Oleh: Ahmad Jais / Dosen IAIN Pontianak, Kalimantan Barat / Founder & Master Trainer, Mind Healing Technique of Indonesia | [email protected] | www.mhtindonesia.com
"Al-Islam Mahjubun bil muslimin- " Islam itu justru terhalang oleh (perilaku) kaum muslimin sendiri " (Muhammad Abduh, 1849-1905 M)
Ada satu kegelisahan yang jarang diucapkan, namun kerap dirasakan oleh banyak generasi muda yang menempuh pendidikan agama secara mendalam: semakin luas wawasan yang diperoleh, semakin sempit pula ruang yang tersedia untuk mengekspresikannya di tengah struktur organisasi keagamaan.
Seseorang yang dibesarkan dalam tradisi pesantren salafiyah, kemudian menempuh pendidikan tinggi dengan kurikulum yang mengajarkan lintas iman secara terbuka, mempelajari berbagai mazhab, tradisi spiritual, bahkan keyakinan di luar Islam sekalipun, pada akhirnya sering mendapati dirinya berada dalam posisi yang janggal.
Ilmu yang ia peroleh mengajarkannya untuk berpikir kritis, memahami dalil sebagai dasar berargumen, bukan sekadar doktrin yang harus ditelan mentah-mentah.
Namun ketika ia masuk ke dalam struktur organisasi, ia mendapati bahwa keluasan berpikir yang telah ditempanya justru harus dikerdilkan kembali menjadi kepatuhan struktural: bertanya boleh, namun mempertanyakan kebijakan tidak selalu direspons dengan jawaban yang jelas, apalagi ketika kebijakan itu bersinggungan dengan kebutuhan riil masyarakat yang majemuk.
Fenomena keterjepitan semacam ini sesungguhnya bukan hal baru dalam sejarah keilmuan Islam. Rasulullah saw sendiri sangat menghargai proses berpikir para sahabatnya, bahkan ketika hasil ijtihad mereka berbeda dengan pemahaman umum.
Diriwayatkan bahwa ketika Nabi memerintahkan sahabatnya agar tidak shalat Ashar kecuali di perkampungan Bani Quraizhah, sebagian memahami secara harfiah dan menunda shalat, sementara sebagian lain memahami secara maknawi dan tetap shalat tepat waktu.
Ketika hal ini disampaikan kepada Nabi, beliau tidak menyalahkan kedua kelompok tersebut (HR. Bukhari dan Muslim).
Hadis ini merupakan sebuah teladan bahwa ruang berpikir dan berijtihad adalah sesuatu yang dihormati dalam Islam, bukan sesuatu yang harus dipenjarakan dalam satu tafsir tunggal.
"Katakanlah: Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui? Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran" (QS. Az-Zumar: 9).
Ayat ini bagai cahaya yang menerangi jalan seorang pencari ilmu, menegaskan bahwa Islam sendiri memuliakan proses berpikir dan mengetahui, bukan sekadar mengikuti tanpa memahami sebagaimana pohon yang tumbuh subur bukan karena akarnya dipaksa lurus ke satu arah, melainkan karena diberi ruang mencari sumber air ke berbagai penjuru tanah.
Dikisahkan tentang Imam Malik bin Anas rahimahullah, pendiri mazhab Maliki, yang ketika ditanya oleh Khalifah Harun Ar-Rasyid untuk menjadikan kitab Al-Muwaththa' karyanya sebagai satu-satunya rujukan hukum yang wajib diikuti seluruh wilayah kekhalifahan, beliau menolak dengan bijak.
Imam Malik berkata, "Wahai Amirul Mukminin, para sahabat Rasulullah telah berpencar ke berbagai negeri dan masing-masing membawa ilmu yang mereka pahami. Setiap kaum telah memiliki apa yang mereka yakini kebenarannya, maka biarkanlah mereka dengan apa yang telah mereka pilih."
Perkataan ini menjadi teladan luar biasa dari seorang ulama besar yang justru menolak keseragaman paksa, meski ia memiliki otoritas keilmuan yang sangat besar untuk memaksakannya.
Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah, murid sekaligus penerus semangat keilmuan ini, pernah berkata, "Janganlah engkau taklid kepadaku, jangan pula taklid kepada Malik, Asy-Syafi'i, atau Al-Auza'i, tetapi ambillah dari sumber yang mereka ambil."
Kata hikmah ini merupakan sebuah pesan yang menegaskan bahwa loyalitas sejati bukanlah kepada sosok atau golongan tertentu, melainkan kepada sumber kebenaran itu sendiri, yaitu Al-Qur'an dan Sunnah yang terbuka untuk dipahami secara beragam.
Di era digital saat ini, dilema serupa justru semakin terasa. Media sosial memperlihatkan betapa mudahnya sebuah organisasi keagamaan menjustifikasi kebijakan internalnya sebagai kebenaran mutlak, sementara ruang dialektika dan pertanyaan kritis sering dianggap sebagai ancaman terhadap soliditas kelompok.
Rasulullah saw mengingatkan, "Agama adalah nasihat." Para sahabat bertanya, "Untuk siapa wahai Rasulullah?" Beliau menjawab, "Untuk Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, para pemimpin kaum muslimin, dan seluruh umat Islam" (HR. Muslim).
Hadits ini menegaskan bahwa nasihat dan kritik yang membangun, termasuk kepada struktur organisasi, adalah bagian dari agama itu sendiri, bukan bentuk pembangkangan.
Hendaknya dijauhi sikap menutup pintu ijtihad; taqlid buta yang membuat seseorang atau organisasi merasa paling benar sendiri tanpa membuka ruang dialog, sebab sikap semacam ini bertentangan dengan semangat keilmuan yang justru diwariskan oleh para imam mazhab sendiri.
Allah berfirman, "Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama" (QS. Al-Baqarah: 256).
Ayat ini meski konteksnya membahas keimanan secara umum, mengandung prinsip universal bahwa pemaksaan bukanlah cara Islam dalam membimbing hati manusia, termasuk dalam ranah furu'iyyah dan pilihan berorganisasi. Inilah solusi yang diajarkan: memberi ruang bagi setiap hamba untuk memilih jalan ijtihadnya masing-masing, selama tetap berpijak pada dalil yang sahih.
Sebagaimana burung yang diciptakan dengan sayap untuk terbang bebas menjelajahi langit luas, bukan untuk dikurung dalam sangkar sekecil apa pun, begitu pula akal dan ilmu yang telah Allah karuniakan seharusnya membawa manusia pada kebenaran yang lebih luas, bukan pada sangkar ideologi yang menyempitkan pandangannya.
Kelak setiap struktur yang membungkam ruang berpikir dan ijtihad yang sah, akan menjadi sesuatu yang dipertanggungjawabkan di hadapan Allah, sebagaimana setiap ilmu yang disembunyikan atau dipaksakan tanpa dalil yang jelas.
Ya Allah, berikanlah kami kelapangan hati untuk menerima keragaman pemahaman sesama saudara seiman. Jauhkanlah kami dari sikap memenjarakan akal dalam sangkar golongan, dan bimbinglah kami untuk senantiasa berpegang pada kebenaran-Mu yang jauh lebih luas dari sekat ideologi mana pun. Amin. (*)