Opini post author Kiwi 02 Oktober 2026

Menyalakan Obor Kemandirian: Warisan Sang Bankir Legendaris di Usia ke-36 UM Pontianak

Photo of Menyalakan Obor Kemandirian: Warisan Sang Bankir Legendaris di Usia ke-36 UM Pontianak

Oleh: H. Nilwani Hamid, M. Pd / Wakil Ketua PWM Kalbar / Dosen UM Pontianak

TULISAN ini dipersembahkan dalam rangka memperingati Milad ke-36 Universitas Muhammadiyah Pontianak (UM Pontianak) yang jatuh pada tanggal 3 Oktober 2026.

Di usianya yang matang ini, menengok kembali jejak para pendiri dan perintis bukan sekadar nostalgia sejarah, melainkan upaya merawat api semangat pengabdian.

Di balik kemegahan kampus saat ini, tersimpan kisah visioner seorang bankir legendaris yang meletakkan batu-batu kemandirian dengan taruhan nama dan integritas pribadinya.

Membangun sebuah institusi pendidikan tinggi di tanah Borneo pada dekade akhir abad ke-20 bukanlah perkara membalikkan telapak tangan. Ia membutuhkan lebih dari sekadar proposal pendirian; ia menuntut ketulusan jiwa, keberanian mengambil risiko, dan visi jangka panjang yang melampaui zamannya.

Ketika kita merayakan Milad ke-36 Universitas Muhammadiyah Pontianak (UM Pontianak) pada 3 Oktober 2026 ini, memori kolektif kita mau tak mau akan dibawa pada sosok-sosok perintis yang mewakafkan hidupnya bagi kemajuan umat. Salah satu arsitek paling monumental di balik berdirinya kampus ini adalah Drs. H. Nurdin.

Lahir di Nanga Pinoh, hulu Sungai Kapuas, pada 6 Juni 1932, perjalanan hidup Nurdin kecil adalah sebuah epik tentang ketekunan. Di era 1950-an, menembus jarak dari pedalaman Sintang ke Pontianak membutuhkan waktu hampir seminggu menggunakan motor air.

Namun, arus sungai yang deras tak pernah surut memadamkan cita-citanya. Ia melangkah lebih jauh hingga menembus Fakultas Ekonomi Manajemen Universitas Indonesia (UI).

Menyandang gelar sarjana ekonomi dari kampus oranye di era tersebut adalah sebuah pencapaian prestisius.

Menariknya, alih-alih memilih kenyamanan berkarier di ibu kota negara, panggilan jiwa anak kampung hulu ini membawanya pulang untuk membangun tanah kelahirannya.

Pada tahun 1964, ketika Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat membutuhkan fondasi ekonomi yang kuat, H. Nurdin ditunjuk sebagai konseptor sekaligus Direktur Utama pertama PT Bank Pembangunan Daerah Kalimantan Barat (Bank Kalbar). Dari sebuah kantor sederhana, ia menempa lembaga keuangan tersebut menjadi pilar penopang perekonomian daerah.

Namun, dedikasi H. Nurdin tidak berhenti di sektor finansial formal. Naluri keumatannya bergolak ketika melihat kondisi awal Universitas Muhammadiyah Pontianak (UMP) yang lahir pada tahun 1990.

Pada masa-masa awal kelahirannya, UMP masih menumpang dan berpindah-pindah ruang kuliah di Kompleks Perguruan Muhammadiyah Jalan Ahmad Yani.

Bagi seorang Nurdin, kondisi ini memicu sebuah kegelisahan mendasar: "Muhammadiyah harus punya kampus sendiri. Kalau pinjam terus, kapan mandirinya?"

Gagasan besar kerap kali berbenturan dengan kenyataan finansial yang terbatas. Ketika ia mengusulkan untuk membeli Gedung GELORA 9 September, sebuah gedung eks GOR bulutangkis milik Bapak Abang Yunus di Jalan Ahmad Yani yang sangat strategis, proyeksi angka Rp350 juta pada masa itu memicu perdebatan alot di tubuh Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Kalbar.

Di sinilah ketegasan dan wibawa seorang bankir sejati diuji. Mantan Rektor UMP, Drs. H. Abdussamad, M.Pd., mengenang bagaimana H. Nurdin dengan gagah berani menyatakan, "Saya siap pasang badan menjadi personal garansi untuk akad kredit ini."
Berkat jaminan pribadi, jaringan birokrasi yang kuat (termasuk peran strategisnya mengawal izin melalui Kopertis), serta semangat kolektif warga Muhammadiyah dalam menggalang infak, zakat, dan wakaf, pinjaman tersebut akhirnya dapat dilunasi sepenuhnya.

UMP resmi memiliki "rumah" sendiri, tempat di mana benih-benih intelektual berkemajuan disemai hingga hari ini.

Kini, setiap kali azan berkumandang di kompleks Kampus UM Pontianak, nama besar beliau diabadikan melalui Masjid Nuruddin, mengalirkan pahala jariyah yang tak pernah putus bagi sang arsitek kemandirian.

Refleksi dari 36 tahun perjalanan UM Pontianak mengajarkan kita bahwa sebuah institusi besar tidak dibangun di atas fondasi beton semata, melainkan di atas pengorbanan, integritas, dan keberanian mengambil keputusan besar dari para pendahulunya.

Keteladanan Drs. H. Nurdin membuktikan bahwa profesionalisme di sektor modern (perbankan) dapat berpadu sempurna dengan keikhlasan berkhidmat dalam dakwah berkemajuan.

Selamat Milad ke-36 UM Pontianak; semoga api semangat Sang Bankir Legendaris terus menyala dalam mencetak generasi cerdas dan berintegritas bagi bangsa. (Nil 2102026)

Keywords

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda