Oleh: Letkol Inf Zulkarnaen Galib, Komandan Kodim 1203/Ketapang Dansatgas TMMD Reguler ke-127
KETAPANG, SP - Di bawah langit yang membentang luas di wilayah Kodim 1203/Ketapang, deru alat berat berpadu dengan tawa anak-anak desa dan sapaan hangat warga yang bergotong royong.
Di sanalah denyut kemanunggalan itu terasa begitu nyata, bukan sekadar slogan, melainkan napas kehidupan yang mengalir dari hati ke hati.
Komandan Kodim (Dandim) 1203/Ketapang, selaku Dansatgas TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) Reguler ke-127, Letkol Inf Zulkarnaen Galib, berdiri di tengah hamparan tanah yang perlahan berubah menjadi jalan penghubung harapan.
Seragam lorengnya berdebu, seakan menjadi saksi bahwa pengabdian tak pernah bersih dari keringat dan perjuangan.
Baginya, TMMD bukan sekadar program rutin atau agenda tahunan. Ia adalah jembatan, yang menghubungkan negara dengan rakyatnya, yang merapatkan jarak antara pusat dan pelosok.
“TMMD adalah bentuk nyata kemanunggalan TNI dengan rakyat. Kami tidak hanya membangun jalan atau rumah, tetapi juga membangun harapan, semangat, dan kepercayaan masyarakat bahwa negara hadir hingga ke pelosok,” tuturnya dengan suara tegas namun sarat ketulusan.
Di desa-desa sasaran TMMD Reguler ke-127, pembangunan fisik memang terlihat kasatmata. Jalan yang dahulu becek dan sulit dilalui kini mulai terbentang rapi.
Rumah-rumah yang sebelumnya rapuh perlahan berdiri lebih kokoh. Namun, yang tak selalu tertangkap mata adalah perubahan di dalam dada warga, rasa percaya yang tumbuh kembali, keyakinan bahwa mereka tidak berjalan sendirian.

Sejak pagi buta, para prajurit TNI dan warga telah menyatu dalam ritme kerja yang sama. Cangkul di tangan petani berdampingan dengan sekop di tangan tentara. Tak ada sekat, tak ada jarak. Hanya kebersamaan yang bekerja dalam diam, menyelesaikan satu demi satu sasaran kegiatan.
Seorang ibu paruh baya, dengan kerudung sederhana dan senyum tulus, menyuguhkan kopi hangat untuk para prajurit yang beristirahat sejenak. “Kami merasa diperhatikan,” ucapnya lirih. “Bukan hanya dibangunkan jalan, tapi juga diberi semangat.”
Letkol Inf Zulkarnaen Galib memahami betul bahwa keberhasilan TMMD bukanlah hasil kerja satu pihak. Ia tumbuh dari partisipasi aktif masyarakat yang dengan sukarela menyumbangkan tenaga, waktu, bahkan doa. Gotong royong menjadi ruh yang menghidupkan setiap langkah.
Ia menambahkan, keberhasilan program ini tidak lepas dari partisipasi aktif masyarakat yang dengan tulus bergotong royong di setiap sasaran kegiatan. Dalam kebersamaan itu, batas antara aparat dan warga melebur menjadi satu tujuan: membangun desa, membangun masa depan.
“Kekuatan terbesar bangsa ini ada pada kebersamaan. Ketika TNI dan rakyat bersatu, tidak ada yang tidak bisa kita wujudkan,” tegasnya.
Kalimat itu melayang di udara, menyatu dengan semilir angin yang membawa aroma tanah basah. Ia bukan sekadar pernyataan, melainkan keyakinan yang tumbuh dari pengalaman panjang pengabdian.

Makna Genggaman Tangan
TMMD Reguler ke-127 di Ketapang menjadi lebih dari sekadar proyek pembangunan. Ia adalah kisah tentang tangan-tangan yang saling menggenggam. Tentang peluh yang jatuh tanpa pamrih. Tentang senyum yang merekah di tengah keterbatasan.
Di ujung hari, ketika matahari mulai tenggelam dan bayangan memanjang di atas jalan yang baru dirintis, para prajurit dan warga duduk berdampingan. Lelah memang terasa, tetapi hati mereka penuh. Di sana, di antara debu dan cahaya senja, harapan tumbuh perlahan, seperti jalan yang kini membentang, membuka akses bukan hanya ke kota, tetapi juga ke masa depan yang lebih cerah.
Dan di setiap langkah yang mereka tempuh bersama, kemanunggalan itu terus hidup, menjadi bukti bahwa negara benar-benar hadir, hingga ke pelosok negeri.
