Ponticity post author Kiwi 02 Oktober 2026

Wisuda ke-38 UPB Luluskan 746 Mahasiswa: Momentum Regenerasi Kepemimpinan dan Penguatan Kampus Ekologis, Rektor Purwanto Pamit

Photo of Wisuda ke-38 UPB Luluskan 746 Mahasiswa: Momentum Regenerasi Kepemimpinan dan Penguatan Kampus Ekologis, Rektor Purwanto Pamit

PONTIANAK, SP - Sebanyak 746 mahasiswa Universitas Panca Bhakti (UPB) Pontianak resmi menyandang gelar sarjana dan pascasarjana dalam Rapat Terbuka Senat Wisuda XXXVIII UPB, Kamis (1/10/2026). Selain menjadi momentum kelulusan bagi para mahasiswa, prosesi wisuda yang bertepatan dengan peringatan HUT ke-42 UPB tersebut juga menjadi penanda berakhirnya masa kepemimpinan Dr. Purwanto, S.H., M.Hum., FCBArb., FIIArb., sebagai rektor.

Di tengah suasana haru para wisudawan dan keluarga, Dr. Purwanto untuk terakhir kalinya memimpin prosesi wisuda dalam kapasitasnya sebagai Rektor UPB setelah menjalani dua periode kepemimpinan yang kemudian diperpanjang.

Purwanto mengatakan dirinya memilih tidak memperpanjang kembali masa jabatan tersebut dan menyerahkan tongkat estafet kepemimpinan kepada generasi berikutnya.

"Saya sebenarnya sudah dua periode, kemarin juga sudah ditambah, ya cukuplah, jangan ditambah lagi," ujar Purwanto seusai prosesi wisuda.

Menurutnya, pergantian kepemimpinan merupakan bagian dari proses regenerasi yang harus berlangsung secara sehat di lingkungan perguruan tinggi. Ia optimistis berbagai program yang telah dibangun selama masa kepemimpinannya dapat dilanjutkan oleh rektor berikutnya karena seluruh program tersebut bukan semata-mata hasil kerja pribadi, melainkan dibangun melalui proses bersama di lingkungan UPB.

"Saya yakin yang meneruskan kepemimpinan saya nantinya yang sungguh sangat tahu bagaimana perjuangan kita dan program-program yang selama ini didiskusikan, dan saya yakin ini akan berkelanjutan," katanya.

Wisuda kali ini sekaligus menjadi ruang refleksi terhadap perkembangan UPB selama beberapa tahun terakhir. Purwanto menyebut perkembangan tersebut antara lain terlihat dari bertambahnya jumlah program studi dan mahasiswa.

Jika sebelumnya UPB memiliki enam program studi, kini jumlahnya telah berkembang menjadi 12 program studi. Sementara jumlah mahasiswa yang sebelumnya berada di kisaran 7.000 orang, kini mencapai sekitar 10.000 mahasiswa.

Pertumbuhan tersebut menjadi bagian dari dinamika UPB dalam memperluas layanan pendidikan tinggi di Kalimantan Barat. Namun, bagi Purwanto, pertumbuhan jumlah mahasiswa dan program studi harus berjalan beriringan dengan penguatan kualitas akademik, tata kelola serta jejaring kerja sama.

Karena itu, meski tidak lagi menjabat sebagai rektor, ia memastikan perhatian terhadap perkembangan UPB tidak akan berhenti. Aktivitasnya ke depan kemungkinan lebih banyak berlangsung di Jakarta, tetapi jejaring nasional dan internasional yang telah dibangun selama ini akan tetap dimanfaatkan untuk mendukung pengembangan kampus.

"Kami mungkin nanti akan banyak berkiprah di Jakarta, tapi itu tetap menjadi konsen perhatian kami keberadaan UPB. Jaringan-jaringan kita maksimalkan, seperti sambutan yang disampaikan Pak Wakil Gubernur, bahwa optimalisasi jejaring itu mutlak suatu keniscayaan di masa sekarang," ungkapnya.

Dari Wisuda Menuju Pengabdian kepada Daerah

Dalam pidatonya di hadapan para wisudawan, Purwanto tidak hanya berbicara mengenai keberhasilan menyelesaikan pendidikan, tetapi juga menitipkan pesan agar ilmu yang diperoleh di kampus tidak berhenti menjadi modal pribadi untuk mencari pekerjaan.

