelola," ujarnya.
Menurut Prof. Edi, peningkatan mutu hanya dapat dicapai apabila setiap program studi memiliki budaya evaluasi dan perbaikan yang dilakukan secara terus-menerus.
Melalui implementasi Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI), seluruh proses akademik dievaluasi secara berkala agar memenuhi standar pendidikan tinggi yang semakin kompetitif.
Akreditasi sebagai Cermin Kualitas
Budaya mutu yang dibangun kemudian bermuara pada peningkatan akreditasi institusi maupun program studi.
Namun bagi Prof. Syarif, akreditasi bukanlah tujuan akhir.
Akreditasi dipandang sebagai cerminan kualitas penyelenggaraan pendidikan tinggi yang mencakup kualitas dosen, kurikulum, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, tata kelola, sarana prasarana, hingga pelayanan kepada mahasiswa.
"Akreditasi bukan tujuan akhir. Yang paling penting adalah bagaimana seluruh proses memberikan dampak terhadap peningkatan kualitas pendidikan dan pelayanan kepada mahasiswa," kata Prof. Edi.
Melalui pendekatan tersebut, setiap program studi diarahkan agar mampu menghasilkan lulusan yang kompeten, adaptif, serta memiliki daya saing yang tinggi.
Layanan Profesional Berbasis Standar dan Digitalisasi
Perjalanan membangun mutu tidak berhenti pada aspek akademik.
Prof. Syarif juga melakukan pembenahan besar terhadap sistem pelayanan administrasi kampus agar semakin profesional, cepat, transparan, dan akuntabel.
Standar operasional pelayanan disusun lebih sistematis, kompetensi aparatur terus ditingkatkan, sementara evaluasi kinerja dilakukan secara berkala.
Kepala Biro Administrasi Umum, Akademik, dan Kemahasiswaan (AUAK), Prof. Dr. H. Moh. Junaidin, M.A., mengatakan profesionalisme aparatur menjadi faktor penting dalam peningkatan kualitas layanan.
"Jabatan bukan hanya penghargaan, tetapi amanah untuk meningkatkan kinerja dan memberikan pelayanan terbaik bagi institusi," ujarnya.
Sejalan dengan itu, transformasi digital terus dipercepat melalui pengembangan sistem informasi akademik, administrasi, pengelolaan data, hingga pelayanan berbasis teknologi.
Kasubbag Organisasi, Kepegawaian, dan Penyusunan Peraturan (OKPP), Adi Mulyono, S.Sos, M.A.P., mengatakan digitalisasi menjadi bagian penting dalam menciptakan tata kelola modern.
"Teknologi harus membuat layanan lebih efektif, transparan, dan akurat. Data yang baik menjadi dasar penting dalam pengambilan kebijakan," katanya.
Infrastruktur Menjadi Penopang Budaya Mutu
Seluruh upaya peningkatan mutu tersebut didukung dengan pembangunan sarana dan prasarana kampus yang dilakukan secara berkelanjutan.
Wakil Rektor II Bidang Administrasi Umum, Perencanaan, dan Keuangan, Dr. Cucu, M.Ag., mengatakan keberadaan fasilitas yang memadai merupakan bagian penting dalam menciptakan ekosistem akademik yang sehat.
"Fasilitas kampus yang baik akan mendukung dosen dan mahasiswa menjalankan aktivitas akademik secara optimal," ujarnya.
Karena itu pembangunan ruang kuliah, laboratorium, perpustakaan, hingga berbagai fasilitas pendukung lainnya dirancang untuk menjawab kebutuhan jangka panjang pengembangan institusi.
Mewariskan Budaya, Bukan Sekadar Membangun Gedung
Hari ini IAIN Pontianak telah memiliki enam fakultas, 25 program studi, ribuan mahasiswa aktif, puluhan doktor, belasan guru besar, serta jaringan kerja sama internasional yang terus berkembang.
Namun capaian tersebut sesungguhnya hanyalah bagian dari perjalanan yang lebih besar.
Warisan terpenting dari kepemimpinan Prof. Syarif bukan hanya bertambahnya gedung, meningkatnya jumlah profesor, atau naiknya akreditasi. Yang lebih penting adalah tumbuhnya budaya mutu sebagai karakter institusi.
Budaya yang mendorong setiap dosen terus belajar, setiap tenaga kependidikan terus memperbaiki pelayanan, setiap program studi terus berbenah, dan setiap unsur kampus memiliki tanggung jawab yang sama dalam menjaga kualitas.
Karena pada akhirnya, perguruan tinggi yang besar bukan hanya diukur dari kemegahan bangunannya, melainkan dari kemampuan menjaga mutu, melahirkan ilmu pengetahuan, serta menghadirkan manfaat bagi masyarakat.
Di situlah jejak kepemimpinan Prof. Syarif menemukan maknanya, membangun sistem yang tetap hidup, berkembang, dan menjadi fondasi bagi perjalanan IAIN Pontianak menuju universitas Islam yang unggul dan berdaya saing internasional. (aep mulyanto)