Saat itu, langit pagi di Desa Selangkut Raya tampak cerah ketika upacara pembukaan TMMD Reguler ke-127 digelar. Di antara barisan prajurit berseragam loreng dan warga yang berdiri dengan wajah penuh harap, hadir pula Bupati Ketapang, Alexander Wilyo, S.STP., M.Si., yang membawa pesan yang tak sekadar seremoni, tetapi sarat makna tentang arah pembangunan.
Suasana terasa hangat, bukan hanya karena mentari yang perlahan meninggi, melainkan karena semangat kebersamaan yang menyatukan semua yang hadir. Program TMMD kembali membentangkan bukti bahwa pembangunan bukanlah milik kota semata.
Dalam sambutannya, Bupati Alex, menyampaikan apresiasi mendalam atas dedikasi TNI dan partisipasi aktif masyarakat dalam menyukseskan kegiatan tersebut.
“TMMD adalah bukti bahwa pembangunan tidak hanya berpusat di kota. Desa harus menjadi prioritas, karena dari desa inilah fondasi kemajuan daerah dan bangsa dibangun,” ujarnya, disambut anggukan dan tepuk tangan warga yang memadati lokasi kegiatan.
Bagi pemerintah daerah, TMMD bukan sekadar agenda kolaboratif, melainkan strategi nyata mempercepat pemerataan pembangunan. Desa Selangkut Raya menjadi contoh bagaimana sinergi mampu menghadirkan perubahan konkret, mulai dari infrastruktur yang lebih layak hingga tumbuhnya optimisme di tengah masyarakat.
Bupati juga menegaskan komitmen Pemerintah Kabupaten Ketapang untuk terus berjalan beriringan bersama TNI. Sinergi, menurutnya, adalah kunci agar setiap jengkal wilayah dapat merasakan sentuhan pembangunan.
“Kami menyampaikan terima kasih kepada Kodim 1203/Ketapang atas kerja nyata dan pengabdian yang tulus. Kolaborasi seperti inilah yang membawa perubahan konkret bagi masyarakat,” tambahnya.
Apresiasi itu bukan tanpa alasan. Di Desa Selangkut Raya, jejak TMMD Reguler ke-127 tak hanya terlihat pada jalan yang kini lebih mudah dilalui atau bangunan yang berdiri lebih kokoh.
Ia hidup dalam senyum warga yang menyaksikan perubahan di depan mata. Ia terasa dalam langkah anak-anak yang kini berangkat sekolah tanpa harus bergelut dengan jalan berlumpur. Ia berdenyut dalam percakapan-percakapan sederhana tentang masa depan yang mulai tampak lebih dekat.

Senyum Kulum Bapak Tua
Di sudut desa, seorang bapak tua memandangi jalan yang baru diratakan. “Sekarang kami lebih mudah membawa hasil kebun ke pasar,” tuturnya pelan, seolah tak ingin melewatkan momen yang selama ini dinanti.
TMMD, pada akhirnya, bukan sekadar tentang pembangunan fisik. Ia adalah tentang menghadirkan negara dalam wujud yang paling nyata, hadir mendengar, hadir bekerja, hadir bersama. Di Desa Selangkut Raya, kebersamaan antara TNI, pemerintah daerah, dan masyarakat menjelma menjadi kekuatan yang menggerakkan perubahan.
Dari desa yang sederhana ini, tersirat pelajaran besar: bahwa membangun Indonesia tidak selalu dimulai dari gedung-gedung tinggi atau proyek-proyek megah. Ia dimulai dari kepedulian, dari keberanian untuk menjangkau yang jauh, dan dari kebersamaan yang dirawat dengan tulus.
Dan di Ketapang, melalui TMMD Reguler ke-127, harapan itu kembali diteguhkan, bahwa desa adalah fondasi, dan ketika desa dibangun dengan hati, masa depan pun berdiri lebih pasti.

Harapan pada Padi Menguning
Kala terik matahari menggantung tepat di atas hamparan sawah Desa Selangkut Raya, Kecamatan Sungai Laur, Kabupaten Ketapang, Kalbar. Cahayanya memantul di genangan air dan tanah liat yang merekah, menyilaukan mata siapa pun yang menatapnya terlalu lama.
Di antara petak-petak padi yang mulai menguning, jalan tanah memanjang seperti gurat luka lama, berlubang, becek saat hujan, berdebu saat kemarau. Jalan itu bukan sekadar lintasan, melainkan urat nadi kehidupan desa.
