Oleh: Ahmad Jais / Dosen IAIN Pontianak, Kalimantan Barat / Founder & Master Trainer, Mind Healing Technique of Indonesia | [email protected] | www.mhtindonesia.com
"Peradaban tidak diwariskan lewat darah, melainkan lewat nilai yang terus dihidupkan oleh generasi yang datang setelahnya." (Ibnu Khaldun, gagasan dari Muqaddimah, abad ke-14 M)
Hari ini, Kamis 1 Oktober 2026, bangsa Indonesia kembali memperingati Hari Kesaktian Pancasila, momen tahunan yang bagi sebagian anak muda terasa seperti seremoni yang berjarak dari layar ponsel yang mereka genggam sepanjang hari.
Ketika linimasa dipenuhi tren dua puluh detik, konten yang berganti lebih cepat dari kedipan mata, wajar muncul pertanyaan jujur dari generasi ini: masih relevankah lima sila yang dulu dihafal di bangku sekolah?
Pertanyaan ini sesungguhnya bukan tanda ketidakpedulian, melainkan tanda kejujuran, generasi mana pun berhak bertanya apakah nilai warisan leluhurnya masih berbicara dalam bahasa zamannya.
Dan jawabannya ternyata ada, bukan di tugu peringatan, melainkan di setiap pilihan kecil yang dibuat generasi muda saat membuka aplikasi favoritnya.
Rasulullah saw sendiri mewariskan nilai bukan dengan memaksakan bentuk lama pada zaman baru, melainkan dengan menghidupkan esensinya pada setiap generasi yang berbeda.
Ketika ditanya tentang siapa muslim terbaik, beliau tidak menjawab dengan kriteria usia atau senioritas, melainkan dengan kriteria yang berlaku sepanjang masa. Beliau bersabda, "Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik akhlaknya." (HR. Bukhari)
Kriteria ini tidak pernah kedaluwarsa, sebab akhlak baik selalu punya wujud baru di setiap zaman, dahulu berupa kejujuran di pasar Madinah, kini bisa berupa kejujuran saat membagikan informasi di linimasa.
Allah Swt berfirman, "Sesungguhnya Kami telah memuliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di darat dan di laut, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik, dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan." (QS. Al-Isra: 70).
Ayat ini bagaikan pengingat bahwa kemuliaan manusia, dasar dari sila kemanusiaan yang adil dan beradab, bukan konsep usang, melainkan kebenaran yang berlaku di kapal dagang Arab abad ketujuh maupun di kolom komentar TikTok abad kedua puluh satu, sebab yang berubah hanyalah wadahnya, bukan nilai yang dikandungnya.
Kisah Usamah bin Zaid ra memberikan gambaran indah tentang bagaimana nilai lama tetap relevan di tangan generasi muda. Diangkat sebagai panglima pasukan oleh Rasulullah saw di usia yang masih sangat belia, sekitar delapan belas tahun, banyak sahabat senior yang meragukan kepemimpinannya.
Namun Rasulullah saw menegaskan kepercayaannya, dan Usamah ra pun membuktikan bahwa usia muda bukan penghalang untuk memegang amanah besar, asalkan nilai yang dipegangnya kokoh.
Kisah ini menjadi bukti bahwa generasi muda di setiap zaman, termasuk Gen Z hari ini, sesungguhnya memiliki kapasitas yang sama untuk menjadi penjaga nilai, bukan sekadar penerima warisan yang pasif.
Sebagai penguat, terdapat kata hikmah dari Umar bin Khattab ra, "Didiklah anak-anak kalian, sebab mereka diciptakan untuk zaman yang berbeda dari zaman kalian."
Kata hikmah ini menegaskan bahwa kekhawatiran generasi tua terhadap cara generasi muda menghidupkan nilai lama dalam wadah baru adalah hal yang wajar, namun bukan alasan untuk berputus asa sebab setiap zaman memang berhak menerjemahkan nilai abadi dengan bahasanya sendiri.
Pertanyaannya kini, dalam bahasa apa Gen Z bisa menghidupkan Pancasila? Jawabannya sederhana: dalam bahasa yang sudah mereka kuasai sehari-hari. Sila pertama hidup ketika seorang kreator konten memilih tidak mengolok keyakinan orang lain demi viral.
Sila kedua hidup ketika seorang siswa memilih tidak ikut merundung temannya di grup kelas. Sila ketiga hidup ketika algoritma yang memisahkan justru dilawan dengan kesadaran untuk tetap berteman lintas kelompok. Sila keempat hidup ketika perdebatan di kolom komentar diakhiri dengan kesediaan mendengar, bukan memblokir.
Sila kelima hidup ketika donasi digital dan gerakan solidaritas daring menjangkau mereka yang membutuhkan tanpa pandang golongan. Allah Swt menuntun arah ini dengan firman-Nya, "Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran." (QS. Al-Ma'idah: 2).
Jadilah seperti benih yang dibawa angin ke tanah yang jauh dari pohon induknya, namun tetap tumbuh menjadi pohon yang sama kokohnya, sebab yang penting bukan di mana ia jatuh, melainkan apa yang ia bawa di dalamnya.
Jadilah pula seperti nyala lilin yang dipindahkan dari satu sumbu ke sumbu lain tanpa pernah kehilangan apinya, sebagaimana nilai kebangsaan yang berpindah dari generasi ke generasi tanpa kehilangan cahayanya, sekalipun wadahnya terus berganti.
Ingatlah bahwa kelak setiap generasi akan ditanya bagaimana mereka merawat warisan yang dititipkan kepadanya, apakah dihidupkan dalam bahasa zamannya, ataukah dibiarkan layu karena dianggap tak lagi relevan.
Ya Allah, hidupkanlah nilai-nilai kebangsaan dalam hati generasi muda kami, ajarkan mereka menerjemahkan kebaikan lama ke dalam bahasa zamannya sendiri, dan jadikanlah setiap jejak digital mereka sebagai wujud nyata dari sila-sila yang mereka warisi. Amin. (*)