PONTIANAK, SP - Wajah-wajah dari berbagai latar belakang berkumpul di Sekretariat Forum Relawan Kemanusiaan Pontianak (FRKP), Jalan Purnama Kota Pontianak, Senin (28/9/2026) malam WIB.
Ada pemimpin daerah, tokoh adat, cendekiawan, tokoh agama, para bruder, suster, pastor, relawan, komunitas, jemaat dan umat yang datang bukan hanya untuk merayakan ulang tahun Bruder Stephanus Paiman, OFMCap, tetapi juga untuk mensyukuri perjalanan 21 tahun FRKP dan delapan tahun FRKP West Borneo Vespa Lovers.
Malam itu menjadi semakin istimewa karena di tengah rangkaian syukuran tersebut diluncurkan buku “21 Tahun FRKP Berkarya”, yang berjudul “Bruder Stephanus Paiman, OFMCap: Ketua FRKP, Aplikasi Moderasi Beragama, Humanisme Lintas Budaya Wajah Gereja Katolik”, sebuah catatan perjalanan yang merekam jejak para Relawan Kemanusiaan yang berkumpul di FRKP, terutama dalam merawat persaudaraan, kemanusiaan, kepedulian sosial dan lingkungan selama lebih dari dua dekade.
Bagi Bruder Stephanus, kehadiran para tokoh dan seluruh umat yang datang menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari makna perayaan tersebut.
Ia menyampaikan terima kasih kepada Wakil Gubernur Kalimantan Barat (Kalbar), Krisantus Kurniawan, para tokoh daerah, tokoh adat, cendekiawan, tokoh agama, para bruder, suster, pastor, relawan, komunitas, serta seluruh jemaat dan umat yang telah meluangkan waktu untuk hadir.
“Terima kasih kepada Bapak Wakil Gubernur yang sudah meluangkan waktu untuk hadir, juga kepada seluruh tokoh, para bruder, suster, pastor, umat dan jemaat serta semua yang sudah bersama-sama hadir dalam perayaan ini,” ujar Bruder Stephanus.
Baginya, usia 64 tahun bukan sekadar pertambahan angka, melainkan anugerah Tuhan sekaligus kesempatan untuk melihat kembali perjalanan panggilan dan pelayanan yang telah dilalui, sementara 21 tahun FRKP dan delapan tahun FRKP West Borneo Vespa Lovers menjadi bagian dari perjalanan kebersamaan yang dibangun bersama banyak orang.
“Usia 64 tahun ini adalah anugerah Tuhan. Saya hanya meminta didoakan agar tetap sehat dan setia dalam panggilan melayani Tuhan dan sesama, terutama mereka yang membutuhkan,” katanya.
Dari Misa Syukur hingga Peluncuran Buku
Perayaan diawali dengan Misa Syukur yang dipimpin Administrator Apostolik Keuskupan Agung Pontianak sekaligus Uskup Sintang, Mgr Samuel Oton Sidin OFMCap.
Mgr Samuel Oton didampingi Vikaris Jenderal Keuskupan Agung Pontianak RD Alexius Alex, Pastor Pionius Hendi OFMCap selaku Sekretaris Kapusin Provinsi Pontianak, serta Pastor Innocentius Sialim OFMCap, Pastor Paroki Gembala Baik.
Dalam homilinya, Mgr Samuel mengajak umat melihat kembali makna iman yang tidak boleh berhenti pada pengetahuan atau sekadar menjadi identitas keagamaan, tetapi harus menemukan bentuknya dalam doa, kehidupan dan pelayanan kepada sesama.
Mgr Samuel mengambil teladan Santo Padre Pio dari Pietrelcina, seorang imam Kapusin yang dikenal memiliki kehidupan doa yang mendalam. Ia mengutip ungkapan Padre Pio, “Dalam kitab-kitab kita mencari Tuhan, dalam doa kita menemukan-Nya. Doa adalah kunci yang membuka hati Tuhan.”
Menurut Mgr Samuel, seseorang dapat membaca banyak buku tentang Tuhan, memahami Kitab Suci dan mengetahui berbagai ajaran agama, tetapi pengetahuan tersebut tidak dengan sendirinya menunjukkan kedalaman iman apabila tidak mengubah cara seseorang menjalani kehidupannya.
Iman, kata dia, perlu dibawa ke dalam doa dan kemudian diwujudkan dalam tindakan nyata.
Dalam konteks perjalanan Bruder Stephanus, pesan tersebut menemukan relevansinya karena kehidupan dan pelayanan seorang religius tidak hanya berbicara mengenai apa yang diyakini, tetapi juga bagaimana keyakinan itu diwujudkan melalui pengabdian kepada Gereja, masyarakat dan lingkungan.
“Iman tidak berhenti pada apa yang diketahui tentang Tuhan. Iman menemukan kedalamannya ketika menjadi doa, membentuk kehidupan, dan berbuah dalam pelayanan kepada sesama,” demikian inti pesan Mgr Samuel dalam homilinya.