Di pematang sawah, seorang ibu paruh baya berdiri dengan sehelai kain merah di tangan. “Syuh! Syuh!” serunya, mengusir burung pipit yang hendak mematuk bulir padi. Keringat membasahi pelipisnya, namun sorot matanya menyimpan keteguhan.
Ketika Dandim memperkenalkan diri sebagai bagian dari Satgas TMMD Reguler ke-127 Kodim 1203/Ketapang, ia tersenyum lirih. Di ujung senyum itu ada harapan yang lama terpendam.
Ia bercerita tentang musim hujan yang mengubah jalan desa menjadi kubangan lumpur. Tentang anak-anak yang harus mengangkat sepatu saat berangkat sekolah. Tentang hasil panen yang sulit diangkut karena kendaraan kerap terperosok. Jalan itu, katanya, sering kali lebih menyerupai rintangan daripada penghubung.
Di desa inilah program TMMD Reguler ke-127 Tahun 2026 hadir. Mengusung tema “TMMD Satukan Langkah Membangun Negeri dari Desa”, kegiatan ini bukan sekadar agenda rutin, melainkan perjumpaan antara negara dan rakyatnya di titik yang paling sunyi.
Upacara pembukaan berlangsung sederhana namun sarat makna. Warga berkumpul di lapangan desa, menyambut kehadiran pemerintah daerah dan jajaran TNI dengan wajah penuh harap.

Pengabdian Kolektif dan Kemanunggalan
Sejak hari pertama, deru mesin molen memecah kesunyian pagi. Semen, pasir, dan kerikil datang silih berganti. Prajurit TNI bersama warga memanggul material, mengayunkan sekop, dan meratakan adukan beton di atas jalan yang selama ini menjadi keluhan bersama.
Perlahan, permukaan tanah yang retak itu tertutup lapisan kokoh berwarna abu-abu. Jalan rabat beton sepanjang ratusan meter mulai membentang, diikuti pengerasan jalan utama yang selama ini menjadi akses vital menuju kebun dan sawah.
Anak-anak berdiri di tepi pekerjaan, mata mereka berbinar setiap kali molen berputar. Seorang bocah bertanya pada ibunya apakah sepedanya nanti bisa melaju tanpa terjebak lumpur. Sang ibu mengangguk pelan, menyembunyikan haru yang tak terucap.
Namun pengabdian itu tak berhenti pada jalan. Di sudut lain desa, sumur-sumur bor digali untuk menjawab kebutuhan dasar yang selama ini tak selalu terpenuhi: air bersih. Ketika semburan pertama muncul dari dalam tanah, sorak kecil anak-anak menggema.
Mereka membasuh wajah dengan tawa lepas, seakan menyambut babak baru kehidupan. Air yang jernih itu bukan hanya pelepas dahaga, melainkan simbol bahwa perhatian telah benar-benar tiba.
Rumah-rumah yang dulu reyot pun mulai berbenah. Dinding papan yang lapuk diganti dengan tembok yang kokoh. Atap bocor diperbarui. Lantai tanah disulap menjadi pijakan yang lebih layak.
Bagi keluarga yang selama ini tinggal dalam keterbatasan, perubahan itu terasa seperti mimpi yang menjelma nyata. Ada air mata yang jatuh saat kunci rumah baru diserahkan, ada doa yang terucap lirih di antara genggaman tangan yang gemetar.
Sementara itu, pembangunan fasilitas sanitasi dan perbaikan saluran air bersih memberi wajah baru bagi lingkungan desa. Jembatan yang sebelumnya rapuh kini diperkuat, gorong-gorong dibangun untuk memastikan aliran air tak lagi menggerus jalan. Tempat ibadah direnovasi agar umat dapat beribadah dengan lebih nyaman dan khusyuk.
Di sela pembangunan fisik, ruang-ruang pertemuan desa dipenuhi diskusi dan penyuluhan. Para ibu duduk berdampingan, menyimak penjelasan tentang pentingnya gizi seimbang dan pencegahan stunting.
Para petani berdialog tentang teknik budidaya yang lebih efektif dan ramah lingkungan. Generasi muda mendengarkan paparan tentang wawasan kebangsaan, bahaya narkoba, dan ancaman judi daring yang kian merambah hingga pelosok.
Percakapan-percakapan itu mungkin tak sekeras suara molen, tetapi gaungnya jauh lebih panjang. Ia menanam benih pengetahuan, menumbuhkan kesadaran bahwa membangun desa bukan hanya soal infrastruktur, melainkan juga soal memperkuat jiwa dan pikiran.