Ia meminta para lulusan menjadi sarjana yang "berakar, merawat, dan pulang".

Menurut Purwanto, menjadi sarjana yang berakar berarti tetap menjadikan Pancasila dan kearifan lokal Kalimantan Barat sebagai bagian dari identitas ketika memasuki dunia profesional maupun kehidupan sosial.

"Pertama, jadilah sarjana yang berakar. Ilmu setinggi langit tapi jangan lupa akar. Akar kita adalah Pancasila, akar kita adalah kearifan lokal Kalimantan Barat. Bangunlah Kalimantan Barat dengan jiwa Kalimantan Barat," tuturnya.

Pesan tersebut kemudian dikaitkan dengan visi UPB untuk memperkuat identitas sebagai "Kampus Ekologis" di Kalimantan Barat. Purwanto mengingatkan para lulusan agar ilmu yang dimiliki tidak hanya digunakan untuk mengejar keuntungan ekonomi, tetapi juga mempertimbangkan keberlanjutan lingkungan.

Ia secara khusus memberikan penekanan kepada lulusan dari berbagai bidang agar melihat persoalan pembangunan secara lebih luas. Sarjana hukum, misalnya, diharapkan dapat ikut mengawal keadilan ekologis, sementara sarjana ekonomi tidak hanya menghitung keuntungan dan kerugian secara finansial, tetapi juga memperhitungkan dampak ekologis dari setiap keputusan ekonomi.

"Jadilah sarjana yang pulang. Pulang untuk mengabdi dan membangun daerah. Sukses sejatinya adalah ketika ilmu kalian membuat kampung halaman kalian di Sintang, di Sambas, di Ketapang, di Melawi, di Landak, di Bengkayang, di Kayong, dan di daerah-daerah kabupaten lain menjadi lebih sejahtera tanpa harus merusak alam," tegasnya.

Pesan tersebut terasa semakin relevan karena prosesi wisuda berlangsung ketika sejumlah wilayah Kalimantan Barat masih menghadapi persoalan kabut asap. Bagi UPB, persoalan lingkungan tidak semestinya hanya menjadi tema penelitian atau diskusi akademik, tetapi harus menjadi bagian dari kesadaran lulusan ketika mereka kembali ke tengah masyarakat.

Perkuat Kajian Krisis dan Mitigasi Bencana

Komitmen terhadap isu ekologis juga diarahkan pada pengembangan kapasitas akademik kampus.

Purwanto mengungkapkan UPB mendapat kepercayaan dari pemerintah pusat melalui Bappenas untuk menjadi pelopor pengembangan pusat kajian yang berkaitan dengan krisis, mitigasi bencana lingkungan dan penataan kawasan.

Sejumlah akademisi dan pakar UPB telah dilibatkan untuk merancang kelembagaan tersebut. Kajian yang dikembangkan diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap persoalan yang dihadapi Kalimantan Barat, termasuk mitigasi kebakaran hutan dan lahan serta berbagai persoalan lingkungan lainnya.

"Beberapa waktu yang lalu kami mengirim beberapa pakar di kampus kita ini untuk mendesain hadirnya kelembagaan seperti pusat kajian krisis yang terkait dengan mitigasi dan penataan kebencanaan, dan UPB pionirnya untuk itu," jelas Purwanto.

Dengan pengembangan tersebut, UPB ingin menempatkan perguruan tinggi bukan hanya sebagai tempat berlangsungnya proses pendidikan, tetapi juga sebagai pusat pengetahuan yang dapat membantu pemerintah dan masyarakat menghadapi persoalan nyata.

Di sinilah pesan Purwanto kepada para wisudawan menemukan konteksnya. Lulusan tidak hanya diminta membawa pulang ijazah, tetapi juga membawa pengetahuan untuk menjawab persoalan daerah.

Imbangi Kemampuan Bersosialisasi

Sementara itu, Wakil Gubernur Kalimantan Barat Krisantus Kurniawan yang hadir dalam prosesi wisuda mengingatkan para lulusan bahwa keberhasilan memasuki dunia kerja tidak hanya ditentukan oleh kemampuan akademik.