Pesan tersebut sekaligus menjadi refleksi bagi perjalanan FRKP selama 21 tahun, sebab forum tersebut selama ini menjadi ruang bagi para relawan untuk menerjemahkan kepedulian ke dalam tindakan nyata melalui berbagai kegiatan sosial, kemanusiaan, lingkungan dan pelayanan kepada masyarakat.
Setelah misa, rangkaian acara dilanjutkan dengan syukuran dan peluncuran buku “21 Tahun FRKP Berkarya”.
Peluncuran buku menjadi salah satu momen penting malam itu karena perjalanan panjang FRKP yang selama ini lebih banyak terlihat melalui kegiatan di lapangan kemudian dituangkan dalam sebuah karya yang mendokumentasikan berbagai pengalaman, perjumpaan, persaudaraan dan pengabdian para relawan.
Buku tersebut bukan sekadar catatan administratif perjalanan organisasi, tetapi menjadi upaya untuk menyimpan ingatan tentang orang-orang yang pernah terlibat, masyarakat yang pernah dibantu, berbagai kegiatan yang pernah dilakukan dan semangat kemanusiaan yang terus dipelihara dari tahun ke tahun.
Wagub: Bruder Stephanus Sosok Bersahaja
Wakil Gubernur Kalimantan Barat Krisantus Kurniawan memberikan apresiasi terhadap perjalanan pelayanan Bruder Stephanus yang selama ini tidak hanya berkaitan dengan kehidupan keagamaan, tetapi juga menyentuh berbagai persoalan kemanusiaan di tengah masyarakat.
Krisantus menilai Bruder Stephanus merupakan sosok yang bersahaja dan mampu membangun pelayanan yang melampaui batas-batas perbedaan.
“Bruder Stephanus adalah sosok yang sangat bersahaja dan menjadi teladan bagi kita semua. Karya-karya kemanusiaan yang dilakukan melalui FRKP telah dirasakan manfaatnya oleh masyarakat Kalimantan Barat, tanpa membedakan latar belakang suku maupun agama,” ungkap Krisantus.
Menurutnya, semangat pelayanan seperti yang ditunjukkan Bruder Stephanus memiliki arti penting bagi Kalimantan Barat yang memiliki keberagaman suku, agama dan budaya.
“Semangat ini sejalan dengan karakter Kalimantan Barat sebagai daerah yang menjunjung tinggi toleransi dan keberagaman,” tambahnya.
Krisantus juga mendoakan agar Bruder Stephanus yang memasuki usia ke-64 tahun senantiasa diberikan kesehatan, kebijaksanaan dan keteguhan hati untuk terus menjalankan panggilan pelayanan.
“Semoga Tuhan senantiasa menyertai setiap langkah dan karya pelayanan Bruder Stephanus, sehingga terus menjadi berkat bagi banyak orang,” katanya.
Heri Saman: Perjalanan yang Dibangun Bersama
Ketua Ikatahn Cendikiawan Dayak Nasional (ICDN) Kalimantan Barat, Heri Saman yang juga hadir dalam perayaan tersebut turut menjadi bagian dari perjalanan kebersamaan yang selama ini dibangun Bruder Stephanus bersama berbagai elemen masyarakat.
Kehadiran Heri bersama para tokoh daerah, tokoh adat, cendekiawan dan masyarakat memperlihatkan bahwa FRKP tumbuh bukan hanya sebagai sebuah organisasi relawan, tetapi juga sebagai ruang perjumpaan berbagai kelompok masyarakat yang dipersatukan oleh kepedulian terhadap sesama.
Menurut Heri, konsistensi Bruder Stephanus dalam membantu masyarakat tanpa membedakan latar belakang suku, agama maupun budaya telah menghadirkan gambaran positif tentang peran Gereja Katolik di tengah kehidupan masyarakat Kalbar.
“Kami sangat mengapresiasi karya-karya kemanusiaan yang dilakukan Bruder Stephanus bersama FRKP. Pelayanan yang dilakukan secara nyata kepada masyarakat, tanpa melihat perbedaan suku, agama dan latar belakang, tentu memberikan citra positif Gereja Katolik di tengah masyarakat,” ujar Heri.
Menurut Heri, kerja-kerja kemanusiaan seperti yang dilakukan FRKP memiliki arti penting bagi Kalimantan Barat yang dikenal sebagai daerah dengan keberagaman masyarakat.
Pelayanan yang diberikan kepada mereka yang membutuhkan, kata dia, menjadi ruang perjumpaan yang memperkuat persaudaraan dan kepedulian sosial.
“Kemanusiaan menjadi titik temu kita. Ketika seseorang hadir membantu orang lain yang sedang membutuhkan, yang dilihat bukan lagi perbedaan agama, suku atau latar belakang, tetapi kebutuhan dan martabat manusia itu sendiri,” katanya.