Di lahan yang sebelumnya terbengkalai, warga bersama prajurit membuka kembali tanah yang lama tak tergarap. Bibit ditanam, pohon-pohon keras dan buah disemai sebagai investasi masa depan. Tanah yang dulu sepi kini menjadi ladang harapan. Ketahanan pangan bukan lagi sekadar wacana, melainkan upaya nyata yang dirintis bersama.
Hari-hari berlalu dalam irama kerja dan kebersamaan. Seragam loreng para prajurit tak lagi bersih; debu, cipratan semen, dan noda tanah menjadi saksi dedikasi.
Namun tak satu pun keluh terucap. Gotong royong menjadi bahasa yang dipahami semua orang di Selangkut Raya. Di antara canda dan peluh, terjalin ikatan yang melampaui sekat profesi dan latar belakang.
Ketika upacara penutupan digelar, lapangan desa kembali dipenuhi warga. Tidak ada kemegahan berlebihan, hanya rasa bangga dan syukur yang mengalir hangat.
Program boleh saja berakhir secara administratif, tetapi jejaknya tertinggal di setiap sudut desa: pada jalan yang kini rata, pada air yang mengalir jernih, pada rumah yang lebih layak, pada pohon yang mulai tumbuh menantang langit.
Dari Desa Selangkut Raya, kita belajar bahwa membangun Indonesia tidak selalu dimulai dari gedung-gedung tinggi atau kota-kota besar. Ia sering kali bermula dari tempat yang jauh dari sorotan, dari desa yang sunyi namun sarat makna.
Dari tangan-tangan yang kotor oleh lumpur, dari keringat yang jatuh tanpa pamrih, dari pengabdian yang mungkin tak banyak diberitakan, tetapi terasa nyata bagi mereka yang merasakannya.
Di ujung Ketapang ini, harapan tidak lagi sekadar angan. Ia telah menjelma jalan yang bisa dilalui, air yang bisa diminum, rumah yang bisa dihuni, dan masa depan yang bisa dibayangkan dengan lebih terang.
TMMD Reguler ke-127 bukan hanya membangun desa. Ia menyalakan keyakinan bahwa negara hadir, bahwa kebersamaan adalah kekuatan, dan bahwa dari kesunyian pun, Indonesia bisa tumbuh dengan kokoh.
Program TMMD, sekali lagi bukan sekadar pembangunan infrastruktur, melainkan gerakan kolektif membangkitkan harapan. Bersama warga, Satgas TMMD bekerja dari pagi hingga senja, memadukan tenaga, pikiran, dan doa demi masa depan desa yang lebih baik.
Di Desa Selangkut Raya, TMMD Reguler ke-127 bukan sekadar program pembangunan. Ia adalah denyut kebersamaan, jembatan antara negara dan rakyatnya, serta bukti bahwa perubahan dapat dimulai dari desa.
Di antara suara cangkul dan deru molen, di bawah panas matahari dan peluh yang jatuh, tumbuh keyakinan baru: bahwa dari desa yang sederhana, Indonesia dapat berdiri semakin kuat.

Rumah Layak Huni, Mengembalikan Martabat Keluarga
Salah satu sasaran utama adalah pembangunan 10 unit Rumah Tidak Layak Huni (RTLH). Rumah-rumah yang sebelumnya berdinding papan lapuk, beratap bocor, dan berlantai tanah kini berdiri lebih kokoh dan sehat untuk dihuni.
Bagi keluarga penerima manfaat, rumah bukan sekadar tempat berteduh, tetapi ruang untuk membangun harapan baru. Anak-anak dapat belajar dengan lebih nyaman, orang tua beristirahat tanpa khawatir hujan menetes dari atap. Pembangunan RTLH ini menjadi simbol hadirnya negara dalam menjaga martabat warganya.
MCK dan Air Bersih, Pondasi Kesehatan Desa
Sebanyak 10 unit MCK dibangun untuk meningkatkan sanitasi masyarakat. Fasilitas ini menjadi langkah penting dalam menciptakan lingkungan yang lebih sehat dan bersih.
Selain itu, 10 titik rehabilitasi pipa air bersih dilakukan untuk memastikan distribusi air berjalan lancar. Warga yang sebelumnya kesulitan mendapatkan air bersih kini dapat merasakan kemudahan akses setiap hari. Ketersediaan air yang memadai menjadi pondasi penting bagi peningkatan kualitas hidup masyarakat.
Gorong-Gorong dan Jembatan, Menguatkan Akses Kehidupan
Pembangunan satu unit gorong-gorong dan rehabilitasi satu unit jembatan menjadi bagian vital dalam memperbaiki infrastruktur desa.
