Oleh: Ahmad Jais / Dosen IAIN Pontianak, Kalimantan Barat. Founder & Master Trainer, Mind Healing Technique of Indonesia | [email protected] | www.mhtindonesia.com
"Manusia itu ada dua: saudaramu dalam agama, atau sesamamu dalam penciptaan." (Ali bin Abi Thalib ra, dalam pesannya kepada Malik al-Asytar, Nahjul Balaghah, abad ke-7 M)
Menjelang Hari Kesaktian Pancasila, kita cenderung mengenang ujian besar di masa lalu. Namun hari ini Pancasila juga diuji setiap hari, dan bukan di lapangan upacara, melainkan di layar kecil yang kita genggam. Satu unggahan yang menghina keyakinan orang lain menguji sila pertama.
Satu komentar perundungan menguji sila kedua. Satu video potongan yang memecah belah menguji sila ketiga. Debat kusir yang tak mau mendengar menguji sila keempat, dan penghakiman massal sebelum bukti lengkap menguji sila kelima.
Ujian ini tampak sepele karena hanya digerakkan oleh jempol, padahal justru di sanalah nilai kita ditentukan. Para nabi dan orang shaleh pun bergulat dengan ujian serupa dalam bentuk lisan yang menyebar dari mulut ke mulut.
Rasulullah saw memberi teladan tentang kemanusiaan yang tidak menunggu kesamaan keyakinan. Ketika sebuah jenazah orang Yahudi lewat, beliau berdiri menghormatinya. Para sahabat berkata, "Itu jenazah orang Yahudi." Beliau menjawab, "Bukankah ia juga jiwa?" (HR. Bukhari dan Muslim).
Kalimat pendek itu menegaskan bahwa penghormatan kepada manusia mendahului perbedaan apa pun di antara kita.
Allah Swt mengajarkan disiplin bermedia jauh sebelum ada media sosial, "Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu." (QS. Al-Hujurat: 6).
Ayat ini seperti pos pemeriksaan di gerbang jari kita: setiap kabar harus berhenti sejenak sebelum dibagikan.
Keteladanan tentang itu tampak pada peristiwa fitnah yang menimpa Aisyah ra. Ketika kabar dusta itu beredar, Rasulullah saw bertanya kepada Zainab binti Jahsy ra, madu Aisyah yang paling bisa dianggap bersaing dengannya.
Zainab menjawab, "Wahai Rasulullah, aku menjaga pendengaran dan penglihatanku. Demi Allah, aku tidak mengetahui kecuali kebaikan." (HR. Bukhari dan Muslim).
Ia menolak ikut membicarakan apa yang tak ia ketahui. Sikap itu, andai dimiliki para pengguna media sosial, akan menyelamatkan banyak nama baik dari pengadilan netizen.
Rasulullah saw merangkum standar berperilaku itu dalam sabdanya, "Seorang muslim adalah orang yang kaum muslimin selamat dari lisan dan tangannya." (HR. Bukhari dan Muslim).
Di zaman ini, tangan itu adalah jari yang mengetik. Karena itu kita perlu waspada terhadap hoaks, ujaran kebencian, ghibah, fitnah, dan namimah, yaitu penyebaran kabar untuk mengadu domba.
Semuanya lebih cepat menyebar daripada klarifikasi dan menggerus persatuan pelan-pelan, tanpa satu pun senjata.
Allah Swt memberi arah yang menenangkan, "Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku: hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar).
Sesungguhnya setan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka." (QS. Al-Isra: 53). Kesaktian Pancasila tidak akan dijaga oleh pidato semata, tetapi oleh kebiasaan kecil: memeriksa sebelum membagikan, menahan diri sebelum membalas, menyapa sebelum menghakimi.
Jadilah seperti bendungan yang menyaring air deras sebelum dialirkan ke sawah, dan seperti pelita yang menerangi tanpa membakar tangan orang lain. Setiap unggahan dan komentar kita kelak menjadi saksi di hadapan Allah Swt, apakah ia merajut persaudaraan atau merobeknya.
Ya Allah, jagalah jari-jemari dan lisan kami dari menjadi perantara fitnah dan perpecahan, tanamkan dalam hati kami adab bermedia yang menyatukan, dan lindungilah bangsa kami dari retaknya persaudaraan di ruang nyata maupun maya. Amin. (*)