Kehadiran berbagai tokoh dalam peluncuran buku tersebut juga menjadi bagian penting dari perjalanan FRKP, karena sebuah gerakan kemanusiaan tidak pernah lahir dari satu orang saja, melainkan dari banyak orang yang bersedia menyumbangkan waktu, tenaga, pikiran dan kepedulian.
21 Tahun FRKP, Kemanusiaan yang Terus Bergerak
Dua puluh satu tahun bukan perjalanan yang pendek. Di dalamnya terdapat banyak cerita tentang orang-orang yang datang membawa kepedulian, relawan yang bekerja tanpa banyak bicara, masyarakat yang membutuhkan pertolongan, serta berbagai peristiwa yang mempertemukan manusia dengan manusia lainnya dalam situasi yang terkadang tidak mudah.
FRKP hadir sebagai wadah yang mempertemukan mereka. Semangatnya sederhana, yakni hadir ketika masyarakat membutuhkan dan membantu sesuai dengan kemampuan yang dimiliki, tanpa terlebih dahulu melihat apa suku, agama, latar belakang sosial maupun identitas orang yang dibantu.
Semangat tersebut pula yang membuat perjalanan FRKP West Borneo Vespa Lovers menjadi bagian menarik dari rangkaian perayaan malam itu.
Memasuki usia delapan tahun, FRKP West Borneo Vespa Lovers bukan hanya menjadi ruang berkumpul para pencinta Vespa, tetapi juga berkembang sebagai komunitas yang membawa semangat persaudaraan dan kepedulian sosial dalam berbagai aktivitasnya.
Dengan demikian, tiga momentum yang dirayakan malam itu memiliki hubungan yang kuat.
64 tahun Bruder Stephanus adalah perjalanan panggilan pribadi. 21 tahun FRKP adalah perjalanan gerakan kemanusiaan. Delapan tahun FRKP West Borneo Vespa Lovers adalah perjalanan persaudaraan komunitas.
Ketiganya bertemu dalam satu nilai yang sama, yaitu kepedulian terhadap sesama.
Sebuah Buku untuk Menjaga Ingatan
Peluncuran buku “21 Tahun FRKP Berkarya” kemudian menjadi penanda penting dalam perjalanan tersebut.
Apa yang selama ini dilakukan para relawan di lapangan akhirnya tidak hanya menjadi cerita dari mulut ke mulut, tetapi mulai dihimpun menjadi catatan yang dapat dibaca dan dikenang oleh generasi berikutnya.
Sebab, sebuah gerakan kemanusiaan tidak hanya membutuhkan orang-orang yang mau bergerak, tetapi juga membutuhkan ingatan agar nilai dan pengalaman yang telah dibangun tidak hilang begitu saja.
Buku itu menjadi semacam jembatan antara masa lalu, masa kini dan masa depan FRKP.
Di dalamnya ada perjalanan yang telah dilalui, sementara di luarnya masih terbentang pekerjaan kemanusiaan yang belum selesai.
Karena itu, peluncuran buku bukan menjadi tanda bahwa perjalanan FRKP telah selesai, tetapi justru menjadi momentum untuk melihat kembali apa yang telah dilakukan dan kemudian melanjutkan langkah dengan semangat yang lebih kuat.
Bukan Sekadar Perayaan Ulang Tahun
Malam itu akhirnya bukan sekadar perayaan ulang tahun Bruder Stephanus, bukan pula hanya peringatan ulang tahun sebuah organisasi dan komunitas.
Ada doa, ada refleksi, ada perjumpaan, ada penghormatan kepada perjalanan masa lalu dan ada harapan untuk perjalanan ke depan.
Pesan Mgr Samuel tentang iman yang harus menjadi kehidupan bertemu dengan semangat kemanusiaan FRKP. Apresiasi Wagub Krisantus terhadap Bruder Stephanus bertemu dengan dukungan para tokoh dan masyarakat. Sementara buku yang diluncurkan menjadi pengikat seluruh cerita tersebut dalam sebuah catatan perjalanan.
Bagi Bruder Stephanus sendiri, semua itu kembali kepada satu hal yang sederhana, tetap diberi kesehatan dan kesetiaan untuk melayani.
Ia tidak banyak berbicara tentang dirinya. Ia justru mengarahkan perhatian kepada Tuhan, kepada sesama dan kepada mereka yang masih membutuhkan pertolongan.
Dari sanalah perjalanan 64 tahun Bruder Stephanus, 21 tahun FRKP dan delapan tahun FRKP West Borneo Vespa Lovers menemukan satu titik temu.
Bukan tentang berapa lama sebuah perjalanan telah berlangsung, melainkan tentang berapa banyak persaudaraan yang telah dibangun, berapa banyak kepedulian yang telah diberikan dan seberapa jauh semangat kemanusiaan dapat terus diwariskan.
Dari Pontianak, perjalanan itu terus berlanjut: merawat persaudaraan, menjaga kepedulian dan hadir bagi sesama tanpa sekat. (*)