Gorong-gorong yang dibangun membantu mengendalikan aliran air agar tidak merusak badan jalan saat musim hujan tiba. Sementara jembatan yang direhabilitasi kini kembali kokoh, mempermudah mobilitas warga dalam mengangkut hasil pertanian dan menjalankan aktivitas sehari-hari.
Akses yang lancar berarti roda ekonomi desa dapat berputar lebih baik.
Rehabilitasi Gereja, Merawat Harmoni dan Spiritualitas
TMMD juga menyentuh aspek spiritual masyarakat melalui rehabilitasi satu unit gereja. Tempat ibadah yang sebelumnya mengalami kerusakan kini diperbaiki agar jemaat dapat beribadah dengan aman dan nyaman.
Langkah ini mencerminkan komitmen bahwa pembangunan tidak hanya menyentuh fisik, tetapi juga memperkuat nilai-nilai kebersamaan dan toleransi yang telah lama hidup di tengah masyarakat.
Lahan Pangan dan Penanaman Pohon, Investasi Masa Depan
Dalam mendukung ketahanan pangan, lahan seluas 5 hektare digarap sebagai lahan produktif. Bersama warga, Satgas TMMD mengolah tanah dan menanam komoditas pangan yang diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Tak hanya itu, dilakukan pula penanaman 1.000 pohon keras dan buah serta kegiatan pembersihan lingkungan. Penanaman ini bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan investasi jangka panjang untuk menjaga kelestarian alam sekaligus memberi manfaat ekonomi di masa depan.
Lingkungan yang hijau menjadi warisan berharga bagi generasi berikutnya.
Penyuluhan Bela Negara, Menanamkan Cinta Tanah Air
Di luar pembangunan fisik, TMMD Reguler ke-127 juga menggelar penyuluhan Bela Negara. Kegiatan ini bertujuan menanamkan semangat nasionalisme serta kesadaran akan pentingnya menjaga keutuhan bangsa.
Melalui dialog interaktif, masyarakat diajak memahami bahwa membela negara dapat diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari menjaga persatuan hingga berkontribusi positif bagi lingkungan sekitar.
Wawasan Kebangsaan, Memperkuat Persatuan
Penyuluhan Wawasan Kebangsaan (Wasbang) menjadi ruang edukasi untuk memperkokoh nilai persatuan dan kesatuan. Generasi muda khususnya didorong untuk memahami sejarah perjuangan bangsa serta pentingnya menjaga harmoni dalam keberagaman.
Kegiatan ini mempertegas bahwa desa yang kuat adalah desa yang masyarakatnya memiliki semangat kebangsaan yang kokoh.
Penyuluhan Pertanian, Meningkatkan Produktivitas
Para petani mendapatkan penyuluhan pertanian guna meningkatkan hasil panen dan efisiensi pengelolaan lahan. Materi yang diberikan mencakup teknik budidaya, pengendalian hama, hingga pengelolaan hasil pertanian.
Dengan pengetahuan yang lebih baik, petani diharapkan mampu meningkatkan produktivitas sekaligus memperkuat ketahanan pangan desa.
Penyuluhan Bahaya Narkoba dan Judi Online, Menjaga Generasi
Ancaman narkoba dan judi online kini menjangkau hingga pelosok desa. Melalui penyuluhan khusus, masyarakat diberi pemahaman tentang dampak negatif serta cara pencegahannya.
Kegiatan ini menjadi benteng moral agar generasi muda tidak terjerumus pada perilaku yang merusak masa depan.
Penyuluhan Karhutla, Mencegah Bencana Sejak Dini
Sebagai wilayah yang rentan terhadap kebakaran hutan dan lahan, Desa Selangkut Raya mendapat penyuluhan tentang pencegahan karhutla. Warga diajak memahami pentingnya menjaga lingkungan dan tidak membuka lahan dengan cara membakar.
Kesadaran kolektif ini menjadi langkah penting dalam menjaga kelestarian alam sekaligus mencegah bencana.
Penyuluhan Stunting, Menjaga Masa Depan Anak Bangsa
Melalui penyuluhan stunting, para ibu dibekali pengetahuan tentang gizi seimbang, pola asuh, dan pentingnya pemeriksaan kesehatan rutin bagi balita.
Upaya ini bertujuan memastikan anak-anak desa tumbuh sehat dan optimal. Karena masa depan bangsa ditentukan oleh kualitas generasi mudanya hari ini. (aep mulyanto)