Menurutnya, IPK yang tinggi perlu diimbangi kemampuan membangun komunikasi, bersosialisasi dan memperluas jaringan.

Ia menggambarkan bahwa persaingan di dunia kerja jauh lebih luas dibandingkan persaingan ketika masih berada di bangku kuliah.

"Kalau di universitas ini saingannya hanya dalam satu jurusan. Siapa yang mendapat IPK tertinggi. Tapi ketika kita keluar dari universitas ini, saingannya, kompetitornya, sudah tidak bisa dihitung lagi," ujarnya.

Karena itu, Krisantus meminta para lulusan, termasuk mereka yang memperoleh predikat cumlaude, tidak menutup diri dari lingkungan sosial.

Menurutnya, kemampuan akademik dan jejaring sosial merupakan dua hal yang harus berjalan bersama.

"Kemampuan akademik dan pergaulan kita di luar adalah dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan," katanya.

Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa pendidikan tinggi pada akhirnya tidak hanya mempersiapkan seseorang untuk memperoleh pekerjaan, tetapi juga membentuk kemampuan untuk berinteraksi, beradaptasi dan memberikan kontribusi di tengah masyarakat.

Wisuda dan Regenerasi

Bagi Dr. Purwanto, Wisuda XXXVIII UPB memiliki makna yang lebih dalam dibandingkan sekadar seremoni akademik. Sebanyak 746 lulusan meninggalkan kampus dengan tantangan baru, sementara dirinya meninggalkan jabatan rektor setelah dua periode kepemimpinan.

Dua peristiwa tersebut bertemu dalam satu momentum: regenerasi.

Para wisudawan memasuki fase baru dalam kehidupan, sementara UPB juga bersiap memasuki fase kepemimpinan baru.

Selama masa kepemimpinannya, perkembangan UPB tercermin antara lain dari bertambahnya program studi dari enam menjadi 12 serta pertumbuhan jumlah mahasiswa hingga sekitar 10.000 orang.

Di sisi lain, kampus juga berupaya memperluas jejaring dan mengembangkan bidang kajian yang berkaitan dengan persoalan lingkungan dan kebencanaan.

Namun, Purwanto menyadari bahwa keberlanjutan perguruan tinggi tidak boleh bergantung pada satu figur.

Karena itu, pergantian kepemimpinan justru harus menjadi kesempatan untuk melanjutkan sekaligus memperkuat berbagai program yang telah dibangun.

Di penghujung masa jabatannya, ia pun memilih meninggalkan pesan yang lebih jauh daripada sekadar capaian institusi: agar para lulusan menggunakan ilmu untuk membangun daerah dan menjaga lingkungan.

Pesan tersebut menjadi relevan bagi Kalimantan Barat yang memiliki wilayah luas, sumber daya alam yang besar dan tantangan ekologis yang kompleks.

Wisuda akhirnya bukan sekadar penanda bahwa 746 mahasiswa telah menyelesaikan pendidikan. Ia menjadi pengingat bahwa ilmu yang diperoleh di ruang kelas baru memiliki makna ketika kembali digunakan untuk menjawab persoalan kehidupan.

Bagi UPB, perjalanan itu akan berlanjut bersama kepemimpinan baru. Bagi Dr. Purwanto, perjalanan pengabdian juga memasuki babak berbeda.

Namun, satu pesan yang ditinggalkan dalam prosesi terakhirnya sebagai rektor terdengar cukup jelas, ilmu tidak boleh tercerabut dari akar, pembangunan tidak boleh mengabaikan alam, dan keberhasilan seorang sarjana pada akhirnya tidak hanya diukur dari sejauh mana ia mencapai kesuksesan pribadi, tetapi juga dari seberapa besar manfaat yang dapat diberikan kepada daerah asalnya.

Prosesi Wisuda XXXVIII UPB pun ditutup dengan optimisme bahwa regenerasi kepemimpinan dan lahirnya 746 lulusan baru dapat menjadi bagian dari perjalanan panjang perguruan tinggi tersebut dalam memperkuat sumber daya manusia dan memberikan kontribusi bagi Kalimantan Barat. (*)

Keywords

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda